Home » , » Hukum mendesah dengan menyebut nama Allah saat berhubungan intim

Hukum mendesah dengan menyebut nama Allah saat berhubungan intim

Written By Dadak Raden on Selasa, 17 Juli 2012 | 20.14.00


Soal: Bagaimana hukumnya ketika jimak dalam desahannya menyebut nama Allah SWT.?

(Pertanyaan dari: Adi Reza)

Jawab: Pada dasarnya berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan adalah hal yang baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah”(Mu’jam Thobroni, no.181)

Hanya saja dalam kondisi-kondisi tertentu tidak dianjurkan untuk berdzikir seperti pada saat berhubungan intim. Para ulama’ telah menetapkan bahwa berdzikir pada saat berhubungan intim hukumnya makruh.

Syekh Al-Bujairomi menjelaskan bahwa berdzikir pada saat sedang melakukan hubungan intim hukumnya makruh, sebab secara umum berbicara saat melakukan hubungan intim hukumnya makruh kecuali bicara mengenai hal yang diperlukan.

Namun kemakruhan ini hanya berlaku untuk dzikir yang diucapkan dengan lisan, sedangkan dzikir dalam hati maka tetap dianjurkan meskipun dalam keadaan berhubungan intim.

Syekh Ibnu Allan menjelaskan: “adapun dzikir tatkala qodho’il hajah (buang air) ataupun (dlm keadaan) berhubungan intim itu tidak di makruhkan berdasarkan kesepakatan ulama' (ijma'"), sedangkan dzikir dengan pengucapan lisan dalam keadaan qodho’il hajah ataupun dalam kedaan berhubungan intim maka hal demikian ini tidak di syariatkan dan bukan termasuk anjuran nabi kita dan kami tidak pernah dilakukan oleh para shahabat.”

Kesimpulannya, berdzikir dengan lisan pada saat berhubungan intim hukumnya makruh, sedangkan dzikir dalam hati hukumnya tidak makruh dan tetap dizunahkan. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Su Kakov, Siroj Munir dan Ubaid Bin Aziz Hasanan)

Referensi:
1. Faidhul Qodir Juz-1, Hal-215.

(أحب الأعمال إلى الله أن تموت ولسانك) أي  والحال  أن لسانك (رطب من ذكر الله) وفي الحديث  حث على الذكر حيث علق به  حكم الأحبية  وكل مؤمن  يرغب في ذلك  كمال الرغبة ليفوز بهذه المحبة فتتأكد مداومة ذكر الله تعالى في جميع الاحوال.

2. Al Adzkar, Hal : 12.

فصل: اعلم أن الذكر محبوبٌ في جميع الأحوال  إلا في أحوال  وردَ الشرعُ  باستثنائها نذكرُ منها هننا طرفاً، إشارة إلى ما سواه مما سيأتي في أبوابه إن شاء الله تعالى، فمن ذلك: أنه يُكره الذكرُ حالة الجلوس على قضاء الحاجة، وفي حالة الجِماع.

3. Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khothib, juz 1 hal. 158

قوله: (وجماع) أي أوله وتكره في أثنائه؛ لأن الكلام في حالة الجماع مكروه؛ لأن المناسب فيه السكوت أي في غير ما يتعلق بالجماع، أما ما يتعلق به وهو  ما يتوقف عليه التمكين  من المرأة كأن يقول  لها: تقدمي أو تأخري فلا يكون مكروها.

4. Al Futuhatur Robbaniyyah, juz 1 hal. 143

قوله إن الذكر الخ ) المراد الذكر باللسان إذ هو الذي يطلب تركه في المواضع الآتية ، أما بالقلب فيطلب حتى فيما يأتي . قال أصحابنا : إذا عطس قاضي الحاجة أو المجامع حمد الله بقلبه . وفي الحرز الثمين : الذكر عند نفس قضاء الحاجة أو الجماع لا يكره بالقلب بالإجماع ، وأما الذكر باللسان حالتئذ فليس مما شرع لنا ولا ندبنا إليه صلى الله عليه وسلم ولا نقل عن أحد من الصحابة