Home » , , » Petis dan Terasi, Najis atau Suci ?

Petis dan Terasi, Najis atau Suci ?

Written By Fiqh Kontemporer on Minggu, 24 Juni 2012 | 09.44.00


 
Pertanyaan :
Mau nanya hukum trasi ma petis, najis pa nggak?
syukron.

(Dari : ElWa Mufariqoh)


Jawaban :
Petis adalah makanan yang dihasilan dari  pengolahan kaldu / sari udang atau ikan yang diberi bumbu-bumbu,sehingga berbentuk pasta yang berwarna cokelat kehitaman dan mempunyai aroma yang khas. Petis dapat dibuat dari udang atau ikan yang masih utuh,namun terkadang juga dibuat dari sisa-sisa udang pemanfaatan limbah kepala dan kulit atau sari ikan dari pembuatan pindang.Sedangkan terasi adalah bumbu masak yang dibuat dari ikan atau udang yang difermentasikan yang berbentuk seperti pasta dan berwarna hitam coklat, kadang ditambah dengan pewarna sehingga menjadi kemerahan.

Jika terasi atau petis tersebut dibuat dari ikan yang sudah dibersihkan kotorannya tentu tak jadi persoalaan, yang jadi masalah adalah kalau ikan yang dipakai dalam pembuatan terasi atau petis itu belum dibersihkan kotorannya.Ulama’ madzhab Syafi’i berbeda pendapat dalam hukum kotoran ikan.

Pendapat pertama menghukumi najis kotoran ikan,seperti yang dikemukakan oleh Syeh Abu Hamid,.Al Qodhi Abit  Thoyyib menambahkan jika kotoran ikan dihukumi suci maka jika ikan tersebut digoreng tanpa dikeluarkan kotorannya minyak goreng tersebut  dihukumi mutanajjis. Pendapat yang menghukumi najisnya kotoran ikan adalah pendapat yang ashoh menurut Syeh Al Buroihami. Menurut Imam Nawawi ini adalah pendapat yang diakui dalam madzhab.Ulama Iraq dan sebagian golongan ulama’ Khurosan juga mengikuti pendapat ini, sedangan sebagian ulama’ khurosan meriwayatkan satu pendapat yang lemah bahwa kotoran ikan hukumnya suci.

Sedangkan menurut pendapat yang kedua, kotoran ikan dihukumi suci,salah satu alasan yang dikemukakan oleh pendukung pendapat ini adalah bahwa jika bangkainya dihukumi suci,maka kotorannya pun tentu dihukumi suci, karena dalam bangkai pun tentu ada kotorannya. Imam Ibnu Hajar, Imam Ziyad dan Imam Ar Romli dan ulama’ lainnya juga menyepakati ketetapan huum bahwa kotoran yang terdapat pada ikan-ian kecil dihukumi suci dan boleh dimakan,karena itu benda-benda yang terkena kotoran tersebut seperti minyak goreng tidak najis bila terkena kotoran ikan tersebut.Bahkan menurut Imam Ar Romli hukum ini juga berlaku bagi ikan yang besar. Penulis kitab Al Ibanah menilai pendapat yang menghukumi suci kotoran ikan  adalah pendapat yang Ashoh,bahkan Imam Al Rosyidi menganggap bahwa pendapat  yang menghukumi najis kotoran ikan adalah pendapat yang lemah, dan mengklaim bahwa pendapat yang menghuumi suci kotoran ikan adalah pendapat yang mu’tamad. Wallohu A’lam.

(Dijawab oleh : Siroj Munir)

Referensi :
1. Al Wasith, Juz : 1, Hal : 154
2. Al Bayan, Juz : 4 hal : 525
3. Al Majmu’, Juz : 2 Hal : 550
4. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 15
5. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 15
6. Fathul Jawad, Hal : 44
7. Hasyiyah al Rosyidi Al Fathil jawad, hal : 44


1. Al Wasith, Juz : 1, Hal : 154

الثاني روث السمك والجراد وما ليس له نفس سائلة ففيه وجهان أحدهما نجس طردا للقياس والثاني أنه طاهر لأنه إذا حكم بطهارة ميتتهما فكأنهما فى معنى النبات وهذه رطوبات فى باطنها

2. Al Bayan, Juz : 4 hal : 525

قال الشيخ أبو حامد: وأما السمك الهازي: وهو السمك الصغار، الذي يقلى ببغداد ولا يخرج ما في جوفه من الرجيع.. فلا يحل أكله ورجيعه فيه؛ لأن رجيعه نجس، فلا يحل أكله.
فعند الشيخ أبي حامد: روث السمك نجس وجها واحدا، وفي دمه وجهان.
وأما صاحب " الإبانة ": فقال: في روث السمك وجهان، كدمه، أصحهما: أنه ليس بنجس.
فعلى هذا: يحل أكله قبل أن يخرج.

3. Al Majmu’, Juz : 2 Hal : 550


قد سبق أن مذهبنا أن جميع الارواث والدرق والبول نجسة من كل الحيوان سواء المأكول وغيره والطير وكذا روث السمك والجراد وما ليس له نفس سائلة كالذباب فروثها وبولها نجسان على المذهب وبه قطع العراقيون وجماعات من الخراسانيين وحكى الخراسانيون وجها ضعيفا في طهارة روث السمك والجراد وما لا نفس له سائل


4. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 15


فائدة : نقل عن البريهمي أنه قال فى الأصح أن ذرق السمك والجراد وما يخرج من فيها نجس وفى الإبانة أنه طاهر

5. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 15


وقد اتفق ابن حجر وزياد و م ر وغيرهم على طهارة ما في جوف السمك الصغير من الدم والروث ، وجواز أكله معه ، وأنه لا ينجس به الدهن ، بل جرى عليه م ر الكبير أيضاً


6. Fathul Jawad, Hal : 44

قال البندنيجي : سألت الشيخ أبا حامد عن سمك يقلى وفيه الروث هل يؤكل ؟ فقال : هو طاهر اه. وفى تعليق القاضي أبى اطيب : انه لو قلى سمكا وفى بطنه الروث تنجس الزيت بما فى بطنه من الروث وتنجس السمك اه. والصحيح الأول

7. Hasyiyah al Rosyidi Al Fathil jawad, hal : 44

قوله فقال هو طاهر : معتمد, وقوله تنجس ضعيف
...................................................................................