Home » , » PERBEDAAN WAKTU PUASA

PERBEDAAN WAKTU PUASA

Written By Dadak Raden on Minggu, 22 Juli 2012 | 19.02.00

 SOAL :
Assalamu’alaikum Warohmatulloh Wabarokatuh
Gus, sampai sekarang saya masih penasaran dengan adanya perbedaan waktu puasa. Sebenarnya itu sebuah masalah apa memang sudah lumrah. Mohon penjelasannya… Matur Suwun.
Wassalamu’alaikum Warohmatulloh Wabarokatuh
(Pertanyaan dari : +628562920XXX)

JAWAB:
Wa ‘alaikumusssalam Warohmatulloh Wabarokatuh
Ngomong-ngomong soal waktu puasa nih….
Sebenarnya memang sudah ada perbedaan waktu puasa sejak zaman mbouuiiyen (baca: dahulu kala). Sehingga perbedaan tersebut memang sudah lumrah terjadi. Untuk lebih jelasnya, memang ada beberapa hal yang perlu dipahami :
1. Di kalangan kaum muslimin, memang ada perbedaan dalam metode penetapan (itsbat) awal bulan, baik bulan puasa/ hari raya. Bagi kita, metode pertama yang harus dilakukan adalah metode rukyatul hilal (melihat hilal dengan mata telanjang). Jika rukyah tersebut tidak berhasil, maka baru kita menggunakan metode yang kedua, yakni metode ikmal Sya’ban/ Romadlon menjadi 30 hari. Dengan kata lain, kita tidak menggunakan metode hisab dalam penetapan (itsbat) awal bulan, sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara kita yang menggunakannya (metode hisab).
2. Ulama syafi’iyyah berpendapat apabila hilal sudah terlihat di suatu daerah, maka wajib bagi penduduk di daerah terdekat untuk ikut melaksanakan puasa. Sedangkan bagi penduduk di suatu daerah yang jauh, maka tidak wajib berpuasa (dengan mengikuti rukyah daerah terlihatnya hilal), karena adanya perbedaan mathla’ antara kedua daerah tersebut.

Catatan :
· Daerah terdekat adalah daerah yang berada satu mathla’ dengan daerah terlihatnya hilal, dengan gambaran jarak antara kedua daerah tersebut maksimal 24 farsakh (133,56 km)
· Jika hilal sudah terlihat di daerah sebelah timur, maka seluruh daerah di sebelah barat wajib melaksanakan ibadah puasa (gampange ngomong, nek mbulan wis kethok ning Jogja, mangka wong Jakarta otomatis wajib poso).

REFERENSI :
· Hujjah Ahlu al Sunnah wa al Jama’ah li KH. Ali Ma’shum, hal. 41
· Kitab al Fiqh ‘Ala al Madzahib al ‘Arba’ah, juz 1, hal. 284
· Keterangan simbah K.H. Zainal Abidin Munawwir
· Hawasyi al Syarwani, juz 3, hal. 382



حجة أهل السنة والجماعة لكياهى حاج على معصوم- (ص 41)
1. أن أئمة المذاهب الأربعة أجمعت على أن شهر رمضان لا يثبت إلا بأحد أمرين ، رؤية هلاله أو إكمال شعبان ثلاثين يوما إذا كان هناك ما يمنع الرؤية من غيم أو دخان أو غبار أو نحوها
2. وأنهم أجمعوا على أن دخول شوال يثبت كذلك بزؤية هلاله، فإن لم ير هلال شوال وجب إكمال رمضان ثلاثين يوما
3. وإن سيرة المسلمين جميعا عى ذلك بدون استثناء إذ لم نقف على خلاف له من أهل القبلة خارج أهل السنة والجماعة قبل ظهور الخلاف فى الزمن الأخير
4. وأن أهل السنة والجماعة وغيرهم أجمعوا كلهم على عدم جواز العمل بالحساب

الفقه على المذاهب الأربعة - (ج 1 ص 284)
الشافعية قالوا : إذا ثبتت رؤية الهلال فى جهة وجب على أهل الجهة القريبة منها من كل ناحية أن يصوموا بناء على هذا للثبوت والقرب يحصل باتحاد المطلع بأن يكون بينهما أقل من 24 فرسخا تحديدا ، أما أهل الجهة البعيدة فلا يجب عليهم الصوم بهذه الرؤية لإختلاف المطلع

حواشي الشرواني - (ج 3 / ص 382)
(يلزم من الرؤية في البلد الشرقي) أي حيث اتحدت الجهة والعرض نهاية أي فيلزم من رؤيته في مكة رؤيته في مصر ولا عكس كردي على بافضل

Oleh Mazz Rofii di groups/FIQHKONTEMPORER/doc