Home » , , » Aurot wanita yang sudah tua

Aurot wanita yang sudah tua

Written By siroj munir on Minggu, 27 Januari 2013 | 02.09.00


Pertanyaan :

Asslamualaikum
Ustadz, saya mau nanya tentang menutup aurat.
Menutup aurat jelas wajib. Pertanyaannya, apakah ada toleransi untk kaum nenek-nenek. Maaf, begini maksud saya, sering saya lihat tu nenek-nenek yang sudah tua renta sering mengabaikan aurat, bukan karena berpakaian seksi, tapi justru pakaian yang kadang sobek, nggak pakai pakaian dalam, yang menampakkan tubuhnya, kadang pula waktu ganti baju didepan umum, karena mereka pikir mereka sudah tua sekali jadi tidak mungkin ada yg nafsu atau tidak merasa malu. Bagaimana dengan keadaan ini, masih dosakah tiap kelalaian itu?
Terima kasih...

( Dari : Chaya Maymey )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Alloh berfirman dalam Al-qur'an :

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian[1050] mereka dengan tidak (bermaksud) Menampakkan perhiasan, dan Berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Bijaksana". (Q.S. An-Nur : 60)

Dari ayat diatas para ulama' memahami bahwa bagi wanita yang sudah terhenti haidnya, tidak lagi memiliki keinginan untuk menikah dan tidak lagi diinginkan untuk dinikahi karena sudah tua diperbolehkan untuk agak "longgar" dalam menutupi aurot, maksudnya diperbolehkan baginya untuk tidak memakai pakaian-pakaian luar sebagai pelapis, seperti selendang atau pakaian diatas kerudung asalkan tetap tidak menampakkan rambut atau leher atau bagian-bagian lain yang termasuk aurot. Hanya saja dalam ayat tersebut dijelaskan juga bahwa menutupi aurot dengan memakai pakaian sebagaimana yang dipakai saat masih muda (dengan memakai pakaian luar sebagai pelapis) itu lebih utama (afdhol).

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa aurot wanita yang sudah tua itu sama saja dengan wanita yang masih muda, hanya saja ada keringanan untuk tidak memakai pakaian-pakaian luar yang digunakan sebagai pelapis.

Sedangkan mengenai anggapan bahwa ia sudah menarik syahwat itu tidak bisa diterima, sebab syahwat adalah sesuatu yang tidak memiliki batasan yang jelas, jadi hukumnya tetap disamakan dengan wanita yang masih muda, sebab perintah untuk menutup aurot itu bukan hanya berlaku untuk wanita yang masih muda saja, namun juga berlaku bagi wanita yang sudah tua. Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Su Kakov dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Tafsir Munir Liz-Zuhailiy, Juz : 18  Hal : 296-297
2. Roudhotut Tholibin, Juz : 7  Hal : 24
3. Tuhfatul Muhtaj, Juz : 7  Hal : 193-194


Ibarot :
Tafsir Munir Liz-Zuhailiy, Juz : 18  Hal : 296-297

 الحكم الثالث عشر
والقواعد من النساء اللاتي لا يرجون نكاحا فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن غير متبرجات بزينة هذا بيان حكم النساء العجائز، والمعنى: إن النساء اللواتي كبرن، وانقطع الحيض عنهن، ويئسن من الولد، ولم يبق لهن رغبة في التزوج، فلا إثم عليهن ولا حرج أن يخففن في ملابسهن ويخلعن ثيابهن الظاهرة كالجلباب والرداء والقناع فوق الخمار (غطاء الرأس) إذا لم يقصدن إظهار ما عليهن من الزينة الخفية كشعر ونحر وساق، ولم يكن فيهن جمال ظاهر، فإن وجد حرم خلع الثياب الظاهرة، ولم يؤد إلى كشف شيء من العورة.
وأن يستعففن خير لهن، والله سميع عليم أي أن التعفف والاحتياط بالستر، وإبقاء ثيابهن المعتادة، وإن كان جائزا، خير وأفضل لهن، والله سميع لأحاديثهن وكلامهن مع الرجال وكلام الرجال معهن، عليم بمقاصدهن لا تخفى عليه خافية من أمرهن وغير ذلك، فإياكم ووساوس الشيطان

Roudhotut Tholibin, Juz : 7  Hal : 24

وأما العجوز، فألحقها الغزالي بالشابة، لأن الشهوة لا تنضبط

Tuhfatul Muhtaj, Juz : 7  Hal : 193-194

واختيار الأذرعي قول جمع بحل نظر وجه وكف عجوز يؤمن من نظرهما الفتنة لآية {والقواعد من النساء} [النور: 60] ضعيف ويرده ما مر من سد الباب، وأن لكل ساقطة لاقطة ولا دلالة في الآية كما هو جلي بل فيها إشارة للحرمة بالتقييد بغير متبرجات بزينة واجتماع أبي بكر وأنس بأم أيمن وسفيان وإضرابه برابعة - رضي الله عنهم - لا يستلزم النظر على أن مثل هؤلاء لا يقاس بهم غيرهم ومن ثم جوزوا لمثلهم الخلوة كما يأتي قبيل الاستبراء إن شاء الله تعالى