Home » » Larangan memelihara anjing dan pengecualiannya

Larangan memelihara anjing dan pengecualiannya

Written By siroj munir on Minggu, 24 Februari 2013 | 20.21.00


Pertanyaan :
Assalammualaikum
Saya mau bertanya, apakah ada larangan memelihara seorang anak anjing? sedangkan orang-orang arab di eropa mereka banyak yang memeliharanya?
Tolong penjelasannya.Biar saya tahu sedalam2nya. Terimak kasih

( Dari : Eva Thalib Delattre )

Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Semua ulama' sepakat bahwasanya memelihara anjing itu hukumnya tidak boleh, kecuali bila ada hajat, seperti berburu, penjagaan dan kemanfaatan lain yang tidak dilarang oleh agama. Dalil dari larangan memelihara anjing adalah beberapa hadits yang diriwayatkan Nabi, diantaranya adalah sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam:

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا، إِلَّا كَلْبَ صَيْدٍ، أَوْ مَاشِيَةٍ، نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

“Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth." (Shohih Muslim, no.1574)

Dalam riwayat lain, sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam:

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا، إِلَّا كَلْبَ زَرْعٍ، أَوْ غَنَمٍ، أَوْ صَيْدٍ، يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

“Barangsiapa memanfaatkan anjing selain anjing yang disuruh menjaga tanaman atau menjaga hewan ternak atau anjing untuk berburu, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qiroth.” (Shohih Muslim, no.1574)

( Imam Al-Munawi menjelaskan, Qiroth adalah satuan ukuran yang hanya diketahui oleh Alloh kadarnya.)

Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa memelihara anjing itu tidak diperbolehkan kecuali untuk tujuan berburu dan menjaga tanaman atau binatang ternak.

Sedangkan memelihara anjing untuk tujuan menjaga perumahan atau menjaga pintu gerbang, dalam madzhab Syafi'i hukumnya masih diperselisihkan;

1. Sebagian ulama' melarangnya berdasarkan dhohir dari hadits diatas yang melarang memelihara anjing dan  hanya memperbolehkan memeliharnya untuk berburu dan menjaga tanaman atau hewan ternak,

2. Menurut pendapat sebagian ulama' lainnya, diantaranya Syekh Abu Ishaq berpendapat bahwa memelihara anjing untuk tujuan menjaga rumah hukumnya boleh, meskipun tidak termasuk dalam pengecualian larangan memelihara anjing dalam hadits nabi, namun bisa disamakan dengan pengecualian yang disebutkan dalam hadits.

Imam Nawawi menjelaskan, dari kedua pendapat tersebut, pendapat kedua adalah pendapat yang ashoh, diqiyaskan pada ketiga pengecualian yang disebutkan dalam hadits,berdasarkan illat (alasan) yang dipahami dari ketiga hal yang dikecualikan diatas, yaitu adanya hajat.

Maka dari itu, apabila hajat yang memperbolehkan pemeliharaan anjing sudah tidak ada, maka hukumnya kembali pada hukum asal, yaitu diharomkannya memelihara anjing, sebagaimana yang dipahami dari penjelasan Syekh Qulyubi.

Kesimpulannya, hukum memelihara anjing, termasuk juga anak anjing adalah harom, kecuali untuk tujuan beburu, menjaga tanaman atau binatang ternak dan untuk menjaga rumah menurut pendapat ulama' yang memperbolehkannya. Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Slam Slamanya, Farid Muzakki dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 35  Hal : 124
2. Faidhul Qodir, Juz : 6  Hal : 81
3. Syarah An-Nawawi Ala Muslim, Juz : 10  Hal : 236
4. Al-Hawi Al-Kabir, Juz : 5  Hal : 379-380
5. Hasyiyah Qulyubi, Juz : 2  Hal : 197


Ibarot :
Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 35  Hal : 124

اقتناء الكلب
اتفق الفقهاء على أنه لا يجوز اقتناء الكلب إلا لحاجة: كالصيد والحراسة، وغيرهما من وجوه الانتفاع التي لم ينه الشارع عنها. –إلى أن قال- وقد ورد عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم، أنه قال: من اتخذ كلبا إلا كلب ماشية أو صيد أو زرع انتقص من أجره كل يوم قيراط. وعن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من اقتنى كلبا إلا كلب صيد، أو ماشية، نقص من أجره كل يوم قيراطان

Faidhul Qodir, Juz : 6  Hal : 81

قيراطان) أي قدرا معلوما عند الله إما بأن يدخل عليه من السيئات ما ينقص أجره في يومه وإما بذهاب أجره في إطعامه لأن في كل كبد حراء أجر أو بغير ذلك

Syarah An-Nawawi Ala Muslim, Juz : 10  Hal : 236

وأما اقتناء الكلاب فمذهبنا أنه يحرم اقتناء الكلب بغير حاجة ويجوز اقتناؤه للصيد وللزرع وللماشية وهل يجوز لحفظ الدور والدروب ونحوها فيه وجهان أحدهما لا يجوز لظواهر الأحاديث فإنها مصرحة بالنهي إلا لزرع أو صيد أو ماشية وأصحها يجوز قياسا على الثلاثة عملا بالعلة المفهومة من الأحاديث وهي الحاجة 

Al-Hawi Al-Kabir, Juz : 5  Hal : 379-380

فأما اتخاذ الكلاب لحراسة الدور والمنازل في المدن والقرى ففيه لأصحابنا وجهان: (أحدهما) وهو قول أبي إسحاق جواز اتخاذه لحراسة البيوت لما فيه من التيقظ والعواء على من أنكر فصار في معنى ما ورد الاستثناء فيه. (والوجه الثاني): أنه لا يجوز اتخاذه لحراسة الدور والبيوت في المدن لأنه قد يستغنى بالدروب والحراس فيها عن الكلاب؛ ولأن الكلاب لا تغني في المنازل ما تغني في الزرع والمواشي، لأن حفظ المنازل من الناس، والكلب ربما احتال الإنسان عليه بلقمة يطعمه حتى يألفه فلا ينكره إذا ورد للسرقة والتلصص، والزروع والمواشي تحفظ من الوحش والسباع فلا يتم فيها حيلة في ألف الكلب لها فافترق المعنى فيهما

Hasyiyah Qulyubi, Juz : 2  Hal : 197

قوله: (فلا يصح بيع الكلب) ولا يجوز اقتناؤه إلا لحاجة بقدرها كحراسة ماشية وزرع وصيد، ويجب زوال اليد عنه بفراغها