Home » , , » Hukum penggunaan air musyammas (air yang panas karena sinar matahari)

Hukum penggunaan air musyammas (air yang panas karena sinar matahari)

Written By siroj munir on Kamis, 07 Februari 2013 | 15.13.00


Pertanyaan :
Assalamualaikum......
Mau tanya ustadz, gimana kalau seandainya kita itu masuk waktu sholat, tapi tidak di ketemukakan air, haanya ada air musyammas? Apa yang harus kita lakukan?

( Dari : Intan FacQot Dehh Elf )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Terdapat dua pendapat berbeda dalam masalah penggunaan air musyammas. Berikut ini kami uraikan perbedaan pendapat tersebut, beserta dalil-dalil yang mendasarinya ;

Pendapat pertama, menyatakan bahwa penggunaan, air musyammas, yaitu air yang panas karena terkena sinar matahari hukumnya itu hukumnya makruh (makruh tanzih). Pendapat ini diikuti diikuti oleh mayoritas ulama' madzhab syafi'i. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah A'isyah rodhiyallohu 'anha ;

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ سَخَّنْتُ مَاءً فِي الشَّمْسِ , فَقَالَ:  لَا تَفْعَلِي يَا حُمَيْرَا فَإِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ

"Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam masuk saat aku sedang memanaskan air dengan sinar matahari, kemudian beliau berkata : "Jangan lakukan itu wahai humairo' (panggilan 'aisyah), karena hal itu bisa menyebabkan penyakit barosh (kusta/lepra)". (Sunan Ad-Daruquthni, no.86)

Imam Syafi'i juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar tidak menyukai mandi dengan menggunakan air musyammas. Imam Baihaqi juga meriwayatkan :

قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: لَا تَغْتَسِلُوا بِالْمَاءِ الْمُشَمَّسِ، فَإِنْهُ يُورِثُ الْبَرَصَ

"Umar rodhiyallohu 'anhu mengatakan : "Janganlah kalian mandi dengan air musyammas, karena dapat menyebabkan penyakit barosh" (Sunan Kubro, no.13)

Jadi, illat (alasan) dari kemakruhannya adalah karena penggunaan air musyammas dapat menyebabkan penyakit kulit, yaitu lepra. Dan dalam kemakruhan ini tidak memandang apakah disengaja memanaskannya atau tidak, sebab dalam kedua keadaan tersebut illat hukumnya tetap ada.

Namun, para ulama' menetapkan beberapa syarat dimakruhkannya menggunakan air musyammas, jika salah satu dari syarat-syarat ini tidak terpenuhi maka hukumnya tidak makruh lagi. Syarat-syaratnya adalah sebagai berikut :

1. Air tersebut ditempatkan pada wadah yang terbuat dari logam, seperti besi, tembaga, atau timah, kecuali wadah yang terbuat dari emas dan perak. Alasannya ketika air yang ditempatkan pada wadah yang terbuat dari wadah-wadah yang terbuat dari logam, panas matahari akan menyebabkan partikel-partikel dari logam tersebut akan menguap dan membahayakan kulit. Sedangkan pengecualian emas dan perak dikarenakan kemurnian bahan dasar keduanya.Maka jika airnya diletakkan pada wadah yang tidak terbuat dari logam tidak makruh, karena illat hukumnya tidak terjadi. Begitu juga tidak dimakruhkan air laut atau air sungai yang panas karena terkena sinar matahari sebab tidak mungkin untuk menghindarkannya dari sinar matahari, dan juga tidak ditempatkan pada wadah, jadi sinar matahari tidak mempengaruhinya sebagaimana pengaruh dalam air yang ditempatkan dalam wadah yang terbuat dari logam.

2. Panasnya air tersebut dikawasan atau negara yang panas, seperti Hijaz dan  Hadhromaut, Yaman. Karena itu apabila panasnya air tersebut terjadi dikawasan yang tidak panas, seperti Syam dan Mesir, maka tidak dimakruhkan penggunaannya, sebab pengaruh panas matahari pada air dikawasan tersebut lemah, jadi apa yang dikhawatirkan dalam penggunaannya, yaitu terkena penyakit barosh, tidak bisa terjadi. Namun Imam Mawardi tidak sependapat mengenai syarat ini, menurut beliau selama illatnya ada, maka tak ada bedanya air tersebut panas didaerah mana saja.

3. Penggunaannya dilakukan saat air tersebut masih panas, maka apabila sudah tidak panas lagi, sudah tidak dimakruhkan lagi, sebab illatnya sudah tidak ada.

4. Penggunaan air tersebut pada kulit, bukan untuk pakaian, sebab illat hukumnya (penyakit baros) hanya terjadi pada kulit.

5. Orang yang menggunakannya tidak mengkhawatirkan terjadi sesuatu yang membahayakan pada kulitnya, apabila penggunaannya jelas-jelas membahayakan bagi dirinya, maka hukum penggunaan air musyammas adalah harom.

6. Orang yang menggunakannya adalah orang yang masih hidup, karean itu apabila digunakan untuk orang yang sudah meninggal, maka tidak makruh, menurut Imam Ibnu Hajar. Sedangkan menurut Imam Romli, meskipun digunakan untuk orang yang sudah meninggal dunia, sama saja, tetap makruh, jadi menurut Imam Romli penggunaan air musyammas itu makruh, baik digunakan oleh orang yang masih hidup atau sudah meninggal dunia.

7. Masih ada air lain yang bisa digunakan, karena itu apabila memang sudah tidak ada air yang lain yang bisa digunakan selain air musyammas tersebut, maka penggunaannya tidak makruh.


Satu hal yang perlu diketahui adalah, meskipun penggunaan air musyammas itu makruh, namun apabila digunakan untuk bersuci tetap bias, sebab air musyammas itu termasuk kategori air thohir muthohir (suci dan menyucikan).

Pendapat kedua, menyatakan bahwa penggunaan air musyammas itu tidak makruh. Pendapat ini didukung oleh Imam Nawawi. Untuk memperkuat alasannya, Imam Nawawi  dalam kitab Al Majmu' menjelaskan kelemahan dasar-dasar hukum yang dipakai oleh pendapat yang menyatakan kemakruhan penggunaan air musyammas sebagai berikut :

1. Hadits yang diriwayatkan dari sayyidah Aisyah rodhiyallohu 'anha yang dipakai sebagai dasar hukum kemakruhan penggunaan air musyammas adalah hadits dho'if (lemah) menurut kesepakatan semua ulama' ahli hadits, bahkan sebagian ahli hadits menyatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits maudhu' (palsu).

2. Riwayat kedua dari Sayyidina Umar rodhiyallohu 'anhu itu juga merupakan hadits dho'if, karena diriwayatkan oleh Ibrohim bin Muhammad bin Abi yahya yang dinyatakan sebagai perowi yang dho'if  menurut kesepakatan ulama'ahli hadit, kecuali menurut Imam Syafi'i rohimahulloh, menurut beliau Ibrohim bin Muhammad bi Abi Yahya itu termasuk perowi yang tsiqqoh, sehingga riwayatnya bisa diterima.

3. Illat hukum yang mendasari kemakruhan penggunaan air musyammas, yaitu dikahwatirkan akan terjadinya penyakit barosh itu tidak terbukti, karena setelah diadakan riset oleh beberapa ahli masalah kesehatan, mereka tidak menemukan adanya keterkaitan antara penggunaan air musyammas dan penyakit barosh.
 
Kesimpulannya, menurut mayoritas ulama' madzhab Syafi'i  menggunakan air musyammas hukumnya makruh sedangkan menurut Imam Nawawi hukumnya tidak makruh, namun karena apabila penggunaannya dilakukan saat tidak ada pilihan lain, maka semua ulama' sepakat memperbolehkannya. Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Siroj Munir, Lee-c Rezpector Tetap Semangat, Musthafa El-Haursyiyie dan Sunde Pati )


Referensi :
1. Al-Umm, Juz : 1  Hal : 16
2. Al-Hawi Al-Kabir, Juz : 1  hal : 42-43
3. Nihayatul Mathlab, Juz : 1  Hal : 17
4. Nihayatul Muhtaj, juz : 1  Hal : 69-70
5. At-Taqrirot Asy-syadidah, Hal : 58-59
6. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 1  Hal : 87
7. Fathul Qorib, Hal : 25-26


Ibarot :
Al-Umm, Juz : 1  Hal : 16

قال الشافعي) : ولا أكره الماء المشمس إلا من جهة الطب (قال الشافعي) أخبرنا إبراهيم بن محمد عن صدقة بن عبد الله عن أبي الزبير عن جابر بن عبد الله أن عمر كان يكره الاغتسال بالماء المشمس وقال: إنه يورث البرص

Al-Hawi Al-Kabir, Juz : 1  hal : 42-43

مسألة : قال الشافعي رحمه الله: ولا أكره الماء المشمس إلا من جهة الطب لكراهية عمر ذلك وقوله: " يورث البرص
قال الماوردي: فهذا صحيح استعمال الماء المشمس مكروه لرواية أبي الزبير عن جابر أن عائشة - رضي الله عنهما - شمست ماء لرسول الله - صلى الله عليه وسلم  -، فقال النبي - صلى الله عليه وسلم  -: " لا تفعلي يا حميرا فإنه يورث البرص " وروي عن عمر رضي الله عنه أنه كره الماء المشمس، وقال: إنه يورث البرص، فإذا ثبت الخبر والأثر كراهية الماء المشمس، فإن الكراهة مختصة بما أثرت فيه الشمس من مياه الأواني، وأما مياه البحار والأنهار والآبار لا يكره لأمرين: أحدهما: أن الشمس لا تؤثر فيها كتأثيرها في الأواني. والثاني: التحرز منها غير ممكن ومن الأواني ممكن وتأثير الشمس في مياه الأواني قد يكون تارة بالحما، وتارة بزوال برده، والكراهة في الحالين على سواء، فإن لم تؤثر الشمس فيه لم يكره فسواء ما قصد به الشمس، وما طلعت عليه الشمس من غير قصد، وذهب بعض أصحابنا إلى أن المكروه منه ما قصد به الشمس دون ما طلعت عليه الشمس من غير قصد، لأن النبي - صلى الله عليه وسلم  - قال لعائشة: " لا تفعلي " فكان النهي متوجها إلى الفعل وهذا غير صحيح، لأن النبي - صلى الله عليه وسلم  - قد نص على معنى النهي وأنه يورث البرص وهذا المعنى لا يختص بالقصد دون غيره، وكذا أيضا لا فرق بين ما حمي بالشمس في بلاد تهامة والحجاز، وبين ما حمي بها في سائر البلاد، وكان بعض أصحابنا يجعل النهي مخصوصا بما حمي بتهامة والحجاز لأنه هناك تورث البرص دون ما حمي بالعراق وسائر البلاد، وهذا التخصيص إنما هو إطلاق قول بغير دليل مع عموم النهي الشامل لجميع البلاد، فأما ما حمي بالشمس ثم برد فقد اختلف أصحابنا في كراهة استعماله على وجهين: أحدهما: أنه على حال الكراهة لثبوت الحكم له قبل البرد. والوجه الثاني: أنه غير مكروه، لأن معنى الكراهة كان لأجل الحمي، فإذا زال الحمي زال معنى الكراهة، وكان بعض متأخري أصحابنا يقول: ينبغي أن يرجع فيه إلى عدول الطب فإن قالوا: إنه بعد برده يورث البرص كان مكروها، وإن قالوا: إنه لا يورث البرص لم يكن مكروها، وهذا لا وجه له، لأن الأحكام الشرعية لا تثبت بغير أهل الاجتهاد في الشريعة، لأن من الطب من ينكر أن يكون الماء المشمس يورث البرص ولا يرجع إلى قوله فيه

Nihayatul Mathlab, Juz : 1  Hal : 17

وقال الأئمة: إنما ثبتت الكراهية بشيئين يجتمعان، أحدهما - أن يجرى [التشميس] في البلاد الحارة، دون المعتدلة والباردة. والثاني - أن يكون التشميس في الجواهر التي ذكرناها، فإن حمي الشمس إذا اشتد على الماء فيها، فقد يعلوها شىء كالهباء، وهو الضار فيما قيل. فأما التشميس في الخزف والغدران ، فلا يضر أصلا. وإذا كان المرعي أمرا يتعلق بالطب، فلا فرق بين أن يشمس الماء قصدا، وبين أن تنتهي الشمس إلى إناء من غير قصد وخصص الشيخ أبو بكر النحاس بالاعتبار من سائر الأجناس. وأنا أقول: يبعد أن ينفصل من إناء الذهب والفضة، مع طهارتهما شيء محذور، وكان شيخي يطرد قوله فيما ينطبع وينطرق.
وقال العراقيون: تختص الكراهة بما قصد تشميسه دون ما يتفق، ولم يتعرضوا لتفصيل الجواهر، وهذا غلط.
وأنا أقول: ليست الكراهية في هذا الفصل مؤثرة في تنقيص مرتبة الطهارة؛ فإن سبب الكراهية حذار الوضح ، وهذا يتعلق بالاستعمال في الوجوه كلها

Nihayatul Muhtaj, juz : 1  Hal : 69-70

 ويكره) تنزيها (المشمس) أي ما سخنته الشمس كما قاله الشارح ردا على ما قال: إن حقه أن يعبر بمتشمس، وسواء أكان قليلا أم كثيرا ولو مائعا دهنا كان أو غيره لاطراد العلة في الجميع، بل الدهن أولى لشدة سريانه في البدن سواء المشمس بنفسه أم لا، لكن بشرط أن يستعمله في البدن في طهارة أو غيرها كأكل وشرب، سواء أكان استعماله لحي أم ميت، وإن أمن منه على غاسله أو من إرخاء بدنه أو من إسراع فساده، إذ في استعمال ذلك فيه إهانة له وهو محترم كما في الحياة، ولا فرق في ذلك بين الأبرص وغيره، ومن عمه البرص وغيره لخوف زيادته أو شدة تمكنه لما روي «أن عائشة - رضي الله عنها - سخنت ماء في الشمس للنبي - صلى الله عليه وسلم - فقال: لا تفعلي يا حميراء فإنه يورث البرص» . وهذا وإن كان ضعيفا لكنه يتأيد بما روي عن عمر - رضي الله عنه - أنه كان يكره الاغتسال به وقال: إنه يورث البرص كما رواه الشافعي، ودعوى من قال: إنه لم يثبت فيه عن الأطباء شيء وترد بأنها شهادة نفي لا يحسن بها رد قول الشافعي، ويكفي في إثباته خبر من الذي هو أعرف بالطب من غيره. وضابط المشمس أن تؤثر فيه السخونة بحيث تفصل من الإناء أجزاء سمية تؤثر في البدن، لا مجرد انتقاله من حالة لأخرى بسببها، وإن نقل في البحر عن الأصحاب الاكتفاء بذلك، وشمل ذلك ما لو كان الماء مغطى حيث أثرت الشمس فيه التأثير المار وإن كان المكشوف أشد كراهة لشدة تأثيرها فيه، ويشترط أن يكون في منطبع كحديد ونحاس ليخرج به غيره كالخزف والخشب والجلود والحياض، إلا أن يكون المنطبع من ذهب أو فضة لصفاء جوهرهما فلا ينفصل منهما شيء ولا فرق فيهما، وفي المنطبع من غيرهما بين أن يصدأ أو لا، وأما المموه بأحدهما فالأوجه فيه أن يقال: إن كثر التمويه به بحيث يمنع انفصال شيء من أصل الإناء لم يكره، وإلا كره حيث انفصل منه شيء يؤثر، ويجري ذلك في الإناء المغشوش، وأن يكون بقطر حار ليخرج البارد كالشام والمعتدل كمصر؛ لأن تأثير الشمس فيهما ضعيف فلا يتوقع المحذور، وأن يكون وقتها ليخرج بذلك غيره وأن يبقى على حرارته، فلو برد زالت الكراهة

At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 58-59

وشروط كراهية الماء المشمس تسعة شروط, فإذا اختل شرط منها زالت الكراهة –غلى أن قال-  1- أن يتأثر بحرارة الشمس,  2- ان يستعمل حالة تأثره بالحرارة, أي : وهو ساخن.  3- أن يستعمله الحي(2).  4- أن يكون في إناء منطبع كالحديد والنحاس والرصاص, إلا الذهب والفضة(3).  5- ان يكون في وقت حار.  6- أن يستعمل في البدن لا في الثوب.  7- أن يكون في قطر حار(1) كالحجاز وحضر موت.  8- أن لا يتعين, بأن وجد غيره.  9- أن لا يخشى الالم, فإن خشي الألم حرم عليه الطهارة منه
......................................
2-فلا يكره استعماله في حق الميت عند ابن حجر, ولا فرق بين الحي والميت عند الرملي, فيكره استعماله لهما
3-لصفاء جوهرهما فلا ينفصل منهما شيئ من الزهومة
1-لأن تأثير الشمس في غيره ضعيف فلا يتوقع المحذور

Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 1  Hal : 87

قال المصنف رحمه الله : ولا يكره من ذلك إلا ما قصد إلى تشميسه فإنه يكره الوضوء به ومن أصحابنا من قال لا يكره كما لا يكره بماء تشمس في البرك والأنهار والمذهب الأول والدليل عليه ما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لعائشة وقد سخنت ماء بالشمس يا حميراء لا تفعلي هذا فانه يورث البرص
.............................................
الشرح : هذا الحديث المذكور ضعيف باتفاق المحدثين وقد رواه البيهقي من طرق وبين ضعفها كلها ومنهم من يجعله موضوعا: وقد روى الشافعي في الامام بإسناده عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه كان يكره الاغتسال بالماء المشمس وقال إنه يورث البرص وهذا ضعيف أيضا باتفاق المحدثين فإنه من رواية إبراهيم بن محمد بن أبي يحيى وقد اتفقوا على تضعيفه وجرحوه وبينوا أسباب الجرح إلا الشافعي رحمه الله فإنه وثقه فحصل من هذا أن المشمس لا أصل لكراهته ولم يثبت عن الاطباء فيه شئ فالصواب الجزم بأنه لا كراهة فيه

Fathul Qorib, Hal : 25-26

ثم المياه) تنقسم (على أربعة أقسام): -إلى أن قال-. (و) الثاني (طاهر) في نفسه (مطهر) لغيره (مكروه استعماله) في البدن، لا في الثوب؛ (وهو الماء المشمس) أي المسخن بتأثير الشمس فيه وإنما يكره شرعا بقطر حار في إناء منطبع إلا إناء النقدين لصفاء جوهرهما. وإذا برد زالت الكراهة. واختار النووي عدم الكراهة مطلقا
 
.........................................................................