Home » » PILKADES : HUKUM JANJI PADA YANG MEMILIH

PILKADES : HUKUM JANJI PADA YANG MEMILIH

Written By Dadak Raden on Jumat, 06 Juli 2012 | 22.47.00

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...
Bismillahirrahmaanirrahiim.

Oleh : Teungku Fachry

Deskripsi masalah

Dalam proses pemilihan kepala desa, sering terjadi perjanjian antara calon kepala desa dengan calon pemilih yang isinya antara lain:

Calon pemilih diminta suaranya untuk calon kepada desa tersebut dengan imbalan uang, dengan catatan imbalan uang itu akan ditarik kembali kalau ternyata calon kepada desa yang bersangkutan tidak terpilih.

Pertanyaan :

1. Apakah perjanjian tersebut bisa dimasukkan kepada akad ju'alah ? kalau tidak termasuk akad apa?

2. Wajibkah mengembalikan uang tersebut, jika ternyata calon tidak terpilih ?

Jawaban :

1. Tidak termasuk akad Jua'alah (sayembara), karena si pemilih diminta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syara', sehingga dalam hal ini akad tersebut dikategorikan sebagai risywah (sogok/Suap).

2. Karena hal tersebut termasuk risywah/sogok maka hukumnya haram dan uang yang diterimapun juga haram oleh sebab itu bagi pemilih, jadi atau tidak jadinya calon lurah tsb. wajib hukumnya mengembalikannya.

DASAR PENGAMBILAN HUKUM:
Dalil al-qur'an:

Allah Ta’ala berfirman,

ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل

“Dan janganlah kalian memakan harta-harta diantara kalian dengan cara yang bathil” [QS. Al-Baqarah: 188]

Dan allah ta'ala berfirman:

يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا الله إن كنتم إياه تعبدون

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” [QS. al-Baqarah: 172]

DALIL HADIST.

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata,
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.” [HR. Abu Daud no. hadits 3580]

Juga hadits,
وعن ثوبان رضي الله عنه قال لعن رسول الله الراشي والمرتشي والرائش: يعني الذي يمشي بينهما

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat/mengutuk orang yang menyuap, yang menerima suap dan orang yang menghubungkan keduanya.” [HR. Ahmad dalam bab Musnad Anshar radhiyallahu ‘anhum]

Sementara dalam Sunan at-Tirmidzi,

Dari Abu Hurairah, ia berkata,
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي في الحكم

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap dalam masalah hukum”. [HR. at-Tirmidzi no hadits 1351]

كانت الهدية في زمن رسول الله هدية، واليوم رشوة

“Pada zaman Rasulullah pemberian itu dinamakan Hadiah, maka zaman sekarang ini dinamakan risywah (suap)”. [Shahih Bukhari]

AL AQWAL AL ULAMA :

Kitab Tausyeh ala Ibnu Qosim

فِى أَحْكَامِ الجُّعَالَةِ ....وَشَرْعًا اِلْتِزَامُ مُطْلَقِ التَّصَرُّفِ عِوَضًا مَعْلُوْمًا عَلَى عَمَلٍ مُعَيَّنٍ أَوْ مَجْهُوْلٍ عَسُرَ عِلْمُهُ كَرَدِّ الضَّالِ لِمُعَيَّنٍ أَوْ غَيْرِهِ وَهُوَ الْعَامِلُ
"Di dalam hukum-hukum ju'alah…… secara syara' adalah keharusan dari orang yang bebas mempergunakan harta bendanya sebagai ganti dari perbuatan yang jelas atau suatu perbuatan yang tidak jelas yang sulit mengetahuinya seperti mengembalikan barang yang hilang kepada orang tertentu atau lainnya sedangkan orang tersebut sebagai pelaku/melaksanakan pekerjaan"

Hasyiyah Al Bujairomi Alal Khotib, Juz : 3, Hal : 220. (فصل) فى الجعالة وجيمها مثلثة كما قاله ابن مالك وهو لغة اسم لما يجعل للإنسان على فعل شىء وشرعا التزام عوض معلوم على عمل معين معلوم أو مجهول عسر علمه
“(Fasal) tentang ju’alah. Huruf jim dari lafadz ju’alah tersebut boleh dibaca riga harakat, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Malik ini, secara etimologi adalah nama dari sebuah ongkos yang diberikan kepada seseorang atas pekerjaannya. Adapun dalam terminologi fikih, ju’alah adalah sebuah ketetapan (ongkos) pengganti yang sudah diketahui atas sebuah pekerjaan yang telah ditentukan atau belum ditentukan dan sulit untuk mengetahuinya”.
Misbahul Munir halaman 244.

الرِّشْوَةُ- بِالكَسْرِ: مَا يُعْطِيْهِ الشَّحْصُ الحَاكِمَ وَغَيْرَهُ لِيَحْكُمَ لَهُ أَو يَحْمِلُهُ عَلَى مَا يُرِيْدُ.

Risywah adalah apa yang diberikan oleh seseorang kepada hakim atau lainnya agar dia menetapkan hukum yang menguntungkan orang yang memberi atau hakim tersebut membawa dia sesuai dengan apa yang ia inginkan.

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عُمَرَ نَوَوِي الْجَاوِيُ: وَأَخْذُ الرِّشْوَةِ بِكَسْرِ الرَّاءِ وَهُوَ مَا يُعْطِيْهِ الشَّخْصُ لِحَاكِمٍ أَوْ غَيْرِهِ لِيَحْكُمَ لَهُ أَوْ يَحْمِلَهُ عَلىَ مَا يُرِيْدُ كَذَا فِي الْمِصْبَاحِ وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْرِيْفَاتِ وَهُوَ مَا يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ اهـ مرقاة صعود التصديق ص 74.

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi (Syaikh Nawawi Banten) berkata: "Termasuk perbuatan maksiat adalah menerima suap/risywah. Suap adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang hakim atau lainnya, agar keputusannya memihak si pemberi atau mengikuti kemauan pemberi, sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Mishbab.

Pengarang kitab al-Ta'rifat berkata: "Suap adalah sesuatu yang diberikan karena bertujuan membatalkan kebenaran atau membenarkan kesalahan."
(Mirqat Shu'ud al-Tashidiq, hal. 74).

ash-Shan’aniy dalam Subulussalam (2/24)
والرشوة حرام بالإجماع سواء كانت للقاضي أو للعامل على الصدقة أو لغيرهما، وقد قال الله تعالى: ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل وتدلوا بها إلى الحكام لتأكلوا فريقاً من أموال الناس بالإثم وأنتم تعلمون

“Dan suap-menyuap itu haram sesuai Ijma’, baik bagi seorang qadhi/hakim, bagi para pekerja yang menangani shadaqah atau selainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 188].”

*********************************
KETERANGAN TAMBAHAN :
MACAM MACAM SUAP :
  Suap untuk membatilkan yang benar atau membenarkan yang batil
  Suap untuk mempertahankan kebenaran, dan menolak marabahaya
  Suap untuk memperoleh jabatan atau pekerjaan.