Home » » Pengertian "janda" dalam ilmu fiqih

Pengertian "janda" dalam ilmu fiqih

Written By siroj munir on Rabu, 28 November 2012 | 19.11.00




Pertanyaan :
Assalamu'alaikum
Tsayib (janda) itu gimana sih? apakah orang yang jima' diluar nikah bisa dinamakan tsayiib ? kalau hilangnya keperawanan sebab kcelakaan atau dimasuki dengan suatu barang, seperti wortel atau terong gitu gmana?

( Dari : Maz HamMaad )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Seorang wanita dihukumi janda atau perawan itu bisa berbeda-beda kriterianya tergantung pembahasannya, perinciannya sebagai berikut :

1.Hilang keperawanannya (robek selaput daranya) dengan sebab persenggamaan (wath'i) pada qubul/farjinya (vagina), baik hilangnya dengan sebab yang halal atau harom, baik dilakukan oleh manusia atau makhluk lain, seperti hewan, dan meskipun hilangnya saat ia tertidur. Hal ini berlaku dalam idzin seorang wali bagi wanita untuk menikah.

2.Hilangnya keperawanan secara mutlak, baik dengan cara bersenggama (jima') atau cara lainnya. Hal ini berlaku dalam masalah apabila disyaratkan statusnya masih perawan ketika menikah dan mengembalikan barang yang sudah dijual (karena aib). Hal ini berlaku dalam akad salam (pemesanan), wakalah (perwakilan) dan wasiat menurut pendapat yang ashoh.

3.Hilangnya keperawanan dengan cara bersenggama yang dilakukan dalam pernikahan yang sah. Hal ini berlaku dalam masalah hukum rajam bagi wanita yang berzina.

Jadi, wanita yang berzina dihukumi janda dalam pengertian nomer 1 dan 2, dan dihukumi janda dalam pengertian nomer 3 apabila dilakukan dalam perkawinan yang sah.

Sedangkan wanita yang hilang keperawanannya karena kecelakaan atau dimasuki suatu benda dihukumi perawan dalam pengertian nomer 1 dan 3, dan dihukumi janda dalam pengertian nomer 2. Wallohu a'lam.

 ( Oleh : Phutra Randu Alass, Mazz Rofii, Muhammad Fatkhurozi Rozi,  Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Al-Asybah Wan-Nadhoir, Hal : 534
2. Fathul Wahhab, Juz : 2  Hal : 44
3. Hasyiyah Al-Bajuri Ala Fathul Qorib, Juz : 2  Hal : 211


Ibarot :
Al-Asybah Wan-Nadhoir, Hal : 534

فائدة: الثيوبة في الفقه أقسام
الأول: زوال العذرة مطلقا بجماع أو غيره قطعا وذلك في الرد للمبيع وما لو تزوجها بشرط البكارة
والثاني: كذلك على الأصح وذلك في السلم والوكالة والوصية
الثالث: زوالها بالجماع فقط وذلك في الإذن في النكاح والإقامة في الابتداء
الرابع: زوالها بالجماع في نكاح صحيح وذلك في الرجم بالزنا

Fathul Wahhab, Juz : 2  Hal : 44

ولا يزوج ولي) من أب، أو غيره عاقلة (ثيبا) وهي من زالت بكارتها (بوطء) بقيد زدته بقولي: (في قبلها) ، ولو حراما، أو نائمة

Hasyiyah Al-Bajuri Ala Fathul Qorib, Juz : 2  Hal : 211

والنساء على ضربين: ثيبات، وأبكار). والثيب من زالت بكارتها بوطء حلال أوحرام، والبكر عكسها
.............................
قوله : (والثيب من زالت بكارتها بوطء) أي في قبلها ولو من نحو قرد, وإن كان قضية التعليل بممارسة الرجال خلافهو لكنه جرى على الغالب. ولذلك كانت من من وطئت في قبلها ولم تزل بكارتها لكونها غوراء كسائر الابكار, وإن كان مقتضى التعليل المذكور خلافه, لكنه جرى على الغالب كما علمت
وقوله : (حلال أو حرام) فالأول : كوطئ زوجها السابق على هذا النكاح, والثاني : كوطء الزنى, والظاهر أن وطء الشبهة كذلك مع أنه لا يتصف بحل ولا حرمة في شبهة الفاعل