Home » , , » SAAT MENGEMIS DIJADIKAN PROFESI

SAAT MENGEMIS DIJADIKAN PROFESI

Written By Dadak Raden on Jumat, 21 September 2012 | 18.42.00

Pertanyaan :
Assalamualaikum....
1.Bagaimana hukumnya mengemis sbg mata pencarian atau pekerjaan ?
2.Bolehkah mengusir mereka bila datang meminta-minta ?
( Dari : Adi Reza )

Jawaban :
Pertama :
Menjadikan mengemis sebagai profesi hukumnya ditafsil sebagai berikut :

1.Harom hukumnya meminta-minta bagi orangyang sudah tercukupi kebutuhannya atau ia mampu untuk bekerja begitu juga harom baginya menerima pemberian dari orang yang mengira ia orang yang tak mampu.Syekh Asy Syibromilsi mengatakan : " Jika ada orang yang menampakkan dirinya tak mampu, lalu ada orang yang memberinya karena menyangka ia benar-benar tak mampu, maka apa yang diterima tersebut bukanlah miliknya  ". Hukum ini didasarkan pada beberapa hadits yangmengecam tindakan ini :

مَنْ سَأَل النَّاسَ وَلَهُ مَا يُغْنِيهِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَسْأَلَتُهُ خُمُوشٌ، أَوْ خُدُوشٌ، أَوْ كُدُوحٌ

" Barangsiapa yang meminta kepada orang-orang padahal ia memiliki apa yang mencukupinya maka ia akan datang pada hari kiamat bersama permintaannya dengan luka-luka di wajahnya ". (Sunan At-Turmudzi,No.650 )

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

" Barangsiapa yang meminta harta orang lain untuk memperbanyak hartanya sendiri (bukan karna membutuhkan), maka sebenarnya ia telah meminta batu neraka. Maka hendaklah ia mempersedikit atau memperbanyak ". (Shohih Muslim,No.1041)

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ القِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

" Seseorang senantiasa meminta kepada orang-orang sampai ia datang di hari kiamat tanpa ada di wajahnya sekerat daging ". ( Shohih Bukhori,No.1474 dan Shohih Muslim No.1040 ).

2.Boleh,  jika memang ia termasuk orang faqir yang berhak menerima sedekah atau ia tak mampu untuk bekerja lagi, seperti yang dijelaskan dalam satu hadits :

يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ، تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا، ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ - أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ - وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ - أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ - فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا

" Wahai Qobishoh, seseungguhnya meminta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) Orang yang mengambil utang (untuk kebaikan) maka halal untuknya meminta sampai ia melunasinya kemudian ita berhenti meminta. (2) Dan orang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, maka halal baginya meminta sampai ia mendapatkan sesuatu yang menutupi kebutuhannya. (3) Dan orang ditimpa kemiskinan sampai tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata: "Si Fulan telah ditimpa kemiskinan"!, maka halal baginya meminta sampai ia mendapatkan sesuatu yang menutupi kebutuhannya. Dan selain dari mereka yang meminta, wahai Qobishoh .. adalah haram, ia memakan harta yang haram ". ( Shohih Muslim, No.1044 )

Namun kebolehan meminta-minta tersebut dengan ketentuan :
1. Meminta sesuai kebutuhannya ( biqodril hajat )
2.Tidak dilakukan dengan cara yang merendahkan dirinya, sebagaimana sabda nabi :

لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ

" Tidak patut bagi seorang mu'min merendahkan dirinya sendiri " ( Sunan Turmudzi, No.2254, dan Sunan Ibnu Majah, No. 4016 )
3. Tidak mendesak atu memaksa saat meminta
4.Tidak menyakiti atau membuat jengkel orang yang diminta
5.Pemberiannya tidak disebabkan si pemberi malu pada orang yang meminta atau malu pada orang-orang ditempat tersebut.

Jika ketentuan-ketentuan diatas tidak terpenuhi, maka ia dilarang meminta-minta meskipun ia membutuhkannya, dan haram hukumnya untuk mengambil pemberian tersebut dan pemberian tersebut wajib dikembalikan.Tapi ada kalanya meminta-minta itu wajib hukumnya, jika memang ia membutuhkan dan tak mampu bekerja, dan jika ia tak meminta-minta akan menyebabkan kematiannya.

Kedua :
Boleh dan sah hukumnya memberikan sedekah meskipun orang yang diberi adalah orang yang mampu, dan jika niatnya baik, semisal agar orang mampu yang diberi tadi mengambil pelajaran,akhirnya ia sadar dan mau menafkahkan hartanya maka sedekahnya diterima (maqbul ), meskipun apa yang ia tuju tidak terjadi. Dalilnya adalah hadits nabi :

قَالَ رَجُلٌ: لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ، فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ زَانِيَةٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ، عَلَى زَانِيَةٍ؟ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ، فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ، عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ، فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ: أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ، وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا، وَأَمَّا الغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ

" Seorang lelaki berkata: “Sungguh aku akan mengeluarkan shodaqoh”. Lalu ia keluar membawa shodaqohnya dan diberinya ke tangan seorang pencuri. Pada pagi harinya, orang-orang membicarakan: “Shodaqoh diberikan kepada seorang pencuri”, ia pun berkata: “Ya Alloh, segala puji bagi-Mu, sungguh aku akan bershodaqoh lagi!”, lalu ia keluar membawa shodaqohnya dan diberinya ke tangan seorang wanita pezina. Pada pagi harinya, orang-orang membicarakan: “Tadi malam shodaqoh diberikan kepada seorang wanita pezina”, ia pun berkata: “Ya Alloh, segala puji bagi-Mu, shodaqohku jatuh kepada wanita pezina, sungguh aku akan bershodaqoh lagi!”, Lalu ia keluar lagi membawa shodaqohnya dan diberinya ke tangan seorang yang kaya. Pada pagi harinya, orang-orang membicarakan: “Shodaqoh diberikan kepada seorang yang kaya”, ia pun berkata: “Ya Alloh, segala puji bagi-Mu, shodaqohku jatuh kepada pencuri, wanita pezina dan orang kaya”, lau ia didatangi (Malaikat) dan dikatakan kepadanya: “Adapun shodaqohmu kepada seorang pencuri, boleh jadi ia (karena shodaqohmu) akan menghentikan perbuatan mencurinya. Adapun wanita pezina, boleh jadi ia akan menghentikan perbuatan zinanya. Adapun orang kaya, boleh jadi ia akan sadar dan iapun akan berinfak dengan harta yang diberikan Alloh kepadanya.” ( Shohih Bukhori, No.1421 ).


Ketiga :
Tidak diperkenankan mengusir pengemis, sebab dalam anjuran agama menolak untuk memberi sesuatu pada pengemis itu harus dilakukan dengan cara baik-baik. Alloh melarang kita untuk membentak pengemis sebagaimana firman Alloh :

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

" Dan janganlah kau bentak peminta-minta ". ( Surat Adh-Dhuha, ayat : 10 )

Nabi bersabda :

ردّوا السائل ببذل يسير، أو ردّ جميل

" Berilah peminta-minta atau tolaklah dengan baik-baik ".

  ( Oleh : Brandal Loka Jaya, Siroj Munir dan Sunde Pati )


Referensi :
1. Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 24  Hal : 97-98
2. Ihya' Ulumid Din, Juz : 4  Hal : 510
3. Nihayatul Muhtaj, Juz : 6  Hal : 171
4.  Syarah Al Qostholani Alal Bukhori, Juz : 3 Hal : 23
5. Tafsir Al Qurthubi, Juz : 20  Hal : 101
6.Tafsir Ats-Tsa'labi, Juz : 2  Hal : 260


Ibarot :
Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 24  Hal : 97-98

ثانيا - السؤال بمعنى طلب الحاجة
التعرض للصدقة بالسؤال، أو إظهار أمارة الفاقة
يحرص الإسلام على حفظ كرامة المسلم، وصون نفسه عن الابتذال والوقوف بمواقف الذل والهوان، فحذر من التعرض للصدقة بالسؤال، أو بإظهار أمارات الفاقة، بل حرم السؤال على من يملك ما يغنيه عنها من مال أو قدرة على التكسب، سواء كان ما يسأله زكاة أو تطوعا أو كفارة، ولا يحل له أخذ ذلك إن أعطي بالسؤال أو إظهار الفاقة. قال الشبراملسي: لو أظهر الفاقة وظنه الدافع متصفا بها لم يملك ما أخذه، لأنه قبضه من غير رضا صاحبه، إذ لم يسمح له إلا على ظن الفاقة. لقوله صلى الله عليه وسلم: من سأل الناس وله ما يغنيه جاء يوم القيامة ومسألته خموش، أو خدوش، أو كدوح قيل: يا رسول الله، وما يغنيه؟ قال: خمسون درهما أو قيمتها من الذهب وعنه صلى الله عليه وسلم: إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله وقال عليه الصلاة والسلام: لا ينبغي للمؤمن أن يذل نفسه.
أما إن كان محتاجا إلى الصدقة، وممن يستحقونها لفقر أو زمانة، أو عجز عن الكسب فيجوز له السؤال بقدر الحاجة، وبشرط أن لا يذل نفسه، وأن لا يلح في السؤال، أو يؤذي المسئول، ولم يعلم أن باعث المعطي الحياء من السائل أو من الحاضرين، فإن كان شيء من ذلك فلا يجوز له السؤال وأخذ الصدقة وإن كان محتاجا إليها، ويحرم أخذها، ويجب ردها إلا إذا كان مضطرا بحيث يخشى الهلاك إن لم يأخذ الصدقة، لحديث: لا ينبغي للمؤمن أن يذل نفسه. فإن خاف هلاكا لزمه السؤال إن كان عاجزا عن التكسب. فإن ترك السؤال في هذه الحالة حتى مات أثم لأنه ألقى بنفسه إلى التهلكة، والسؤال في هذه الحالة في مقام التكسب؛ لأنها الوسيلة المتعينة لإبقاء النفس، ولا ذل فيها للضرورة، والضرورة تبيح المحظورات كأكل الميتة

Ihya' Ulumid Din, Juz : 4  Hal : 510

وإنما قلنا إن الأصل فيه التحريم لأنه لا ينفك عن ثلاثة أمور محرمة
الأول إظهار الشكوى من الله تعالى إذ السؤال إظهار للفقر وذكر لقصور نعمة الله تعالى عنه وهو عين الشكوى وكما أن العبد المملوك لو سأل لكان سؤاله تشنيعاً على سيده فكذلك سؤال العباد تشنيع على الله تعالى وهذا ينبغي أن يحرم ولا يحل إلا لضرورة كما تحل الميتة
الثاني أن فيه إذلال السائل نفسه لغير الله تعالى وليس للمؤمن أن يذل نفسه لغير الله بل عليه أن يذل نفسه لمولاه فإن فيه عزه فأما سائر الخلق فإنهم عباد أمثاله فلا ينبغي أن يذل لهم إلا لضرورة وفي السؤال ذل للسائل بالإضافة إلى المسئول
الثالث أنه لا ينفك عن إيذاء المسئول غالباً لأنه ربما لا تسمح نفسه بالبذل عن طيب قلب منه فإن بذل حياء من السائل أو رياء فهو حرام على الآخذ وإن منع ربما استحيا وتأذى في نفسه بالمنع إذ يرى نفسه في صورة البخلاء ففي البذل نقصان ماله وفي المنع نقصان جاهه وكلاهما مؤذيان والسائل هو السبب في الإيذاء والإيذاء حرام إلا بضرورة

Nihayatul Muhtaj, Juz : 6  Hal : 171

فصل :صدقة التطوع سنة وتحل لغني
...................................

وتحل لغني) ولو من ذوي القربى لخبر : تصدق الليلة على غني، فلعله أن يعتبر فينفق مما آتاه الله

Syarah Al Qostholani Alal Bukhori, Juz : 3 Hal : 23

وأما الغني فلعله يعتبر، فينفق) بالرفع فيهما، ولأبي ذر: أن يعتبر فينفق (مما أعطاه الله) وفيه: أن الصدقة كانت عندهم مختصة بأهل الحاجات من أهل الخير، ولهذا تعجبوا من الصدقة على هؤلاء وأن نيّة المتصدق إذا كانت صالحة قبلت صدقته ولو لم تقع الموقع واستحباب إعادة الصدقة إذا لم تقع الموقع وهذا في صدقة التطوّع، أما الواجبة، فلا تجزئ على غني وإن ظنه فقيرًا

Tafsir Al Qurthubi, Juz : 20  Hal : 101

قوله تعالى: (وأما السائل فلا تنهر) أي لا تزجره، فهو نهي عن إغلاظ القول. ولكن رده ببذل يسير، أو رد جميل، واذكر فقرك، قاله قتادة وغيره. وروي عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: [لا يمنعن أحدكم السائل، وأن يعطيه إذا سأل، ولو رأى في يده قلبين «2» من ذهب [. وقال إبراهيم بن أدهم: نعم القوم السؤال: يحملون زادنا إلى الآخرة. وقال إبراهيم النخعي: السائل بريد الآخرة، يجئ إلى باب أحدكم فيقول: هل تبعثون إلى أهليكم بشيء. وروي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ردوا السائل ببذل يسير، أو رد جميل، فإنه يأتيكم من ليس من الإنس ولا من الجن، ينظر كيف صنيعكم فيما خولكم الله

Tafsir Ats Tsa'labi, Juz : 2   Hal : 260

قول معروف أي كلام حسن ورد على السائل جميل، وقيل: [ ... ] «4» حسن.
وقال الكلبي: دعاء صالح يدعو لأخيه بظهر الغيب. قال الضحاك: قول في إصلاح ذات البين. ومغفرة أي مغفرة منه عليه لما علم خلته وفاقته. قاله محمد بن جرير، وقال الكلبي والضحاك: تجاوز عن ظلمه، وقال: يتجاوز عنه إذا استطال عليه عند رده علم الله تعالى إن الفقير إذا رد بغير نوال شق عليه ذلك مما يدعو إلى بذاء اللسان أو إظهار الشكوى، وعلم ما يلحق المانع منه، فحثه على الصفح والعفو وبين أن ذلك خير له من صدقة يدفعها إليه يتبعها أذى أي من وتعيير السائل بالسؤال أو شكاية منه أو عيب أو قول يؤذيه