Senin, 21 April 2014

Hukum Menyetubuhi Istri Lewat Dubur


Soal: Assalamu'alaikum, punten saya mau tanya, memang dalam al-quran menyebutkan bahwa " istrimu adalah ladangmu, maka tanamilah sesuka hatimu dengan cara apapun". Lalu apakah diperbolehkan seorang suami yang menggauli istrinya dengan jalan belakang?

(Pertanyaan dari: Kamelia)
Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Dalam satu hadits diriwayatkan;

كَانَتْ الْيَهُودُ تَقُولُ إِذَا أَتَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا كَانَ الْوَلَدُ أَحْوَلَ فَنَزَلَتْ : نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

"Orang-orang yahudi mengatakan; Jika seorang lelaki menyetubuhi isterinya pada kemaluannya dari arah belakang, maka anak tersebut akan terlahir dalam keadaan cacat matanya (juling). Lalu turunlah ayat: “Isteri-isteri kalian adalah tempat bercocok tanam bagi kalian, maka datangilah tempat bercocok tanam kalian dari mana saja kalian kehendaki." (Shahih Bukhari, no.4164 dan Shahih Muslim, no.2592)
 
Imam Nawawi menjelaskan; Allah ta'la brerfirman:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

“Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (QS. Al Baqarah: 223).

Para ulama' menyatakan bahwa yang dimaksud ladang (tempat bercocok tanam) pada wanita adalah kemaluannya yaitu tempat mani bersemai untuk mendapatkan keturunan. Ini adalah dalil bolehnya menyetubuhi istri pada kemaluannya, terserah dari arah depan, belakang atau istri dibalikkan. Sedangkan dubur bukanlah ladang dan bukan tempat bercocok tanam.

Para ulama' juga telah sepakat mengenai keharaman menggauli seorang wanita melalui duburnya, baik wanita tersebut dalam keadaan haid atau suci, berdasarkan beberapa hadits yang jumlahnya sangat banyak dan sudah masyhur, seperti hadits;

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا

"Terlaknat orang yang menyetubuhi istrinya dari duburnya." (Sunan Abu Dawud, no.1847).

Imam Ibnu hajar Al-haitami dalam kitab Az-Zawajir menyatakan bahwa menyetubuhi wanita lewat dubur termasuk dosa besar, berdasarkan beberapa hadits, diantaranyan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا

"Allah azza wa jalla tidak akan melihat seorang lelaki yang menyetubuhi lelaki lain (homoseksual) atau (menyetubuhi) wanita dari duburnya." (Sunan Turmudzi dan no.1086, Sunan Ibnu Majah, no.1913)

Dari penjelasan diatas dapatdisimpulkan bahwa hukum menyetubuhi istri lewat dubur hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Wallahu a'lam

(Dijawab oleh: Irvan Majeda, Syfa Shafia, Zidna Zidan Nafi'a, Aby Zidan Abrory

Referensi:
1. Syarah Muslim Lin Nawawi, juz 10 hal. 6)

(باب جواز جماعه امرأته في قبلها من قدامها ومن ورائها)
قول جابر (كانت اليهود تقول إذا أتى الرجل امرأته  من دبرها في قبلها كان الولد أحول  فنزلت  نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم) وفي رواية إن شاء مجبية وإن شاء غير مجبية  غير أن ذلك في صمام واحد المجبية بميم مضمومة ثم جيم مفتوحة  ثم باء موحدة  مشددة مكسورة  ثم ياء مثناة  من تحت أي مكبوبة على وجهها والصمام بكسر الصاد أي ثقب واحد والمراد به القبل قال العلماء وقوله تعالى فأتوا حرثكم أنى شئتم أي موضع الزرع من المرأة وهو قبلها الذي يزرع فيه المني لابتغاء الولد ففيه إباحة وطئها في قبلها إن شاء من بين يديها وإن شاء من ورائها وإن شاء مكبوبة  وأما الدبر  فليس هو بحرث  ولا موضع زرع ومعنى قوله أنى شئتم أي كيف شئتم. واتفق العلماء  الذين يعتد بهم  على تحريم وطء المرأة في دبرها حائضا كانت أو طاهرا لأحاديث كثيرة مشهورة كحديث ملعون من أتى امرأة في دبرها.

2. Az-Zawajir an Iqtirofil Kaba’ir, juz 2 hal. 46

(الكبيرة الخامسة والستون بعد المائة: إتيان الزوجة أو السرية في دبرها)  أخرج الترمذي والنسائي وابن حبان في صحيحه عن ابن عباس - رضي الله عنهما - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: «لا ينظر الله عز وجل إلى رجل أتى رجلا أو امرأة في دبرها

Jumat, 18 April 2014

Kewajiban Zakat Profesi, Nishob Dan Kadarnya


Soal: Assalamu'alaikum, Apakah zakat profesi itu ada ? berapa nishobnya ? dan berapa kadar yang harus dikeluarkan ?

(Pertanyaan dari: Dhandie Permana dan Thevoice Izhyy)

Jawab: Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh

1. Dasar Hukum
Upah/gaji yang diterima oleh seseorang yang menjual jasanya wajib dizakati berdasarkan beberapa keterangan dalam kitab fiqih klasik, diantaranya;

1. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan; “Siapapun yang mempekerjakan dirinya atau orang lain dengan upah harta dengan tujuan berdagang, maka jadilah harta perdagangan. Dan wajib mengeluarkan zakat.
   
2. Syekh Abu Bakar Al-Hishni dalam kitab Kifayatul Akhyar menjelaskan; “Jika seseorang memperkerjakan dirinya atau hartanya dengan tujuan upah hasil kerjanya untuk dijadikan harta perdagangan, maka jadilah harta perdagangan, karena persewaan adalah mu’awadloh (tukar-menukar)”.

3. Syekh Mahfudh At-Tarmasi dalam kitab Mauhibah Dzil Fadhl atau yang biasa disebut Hasyiyah at-Tarmasi menjelaskan; “ (Ungkapan Penulis: “Dan menyewakan diri atau hartanya.”) Yakni jika seseorang menyewakan dirinya dengan suatu imbalan dengan maksud tijarah, maka imbalan tersebut menjadi harta tijarah. Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfahul Muhtaj mengatakan: “Harta itu terbagi 2 (dua) macam; benda dan manfaat. Jika seseorang menyewakannya, maka jika upahnya berupa mata uang kontan atau dengan dihutang langsung atau bertempo, maka padanya berlaku perincian hukum. Atau berupa barang, maka jika ia menghabiskannya atau berniat menyimpannya, maka tidak ada kewajiban zakatnya. Dan jika meniati tijarah padanya, maka zakat tijarah terus berlaku padanya, dan ini berlangsung setiap tahun.”

2.Nishob
Nishob zakat profesi sama dengan nishob zakat perdagangan (tijaroh), jika kita menghitung dengan emas, maka nishobnya adalah jika upah yang diterima senilai dengan emas murni 84 gram.

3. Kadar Zakat
Kadar zakat profesi yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 %

Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Inta Nur Azizah, Kudung Khantil Harsandi Muhammad, dan Siroj Munir)

Referensi:
1. Al-Majmu’, juz 5 hal. 49

ﻭﻣﻦ ﺃﺟﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﺃﻭ ﺷﺨﺼﺎ ﺃﺧﺮ ﺑﻌﻮﺽ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺮﻭﺽ ﺑﻘﺼﺪ ﺍﻟﺘﺠﺎﺭﺓ ﺻﺎﺭ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻌﺮﺽ ﻣﺎﻝ ﺗﺠﺎﺭﺓ ﻓﺘﺠﺐ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ.

2. Kifayatul Akhyar, juz 1 hal. 174

ولو أجر الشخص ماله أو نفسه وقصد بالأجرة إذا كانت عرضا للتجارة تصير مال تجارة لأن الاجارة معاوضة.

3. Hasyiyah at-Tarmasi, juz 4 hal. 31

(قوله والإجارة لنفسه أو ماله) أي فإذا آجر نفسه بعوض بقصد التجارة صار ذلك العوض مال تجارة قال في التحفة والمال ينقسم إلى عين ومنفعة وإن آجرها فإن كانت الأجرة نقدا عينا أو دينا حالا أو مؤجلا تأتي فيه ما يأتي أي من التفصيل أو عرضا فإن استهلكه أو نوى قنيته فلا زكاة وإن نوى التجارة فيه استمرت زكاة التجارة وهذا في كل عام.

4. At-taqrirot as-Sadidah, hal. 415

نصاب زكاة التجارة : هو نصاب النقد الذي اشتريت به العروض. ففي الذهب ما يعادل ٨٤ غرام -إلى أن قال- الواجب فيها : ربع عشر القيمة أي : إثنان ونصف بالمئة,٥،٢ %

Kamis, 17 April 2014

Download Kitab Ittihafus Sadah Al-Muttaqin Syarah Ihya' Ulumiddin - Azzabidi


Judul Kitab : Ittihafus Sadah Al-Muttaqin Syarah Ihya' Ulumiddin

Penulis : Murtadho Az-Zabidi

Penerbit : Al-Maimuniyah, Mesir

Cetakan : -

Tahun : 1311 H.

Link Download : Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8  Juz 9  Juz 10









Download Kitab Ihya' Ulumiddin - Al-Ghozali

Judul Kitab : Ihya' Ulumiddin

Penulis, Abu Hamid, Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali

Tahqiq : Dr. Badawi Thobanah

Penerbit : Thoha Putra, Semarang - Indonesia (Tashwir: Isa Al-Halabi, Mesir)

Cetakan : -

Tahun : -

Link Download : Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz4



Minggu, 13 April 2014

Hukum Bermakmum Pada Wanita Yang Sedang Istihadhoh


Soal: Assalaamu'alaikum, mau tanya dulur.. Sahkah sholat seorang wanita yang makmum kepada wanita lain yang dalam keadaan istihadzoh? terimakasih sebelumnya.

(Pertanyaan dari: Laa Ilaaha Illallaah)

Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullah wabaraktuh
Imam Nawawi dalam kitab Roudlotut Tholibin dan Minhajut Tholibin menjelaskan bahwa menurut pendapat yang ashoh dalam madzhab Syafi'i, orang yang dalam keadaan sehat (tidak sedang mengeluarkan darah istihadhoh) diperbolehkan bermakmum kepada wanita yang sdang mengeluarkan darah istihadhoh, dan sholatnya dihukumi sah.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfatul Muhtaj menjelaskan bahwa alasan sahnya sholat yang dikerjakan tersebut adalah karena sholat yang dikerjakan oleh makmum dihukumi sah dan sholat yang dikerjakan oleh imam juga sah, jadi tak ada alasan untuk menyatakan bahwa sholatnya tidak sah. Sedangkan jika yang menjadi makmum sama-sama sedang istihadhoh maka tak diperselisihkan lagi mengenai sahnya sholat tersebut.

Kesimpulannya, diperbolehkan bermakmum pada wanita yang mengeluarkan darah istihadhoh, dan sholatnya dihukumi sah. Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Ubaid Bin Aziz Hasanan)

Referensi:
1. Roudlotut Tholibin, juz 1 hal. 351

ويجوز اقتداء السليم بسلس البول، والطاهرة بالمستحاضة غير المتحيرة على الأصح

2. Tuhfatul Muhtaj, juz 2 hal. 289

والأصح صحة قدوة) نحو (السليم بالسلس) أي سلس البول ونحوه ممن لا تلزمه إعادة (، والطاهر بالمستحاضة غير المتحيرة) لكمال صلاتهما أيضا، وكونها للضرورة لا ينافي كمالها وإلا لوجبت إعادتها أما قدوة مثلهما بهما فصحيحة جزما

Status Nifas Kelahiran Bayi Kembar


Soal; Assalamualaikum, mau tanya masalah bayi kembar. Semisal ada wanita yang melahirkan tanggal 1 januari tidak mengeluarkan darah. Pada tanggal 8 keluar darah dan besoknya tanggal 9 dia melahirkan lagi bayi keduanya. Setelah kelahiran kedua darah keluar sampai 20 hari kedpan? Bgaimana nifasnya? Dar kelahiran pertama apa kdua ngitungnya?
(Pertanyaan dari: Intan Nur Azizah)

Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh

Dua bayi yang dilahirkan dihukumi bayi kembar apabila jarak antara bayi pertama dan kedua tidak lebih dari minimal masa hamil. Sedangkan jika jaraknya genap enam bulan atau lebih, maka tidak dinamakan bayi kembar.

Sedagkan mengenai status darah nifasnya, Imam Nawawi dalam kitab Raudloh-nya menyebutkan bahwasanya darah yang keluar diantara dua kelahiran yang dihukumi kembar, ini hukumnya diperselisihkan;

1. Pendapat Ashoh menyatakan bahwa darah tersebut bukan darah nifas,
2. Pendapat muqobil Ashoh menyatakan darah tersebut hukumnya adalah darah nifas.

Karena itu, mengacu pada pendapat ashoh (lebih shahih) yang mengatakan bahwa darah bukan darah nifas, maka darah yang keluar diantara dua kelahiran anak kembar ini hukumnya sama dengan darah yang keluar dimasa kehamilan. Yakni, bisa dihukumi haid bila sudah memenuhi persyaratan, dan dihukumi darah fasad/istihadhoh jika tidak memenuhi persyaratannya darah haid. Ketentuan hukum ini didasarkan pada pendapat madzhab Syafi'i yang menyatakan bahwa wanita hamil masih dimungkinkan mengeluarkan darah haid.

Jadi, darah yang keluar diantara 2 kelahiran tersebut dihukumi haid bila sudah memenuhi persyaratan darah haid
dan dihukumi darah istihadhoh jika tidak memenuhi persyaratannya darah haid. Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Kudung Khantil Harsandi Muhammad)

Referensi:
1. Hasyiyah Al-Jamal 'ala Syarah Al-Manhaj, juz 4 hal. 446

(قوله حتى ثاني توأمين) –إلى أن قال- وكذا ثالث حيث كان بينه وبين الأول دون ستة أشهر وإلا فلا تتوقف العدة عليه وإن تبع التوأم الثاني اهـ ق ل على الجلال. وفي سم ما نصه قال في الروض وشرحه وإن كان الحمل أي ما ولدته ثلاثة انقضت عدتها بالثالث إذا كان بينه وبين الأول دون ستة أشهر ولحقوه أي الثلاثة وإن كان بين الأول والثالث ستة أشهر فأكثر وبين الثاني والأول دونها لحقاه دون الثالث وإن كان بينه وبين الثاني دون ستة أشهر كما صرح به الأصل وانقضت عدتها بالثاني وإن كان بين الثاني والأول ستة أشهر فأكثر وبين الثاني والثالث دونها لم يلحقاه وكذا إن كان بين كل منهم وتاليه ستة أشهر. وقال م ر لا يشترط في لحوق ما بعد الأول أن يكون بينه وبين الأول أربع سنين فأقل بل يجوز أن يكون بينهما أكثر من أربع سنين لأنه حينئذ بمنـزلة الولد الواحد إذا نزل أجزاء متفاصلة وكان بين آخر أجزائه وأول المدة أكثر من أربع سنين فإن ذلك لا يضر لأن الشرط أن يكون أكثر مدة الحمل تنتهي أول الأجزاء . اهـ مر اهـ سم .

2. Roudlotut Tholibin, juz 1 hal. 65

في الدم الذي تراه بين التوأمين وجهان أصحهما ليس بنفاس والثاني نفاس فإن قلنا ليس بنفاس فقال الأكثرون يبنى على دم الحامل فإن جعلناه حيضا فهذا أولى وإلا فقولان وفي كلام بعض الأصحاب ما يقتضي كونه دم فساد مع قولنا الحامل تحيض وإذا قلنا هو نفاس فما بعد الولد الثاني معه نفاس واحد أم نفاسان وجهان الأصح نفاسان ولا تبالي مجاوزة الدم ستين من الولادة الأولى الثاني نفاس واحد فعلى هذا إذا زاد الدم على ستين من الولد الأول فهي مستحاضة قال الصيدلاني موضع الوجهين إذا كانت المدة المتخللة بين الدمين دون الستين فإن بلغت ستين فالثاني نفاس آخر قطعا وقال الشيخ أبو محمد لا فرق قلت الأصح قول الصيدلاني ولم يحكه الإمام الرافعي على وجهه قال إمام الحرمين قال الصيدلاني اتفق أئمتنا في هذه الصورة أنها تستأنف بعد الولد الثاني نفاسا إذا كان بينهما ستون واختار إمام الحرمين هذا وضعف قول والده أبي محمد والله أعلم.

3. Hasyiyah Al-Jamal 'ala Syarah Al-Manhaj, juz 2 hal. 356

( قوله : بعد فراغ الرحم ) أي عقبه من الحمل ولو علقة أو مضغة قال القوابل فيها خلق آدمي أي وقبل مضي خمسة عشر يوما من نحو الولادة فما بين التوأمين حيض في وقته أو دم فساد في غيره وكذا ما يخرج مع الولد ا هـ برماوي وع ش على م ر .

4. Syarah Al-Wajiz, juz 2 hal. 582-584

فاما الدم بين التوأمين فنفاس علي أصح الوجهين وقيل أنه كدم الحامل فان قلنا أنه نفاس فما بعد الثاني معه نفاسان على وجه ونفاس واحد علي وجه وقيل إن تمادى الاول ستين يوما فنفاسان والا فنفاس واحد * في الدم الذى تراه المرأة بين التوأمين وجهان أحدهما أنه ليس بنفاس لانه دم خرج قبل فراغ الرحم فأشبه دم الحامل والثاني ويحكي عن صاحب التلخيص أنه نفاس لانه خرج عقيب خروج نفس وجعل صاحب الكتاب هذا الوجه اصح اقتداء بامام الحرمين لكن الاصح عن الشيخ أبى حامد وأصحابنا العراقيين انما هو الاول وتابعهم عليه صاحب التهذيب فان قلنا ليس بنفاس فقال الاكثرون إنه ينبنى علي دم الحامل ان جعلناه حيضا فهو أولي والا ففيه قولان والفرق أنها إذا وضعت احدى التوأمين كان استرخاء الدم قريبا بخلاف ما قبل الولادة فان فم الرحم منسد حينئذ وهذا هو الذى ذكره في الكتاب حيث قال وقيل انه كدم الحامل وهو الوجه الثاني من قوله على أصح الوجهين وليعلم بالحاء والالف لان عندهما هو نفاس ويحكي مثل ذلك عن مالك وفى كلام بعض الاصحاب ما يقتضى كونه دم فساد وان قلنا الحامل تحيض كالدم الذى يظهر عند الطلق واما إذا فرعنا على انه نفاس فهل يعد الثاني معه نفاس واحد أو نفاسان فيه وجهان اظهرهما نفاسان لانفصال كل واحدة من الولادتين عن الاخرى فعلي وعلي هذا لا يبالى بمجاوزة الدم الستين من الولادة الاولي والثاني هما نفاس واحد لانهما في حكم الولد الواحد ألا ترى ان العدة لا تنقضي بوضع احدهما فعلي هذا إذا زاد الدم علي ستين من الولادة الاولى فهي مستحاضة واختلفوا في موضع الوجهين قال الصيدلاني موضعهما ما إذا كانت المدة المتخللة بين الدمين دون الستين أما لو بلغت الستين فهو نفاس آخر لا محالة

Download Kitab At-Tahqiq - Imam Nawawi


Judul Kitab : At-tahqiq

Penulis : Imam Abu Zakariya, Yahya bin Syarof An-Nawawi Asy-Stafi'i

Tahqiq : Syekh Adil Abdul Maujud - Syekh Ali Mu'awwidh

Penerbit : Darul Jil, Beirut - Lebanon

Cetakan : Pertama

Tahun Terbit : 1992

Link Download : Klik disini

Keterangan : Para ulama' madzhab Syafi'i telah menetapkan bahwa diantara semua kitab karya Imam Nawawi, Kitab "At-Tahqiq" merupakan kitab yang menempati urutan teratas dimana terdapat perselisihan diantara pendapat-pendapat Imam Nawawi dalam kitab-kitab yang beliau tulis, maka pendapat yang didahulukan adalah pendapat yang tercantum dalam kitab "At-Tahqiq".

Posting Lama