Kamis, 24 April 2014

Terjemah Kitab Umdatul Ahkam » Kitab Thaharah » Bab Siwak


BAB SIWAK

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - عَنْ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاةٍ

1 - “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sekiranya tidak menyusahkan atas umatku, niscaya akan aku suruh mereka untuk bersiwak pada setiap (akan) shalat.” (Shahih Bukhari, no.216 dan Shahih Muslim, no.292)

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رضي الله عنهما قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

2 - “Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apabila bangun pada malam hari (untuk bertahajjud), maka beliau menggosok mulutnya dengan siwak.” (Shahih Bukhari, no.889, 1136 dan Shahih Muslim, no.255)

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ - رضي الله عنه - عَلَى النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَنَا مُسْنِدَتُهُ إلَى صَدْرِي , وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ فَأَبَدَّهُ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - بَصَرَهُ. فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضَمْتُهُ , فَطَيَّبْتُهُ , ثُمَّ دَفَعْتُهُ إلَى النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - فَاسْتَنَّ بِهِ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - اسْتَنَّ اسْتِنَانًا أَحْسَنَ مِنْهُ , فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: رَفَعَ يَدَهُ - أَوْ إصْبَعَهُ - ثُمَّ قَالَ: فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى - ثَلاثاً - ثُمَّ قَضَى. وَكَانَتْ تَقُولُ: مَاتَ بَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي

وَفِي لَفْظٍ: فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إلَيْهِ , وَعَرَفْتُ: أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ فَقُلْتُ: آخُذُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ: أَنْ نَعَمْ. هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ وَلِمُسْلِمٍ نَحْوُهُ

3 - “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata; Abdurrahman bin Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallalahu ‘anhuma datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau  bersandar di dadaku, ia datang sambil membawa kayu siwak basah yang biasa dia pakai. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun melihat kepadanya. Kemudian aku mengambil siwak tersebut, aku kunyah (digigit agar menjadi lunak saat dipakai) dan aku bersihkan.Lalu aku memberikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun bersiwak dengannya. Aku tidak pernah melihat sebelumnya beliau bersiwak sebaik itu. Setelah selesai, beliau mengangkat tangannya, atau jarinya seraya berkata; Fi Arrafiiqul A'laa (Ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi) sebanyak tiga kali. Lalu beliau wafat. Aisyah berkata; 'Beliau wafat di antara dagu dan tenggorokanku.”

Dan dalam satu redaksi; “Kemudian aku melihat beliau melihat kepadanya. Aku tahu kalau beliau menyukai siwak. Maka aku katakan kepada beliau; 'Aku ambilkan untukmu. Beliau memberi isyarat dengan kepalanya, yang berarti “Iya”. (Shahih Bukhari, no.890, 4438, 4449)

Ini adalah redaksi Imam Bukhari, dan redaksi Imam Muslim juga seperti itu.

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ - رضي الله عنه - قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ , قَالَ: وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ , وَهُوَ يَقُولُ: أُعْ , أُعْ , وَالسِّوَاكُ فِي فِيهِ , كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ

4 - “Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; "Aku datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada saat beliau sedang menggosok gigi dengan siwak yang basah, dan ujung siwak berada dilisannya. Beliau mengeluarkan suara, "u' u'." sementara kayu siwak berada di mulutnya seolah ingin muntah.” (Shahih Bukhari, no.244 dan Shahih Muslim, no.254)

Terjemah Kitab Umdatul Ahkam » Kitab Thaharah » Bab Memasuki Tempat Buang Air Dan Istinja’


BAB MEMASUKI TEMPAT BUANG AIR DAN ISTINJA’

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه -: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إذَا دَخَلَ الْخَلاءَ قَالَ: ((اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

1 - “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: bahwasanya Nabi shallalallahu ‘alaihi wasallam ketika masuk ke dalam WC, maka beliau berdo'a: ALLOHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan).” (Shahih Bukhari, no.142, 6322 dan Shahih Muslim, no. 375)

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: إذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ , فَلا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلا بَوْلٍ , وَلا تَسْتَدْبِرُوهَا , وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا. قَالَ أَبُو أَيُّوبَ: فَقَدِمْنَا الشَّامَ , فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَدْ بُنِيَتْ نَحْوَ الْكَعْبَةِ , فَنَنْحَرِفُ عَنْهَا , وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

2 - “Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “"Jika kalian mendatangi masuk ke dalam WC, maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat saat berak dan kencing. dan jangan pula membelakanginya Tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya." Abu Ayyub berkata, "Ketika kami datang ke Syam, kami dapati WC rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami alihkan dan kami memohon ampun kepada Allah Ta'ala.” (Shahih Bukhari, no.394 dan Shahih Muslim, no.264)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنهما قَالَ: رَقِيْتُ يَوْماً عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ , فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الشَّامَ , مُسْتَدْبِرَ الْكَعْبَةَ

3 - “Dari Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Suatu hari aku pernah naik di rumah Hafshah. Maka aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam buang hajat menghadap Syam, membelakangi kiblat.” (Shahih Bukhari, no.142 dan Shahih Muslim, no.266)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - أَنَّهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَدْخُلُ الْخَلاءَ , فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلامٌ نَحْوِي إدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً , فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ

العَنَزَةُ: الحَرْبَةُ الصَغِيرَةُ. والإِداوةُ: إِناءٌ صغيرٌ منْ جلدٍ

4 - “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata; "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam buang hajat, maka aku dan seorang temanku mengikutinya dengan membawa bejana berisi air dan sebatang kayu untuk beliau gunakan berinstinja’ (Shahih Bukhari, no.152 dan Shahih Muslim, no.271)

‘Anazah adalah tongkat kecil. Sedangkan Idawah adalah wadah kecil yang terbuat dari kulit.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْحَارِثِ بْنِ رِبْعِيٍّ الأَنْصَارِيِّ - رضي الله عنه -: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: لا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلا يَتَمَسَّحْ مِنْ الْخَلاءِ بِيَمِينِهِ وَلا يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ

5 - “Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’i Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “"Janganlah salah seorang di antara kalian memegang penisnya dengan tangan kanan pada waktu kencing. Janganlah mengusap dengan tangan kanan saat buang hajat, dan janganlah bernafas di dalam bejana.” (Shahih Bukhari, no.154 dan Shahih Muslim, no.267)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - بِقَبْرَيْنِ , فَقَالَ: إنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ , وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا: فَكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ , وَأَمَّا الآخَرُ: فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً , فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ , فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ , لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

6 - “Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati dua kuburan, beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa. Dan mereka berdua disiksa bukan karena melakukan dosa besar. Salah seorang di antara mereka disiksa karena tidak memasang satir (penghalang) saat kencing sedangkan yang lainnya disiksa karena suka mengadu-domba." Kemudian beliau memngambil pelepah kurma basah, lalu membelahnya menjadi dua. Kemudian beliau menanam pada tiap kuburan satu bagian. Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, untuk apa anda melakukan itu?” Beliau menjawab: “Semoga pelepah ini bisa meringankan siksa keduanya, selama ia belum kering.” (Shahih Bukhari, no.216 dan Shahih Muslim, no.292)

Rabu, 23 April 2014

Terjemah Kitab Umdatul Ahkam » Kitab Thaharah » Bab Wudhu


KITAB THAHARAH

BAB WUDHU

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ - رضي الله عنه - قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ: إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ - وَفِي رِوَايَةٍ: بِالنِّيَّةِ - وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى , فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ , وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا , فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ النيةُ: القصدُ والعزمُ على الشيء

1 - “Dari Umar bin Al Khaththab -radhiyallahu ‘anhu- beliau berkata; aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niat-niatnya - dalam satu riwayat; tergantung niatnya-, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk memperoleh dunia atau seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya." (Shahih Bukhari, no.1, dan Shahih Muslim, no.1907)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: ((لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

2 - “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan menerima shalat yang dikerjakan oleh salah bseorang diantara kalian jika ia berhadatts sampai orang tersebut wudhu” (Shahih Bukhari, no.135, 6954 dan Shahih Muslim, no.225)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَ رضي الله عنهم قَالُوا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

3 - “Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Abu Hurairah dan A’isyah radhiyallahu ‘anhum, mereka berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “celakalah bagi tumit-tumit (yang tidak terbasuh) akan masuk neraka” (Shahih Bukhari, no.60, 165 dan Shahih Muslim, no.240, 241, 242)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه -: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قال: إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً , ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ , وَمَنْ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ , وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الإِنَاءِ ثَلاثاً، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ. وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: ((فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمِنْخَرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ)). . وَفِي لَفْظٍ: ((مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْشِقْ

4 - “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “"Jika salah seorang dari kalian berwudlu hendaklah dengan memasukkan air ke dalam hidung, barangsiapa beristinja' dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil. Dan jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah membasuh kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya dalam bejana (air wudlunya) sebanyak tiga kali, sebab salah seorang dari kalian tidak tahu ke mana tangannya bermalam.”.

Dalam redaksi Imam Muslim: “maka hendaklah dia menghirup air dengan kedua lubang hidungnya”.

Dalam satu redaksi: “Barangsiapa yang berwudhu maka hendaklah menghirup air dengan kedua lubang hidungnya”.   (Shahih Bukhari, no. 162 dan Shahih Muslim, no.278, 237)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه -: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: لا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لا يَجْرِي , ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ

وَلِمُسْلِمٍ: لا يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ

5 - “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing pada air yang tidak mengalir, lalu mandi darinya.” (Sahih Bukhari, no.239 dan Shahih Muslim, no.282)

Dan (dalam redaksi) Imam Muslim: “Janganlah salah seorang di antara kalian mandi dalam air yang menggenang (diam), sedang dia dalam keadaan junub.” (Shahih Muslim, no.283)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه -، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: إذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعاً

وَلِمُسْلِمٍ: أُولاهُنَّ بِالتُّرَابِ

6 - “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika anjing menjilat bejana seorang dari kalian, maka hendaklah ia cuci hingga tujuh kali.” (Shahih Bukhari, no.172 dan Shahih Muslim, no.279)

Dan (dalam redaksi) Imam Muslim: "Sucinya bejana kalian apabila ia dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah.” (Shahih Muslim, no.279)


وَلَهُ فِي حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الإِناءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعاً وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ

7 - Dan (dalam redaksi) beliau (Imam Muslim) dalam hadits Abdullah bin Mughaffal; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seekor anjing menjilat pada suatu wadah, maka kalian cucilah ia tujuh kali, dan gosoklah dengan tanah pada pencucian yang kedelapan.” (Shahih Muslim, no.280)

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي اللهُ عنهما: أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ , فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إنَائِهِ , فَغَسَلَهُمَا ثَلاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ , ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , وَيَدَيْهِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاثًا , ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ , ثُمَّ غَسَلَ كِلْتَا رِجْلَيْهِ ثَلاثًا , ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، وَقَالَ: مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا , ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ , لا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

8 - “Dari Humran, budak Utsman bin Affan radhiyallalahu ‘anhuma; bahwa ia melihat 'Utsman bin 'Affan minta untuk diambilkan air wudlu. lalu ia  menuang bejana itu pada kedua tangannya, lalu ia basuh kedua tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudlunya, kemudian berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Kemudian membasuh mukanya tiga kali, membasuh kedua lengannya hingga siku tiga kali, mengusap kepalanya lalu membasuh kedua kakinya sebanyak tiga kali. Setelah itu ia berkata, "Aku telah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudlu seperti wudluku ini, beliau lalu bersabda: "Barangsiapa berwudlu seperti wudluku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu.” (Shahih Bukhari, no.164 dan Shahih Muslim, no.226)

عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ عَنْ وُضُوءِ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم -؟ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ , فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَأَكْفَأَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ التَّوْرِ , فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاثاً بِثَلاثِ غَرْفَاتٍ , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ [ص:35] يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَمَسَحَ رَأْسَهُ , فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

وَفِي رِوَايَةٍ: بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ , حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ , ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ

وَفِي رِوَايَةٍ: أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِي تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ

التَّوْرُ: شِبْهُ الطَّسْتِ

9 - “Dari ‘Amr bin Yahta Al-Mazini dari ayahnya, ia berkata; "Aku pernah menyaksikan 'Amr bin Abu Hasan bertanya kepada 'Abdullah bin Zaid tentang wudlunya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu ia minta diambilkan satu gayung air, kemudian ia memperlihatkan kepada mereka cara wudlu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ia menuangkan air dari gayung ke telapak tangannya lalu mencucinya tiga kali, kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu berkumur-kumur, lalu memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali dengan tiga kali cidukan, kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu mengusap kepalanya dengan tangan; mulai dari bagian depan ke belakang dan menariknya kembali sebanyak satu kali, lalu membasuh kedua kakinya.”

Dalam satu riwayat: “ia memulai dengan kepala bagian depannya, hingga ia menjalankan keduanya sampai tengkuknya, kemudian menariknya kembali hingga kembali ketempat dimana ia memulainya.”

Dan Dalam satu riwayat: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang kepada kami, lalu kami menyiapkan air dalam sebuah bejana yang terbuat dari tembaga.” (Shahih Bukhari, no.185 dan Shahih Muslim, no.235)

Ath-Thur adalah sejenis bejana

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ , وَتَرَجُّلِهِ , وَطُهُورِهِ , وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

10 - “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam segala hal” (Shahih Bukhari, no.168, 5854 dan Shahih Muslim, no.268)

 عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - عَنْ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - أَنَّهُ قَالَ: إنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ غُرّاً مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ . فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ , فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّى كَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ , ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إلَى السَّاقَيْنِ , ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ: إنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرَّاً مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ. فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ وَتَحْجِيلَهُ فَلْيَفْعَلْ

11 - Dari Nu’aim Al-Mujmir, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudlu, maka barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan.”

Dan dalam redaksi Imam Muslim: "Aku melihat Abu Hurairah berwudlu, ia membasuh muka dan dan kedua tangannya hingga hampir sampai lengan, kemudian ia membasuh kedua kakinya hingga kedua betis. Kemudian ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudlu, maka barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan.” (Shahih Bukhari, no.136 dan Shahih Muslim, no.246)

وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: سَمِعْتُ خَلِيلِي - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ: تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ

12 - Dan dalam redaksi Imam Muslim: “Aku telah mendengar kekasihku shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perhiasan (cahaya) seorang mukmin adalah sejauh mana air wudlunya membasuh.” (Shahih Muslim, no.250)

Terjemah Kitab Umdatul Ahkam » Pendahuluan


PENDAHULUAN

     Bismillahirrahmanirrahim
     Syaikh Al-Hafidz, Taqiyyuddin, Abu Muhammad Abdul Ghoni bin Abdul Wahid bin Ali bin Surur Al-Maqdisi rahimahullah ta’ala berkata:
 
     Segala puji bagi Allah, Penguasa Yang Perkasa, Yang Maha Esa dan Penakluk. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tak ada sekutu bagiNya, Tuhan langit dan bumi dan juga semua hal yang ada diantara keduanya, tuhan yang maha mulia dan pengampun.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan juga Rasul-Nya yang terpilih. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kemuliaan kepada beliau, dan juga kepada keluarga dan sahabat - sahabat terpilih beliau.
Amma ba’du,
 
     Sebagian saudara - saudaraku memintaku untuk meringkas sekumpulan hadits - hadits hukum yang disepakati oleh dua imam; yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Al-Bukhari dan Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi. Maka dari itu aku senang jika bisa memenuhi permintaannya dengan harapan agar hal tersebut bisa bermanfaat.

     Aku memohon kepada Allah agar kitab ini bisa bermanfaat bagi kami, orang yang menulisnya, orang yang mendengarkannya, orang yang membacanya, orang yang menghafalkannya atau orang yang melihatnya. Dan semoga menjadi amal yang ikhlas hanya bagi Allah semata, demi mengharapkan keberuntungan disisi-Nya kelak disurga yang penuh dengan kenikmatan, karena hanya Allah yang mencukupi kami dan Dia-lah sebaik - baik dzat yang menjadi tumpuan.

Download Kitab Mir'atul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih - Al-Mubarokfuri


Judul kitab : Mir'atul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih

Penulis : Syaikh Ubaidillah bin Muhammad Absussalam Al­Mubarokfuri

Tahqiq : -

Penerbit : Idaroh Al­Buhuts Al­Ilmiyah Wa Ad Da’wah Wa Al Ifta’, Benares-India.

Cetakan : Ketiga

Tahun : 1984

Link Download : Cover  Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8  Juz 9 


Download Kitab Mirqotul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih - Al-Qori


Judul kitab : Mirqotul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih

Penulis : Syaikh Ali bin Sulthon Muhammad Al-Qori

Tahqiq : Syaikh jamal 'Itani

Penerbit : Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon

Cetakan :

Tahun :

Link Download : Cover  Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8  Juz 9  Juz 10  Juz 11  Juz 12

** Juz ke-12 merupakan kitab Al-Ikmal Fi Asma' Rijal, karya penulis kitab Misykatul Mashobih, yaitu Imam Muhammad bin Abdulloh bin Al-Khothib At-Tabrizi

Senin, 21 April 2014

Hukum Menyetubuhi Istri Lewat Dubur


Soal: Assalamu'alaikum, punten saya mau tanya, memang dalam al-quran menyebutkan bahwa " istrimu adalah ladangmu, maka tanamilah sesuka hatimu dengan cara apapun". Lalu apakah diperbolehkan seorang suami yang menggauli istrinya dengan jalan belakang?

(Pertanyaan dari: Kamelia)
Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Dalam satu hadits diriwayatkan;

كَانَتْ الْيَهُودُ تَقُولُ إِذَا أَتَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا كَانَ الْوَلَدُ أَحْوَلَ فَنَزَلَتْ : نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

"Orang-orang yahudi mengatakan; Jika seorang lelaki menyetubuhi isterinya pada kemaluannya dari arah belakang, maka anak tersebut akan terlahir dalam keadaan cacat matanya (juling). Lalu turunlah ayat: “Isteri-isteri kalian adalah tempat bercocok tanam bagi kalian, maka datangilah tempat bercocok tanam kalian dari mana saja kalian kehendaki." (Shahih Bukhari, no.4164 dan Shahih Muslim, no.2592)
 
Imam Nawawi menjelaskan; Allah ta'la brerfirman:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

“Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (QS. Al Baqarah: 223).

Para ulama' menyatakan bahwa yang dimaksud ladang (tempat bercocok tanam) pada wanita adalah kemaluannya yaitu tempat mani bersemai untuk mendapatkan keturunan. Ini adalah dalil bolehnya menyetubuhi istri pada kemaluannya, terserah dari arah depan, belakang atau istri dibalikkan. Sedangkan dubur bukanlah ladang dan bukan tempat bercocok tanam.

Para ulama' juga telah sepakat mengenai keharaman menggauli seorang wanita melalui duburnya, baik wanita tersebut dalam keadaan haid atau suci, berdasarkan beberapa hadits yang jumlahnya sangat banyak dan sudah masyhur, seperti hadits;

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا

"Terlaknat orang yang menyetubuhi istrinya dari duburnya." (Sunan Abu Dawud, no.1847).

Imam Ibnu hajar Al-haitami dalam kitab Az-Zawajir menyatakan bahwa menyetubuhi wanita lewat dubur termasuk dosa besar, berdasarkan beberapa hadits, diantaranyan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا

"Allah azza wa jalla tidak akan melihat seorang lelaki yang menyetubuhi lelaki lain (homoseksual) atau (menyetubuhi) wanita dari duburnya." (Sunan Turmudzi dan no.1086, Sunan Ibnu Majah, no.1913)

Dari penjelasan diatas dapatdisimpulkan bahwa hukum menyetubuhi istri lewat dubur hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Wallahu a'lam

(Dijawab oleh: Irvan Majeda, Syfa Shafia, Zidna Zidan Nafi'a, Aby Zidan Abrory

Referensi:
1. Syarah Muslim Lin Nawawi, juz 10 hal. 6)

(باب جواز جماعه امرأته في قبلها من قدامها ومن ورائها)
قول جابر (كانت اليهود تقول إذا أتى الرجل امرأته  من دبرها في قبلها كان الولد أحول  فنزلت  نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم) وفي رواية إن شاء مجبية وإن شاء غير مجبية  غير أن ذلك في صمام واحد المجبية بميم مضمومة ثم جيم مفتوحة  ثم باء موحدة  مشددة مكسورة  ثم ياء مثناة  من تحت أي مكبوبة على وجهها والصمام بكسر الصاد أي ثقب واحد والمراد به القبل قال العلماء وقوله تعالى فأتوا حرثكم أنى شئتم أي موضع الزرع من المرأة وهو قبلها الذي يزرع فيه المني لابتغاء الولد ففيه إباحة وطئها في قبلها إن شاء من بين يديها وإن شاء من ورائها وإن شاء مكبوبة  وأما الدبر  فليس هو بحرث  ولا موضع زرع ومعنى قوله أنى شئتم أي كيف شئتم. واتفق العلماء  الذين يعتد بهم  على تحريم وطء المرأة في دبرها حائضا كانت أو طاهرا لأحاديث كثيرة مشهورة كحديث ملعون من أتى امرأة في دبرها.

2. Az-Zawajir an Iqtirofil Kaba’ir, juz 2 hal. 46

(الكبيرة الخامسة والستون بعد المائة: إتيان الزوجة أو السرية في دبرها)  أخرج الترمذي والنسائي وابن حبان في صحيحه عن ابن عباس - رضي الله عنهما - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: «لا ينظر الله عز وجل إلى رجل أتى رجلا أو امرأة في دبرها

Posting Lama