Home » » Diskusi fiqih hingga nafas terakhir (Kisah Abu Yusuf dan Ibrohim Al Jarroh)

Diskusi fiqih hingga nafas terakhir (Kisah Abu Yusuf dan Ibrohim Al Jarroh)

Written By siroj munir on Senin, 25 Februari 2013 | 23.26.00


Qodhi Abu Yusuf adalah salah satu murid Abu Hanifah, yang merupakan pembesar ulama' madzhab Hanafi sekaligus penyebar madzhab Hanafi. Beliau adalah orang pertama yang dijuluki "Qodhil Qudhot" (Hakimnya para hakim) dan menjabat sebagai qodhi pada masa pemerintahan Al-Hadi, Al-Mahdi dan Ar-Rosyid, 3 Sultan Dinasti Abbasiyah. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat menghargai waktu, dan tak menyia-nyiakan waktunya untuk belajar.

Bahkan diakhir hayatnya, saat beliau sakit beliau masih sempat berdiskusi tentang masalah agama dengan orang yang menjenguknya, sebagaimana dikisahkan oleh murid beliau, Qodhi Ibrohim bin Al-Jaroh Al-Kufi Al-Mishriy, Qodhi Ibrohim bercerita ;

"Saat Abu Yusuf sedang sakit aku menjenguknya, saat aku sampai ternyata beliau sedang tak sadarkan diri. keika beliau sudah sadar, beliau berkata kepadaku :

"Hai Ibrohim, bagaimana pendapatmu tentang masalah ini?"

Aku berkata : "Anda bertanya, padahal kondisi anda seperti ini?"

"Tidak apa-apa, siapa tahu, dari hasil diskusi kita bisa membantu orang yang punya masalah seperti ini", kata Imam Abu Yusuf.

Imam Abu Yusuf berkata lagi : "Hai Ibrohim, Mana yang lebih utama, melempar jumroh (dalam manasik haji) dengan berjalan atau menunggang binatang?"

Aku menjawab : "Dengan berjalan"

"Salah". kata beliau

Aku jawab : 'Dengan menunggang"

"Salah " kata beliau

Aku bertanya : "Lalu bagaimana yang benar? Semoga Alloh meridhoi anda"

Beliau berkata : "jika orang tersebut ingin berhenti dan berdo'a maka lebih afdhol ia berjalan, namun apabila ia tidak berhenti untuk berdo'a maka lebih baik ia naik tunggangan".

Setelah itu, aku beranjak dari tempat beliau dirawat, saat aku berjalan dan belum sampai pintu rumah, aku mendengar suara jeritan, lalu aku bergegas mendatanginya, dan ternyata beliau sudah meninggal dunia, Semoga Alloh merahmati beliau".

( Sumber : Qimatuz Zaman Indal Ulama', Hal : 28-29 )