Home » , , » Cara membayar hutang yang sudah berlangsung sangat lama

Cara membayar hutang yang sudah berlangsung sangat lama

Written By siroj munir on Kamis, 21 Februari 2013 | 12.47.00


Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr wb.
Para yai, guru, ustadz, aku ingin bertanya tentang masalah piutang.
Kasusnya 15 tahun yang lalu ada seseorang, sebut sajasi A punya hutang pada si B sebesar  5 juta, waktu itu uang 5 juta bisa beli tanah satu petak. Sekian lama akhirnya si A mau bayar pada si B sebesar 5 juta, tapi di tolak oleh si B kecuali sebesar 15 juta. dengan alasan nominal uang waktu dulu dengan sekarang beda, bahkan harga satu petak sekarang sudah 15 juta. Dalam kasus seperti ini kewajiban si A untuk membayar utang 5 juta atau 15 juta ? dan apakah permintaan si B sebesar 15 juta itu dibenarkan ?

( Dari : Khamidah Nda )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Uang yang wajib dibayarkan oleh si A pada si B adalah 5 juta, dan tidak diwajibkan untuk menuruti kemauan si B untuk membayar hutang sebesar 15 juta. Alasannya sebab ketentuan yang berlaku dalam utang piutan adalah apabila barang yang dihutang bisa dikembalikan dengan barang yang sama maka kewajiban dari penghutang adalah membayar sesuai dengan apa yang ia hutang dari pemberi hutang. Sedangkan permintaan dari si B untuk meminta hutangnya dibayar 15 juta dengan alasan diatas tidak bisa dibenarkan, karena harga suatu barang itu tidak bisa dijadikan tolak ukur, sebab harga suatu barang itu akan mengalami kenaikan atau penurunan. Jadi ketentuan hukumnya tetap si A hanya wajib membayar uang sebesar % juta pada si B. 

Merski begitu, untuk menghindari pertikaian antara si A dan si B, sebaiknya si A memberikan kelebihan/tambahan saat membayar hutang yang sudah sangat lama itu. Hal ini sebagaimana ditetapkan oleh para ulama', bahwa disunatkan untuk melebihkan dalam membayar hutang berdasarkan beberapa hadits. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkanoleh Sahabat Abu Hurairoh rodhiyallohu anhu, beliau mengisahkan:

كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، فَأَغْلَظَ لَهُ، فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقً مَقَالاَ، اشْتَرُوالَهُ ُسِنًّا فَأَعْطُوهُ إِيَّاهُ، فَقَالُوا : إِنَّالاَ نَجِدُ إِلاَّ سِنَّا هُوَ خَيْرٌ مِنْ سِنَّهِ، قَالَ : فَاشْتَرُوهُ فَأَغْطُوهُ إِيَّاهُ، فَاإِنَ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنُْكُمْ قَضَاءً

“Pada suatu hari ada seseorang yang memiliki piutang seekor anak unta atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ketika piutang telah jatuh tempo dan ia datang menagih hutangnya, ia berkata-kata keras kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak ayal lagi para Sahabat geregetan ingin menindak lelaki tersebut, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka: “Sejatinya pemilik hak memiliki wewenang untuk menuntut dan menghardik. Belikanlah seekor anak unta dan berikan kepadanya.” Tanpa menunda-nunda, para Sahabat segera mencari unta yang seumur dengan unta yang dihutang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun mereka tidak mendapatkannya di pasar. Maka mereka kembali dengan bertanya kepada Nabi SAW “sejatinya kami tidak mendapatkan unta yang dijual selain unta yang lebih besar dari unta miliknya.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Belilah unta itu, lalu berikanlah kepadanya, sejatinya diantara orang yang paling baik dari kalian adalah orang yang paling baik ketika membayar hutang.” ( Shohih Bukhori no. 2260 dan Shohih Muslim no. 1601)

Kesimpulannya, hutang yang wajib dibayar oleh si A pada si B adalah 5 juta, bukan 15 juta, dan tindakan si B tidak bisa dibenarkan, namun diaanjurkankan bagi si A untuk melebihkan dalam membayar hutang, sebagaimana sunah Nabi dan sebagai langkah pencegahan timbulnya konflik antara keduanya. Wallohu a'lam.

( Di jawab oleh : Muh KHolili Aby Fitry, Ubaid Bin Aziz Hasanan, Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Ibnu Ma'mun dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Fathul Wahab, Juz : 1  Hal : 224-225
2 Hasyiyah Al Bujairomi Alal Minhaj, Juz : 2  Hal ; 354
3. Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, juz : 2  Hal ; 306
4. Al-Umm, Juz : 3  Hal : 33
5. Syarah Muslim Lin-Nawawi, Juz : 11  Hal : 37-38


Ibarot :
Fathul Wahab, Juz : 1  Hal : 224-225

الإقراض " هو تمليك الشيء على أن يرد مثله " سنة " لأن فيه إعانة على كشف كربة وأركانه أركان البيع كما يعلم –إلى أن قال- ويرد " المقترض المثلي " مثلا " لأنه أقرب إلى الحق " ولمتقوم مثلا صورة " لخبر مسلم أنه صلى الله عليه وسلم اقترض بكرا ورد رباعيا وقال: "إن خياركم أحسنكم قضاء" –إلى أن قال- " فلو رد أزيد " قدرا أو صفة " بلا شرط فحسن " لما في خبر مسلم السابق إن خياركم أحسنكم قضاء ولا يكره للمقرض أخذ ذلك

Hasyiyah Al Bujairomi Alal Minhaj, Juz : 2  Hal ; 354

قوله: ويرد المقترض) ولو نقدا أبطل السلطان المعاملة به ومثل النقد الفلوس الجدد وقد عمت بهذه البلوى في الديار المصرية في غالب الأزمنة فحيث كان لذلك قيمة أي غير تافهة رد مثله وإلا رد قيمته باعتبار أقرب وقت إلى وقت المطالبة له فيه قيمة ح ل وم ر

Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, juz : 2  Hal ; 306

ومن ذلك يتضح أنه يجوز قرض ما له مثل، وما له قيمة. فأما المثلي فإن على المقترض أن يرد مثله، سواء كانت نقوداً معدودة أو غيرها، فلو اقترض نقوداً وبطل العمل بها فلا يلزم إلا برد مثلها إذا كانت لها قيمة غير تافهة، أما إذا كانت لها قيمة تافهة فإنه يلزم برد قيمتها باعتبار أقرب وقت بالنسبة لوقت المطالبة بها، ومثلها الفلوس

Al-Umm, Juz : 3  Hal : 33

قال الشافعي : ......... ومن سلف فلوسا أو دراهم أو باع بها ثم أبطلها السلطان فليس له إلا مثل فلوسه أو دراهمه التي أسلف أو باع بها

Syarah Muslim Lin-Nawawi, Juz : 11  Hal : 37-38

حدثنا محمد بن بشار بن عثمان العبدي، حدثنا محمد بن جعفر، حدثنا شعبة، عن سلمة بن كهيل، عن أبي سلمة، عن أبي هريرة، قال: كان لرجل على رسول الله صلى الله عليه وسلم حق، فأغلظ له، فهم به أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «إن لصاحب الحق مقالا»، فقال لهم: «اشتروا له سنا، فأعطوه إياه»، فقالوا: إنا لا نجد إلا سنا هو خير من سنه، قال: «فاشتروه، فأعطوه إياه، فإن من خيركم، أو خيركم أحسنكم قضاء
...................................
وفيها أنه يستحب لمن عليه دين من قرض وغيره أن يرد أجود من الذي عليه وهذا من السنة ومكارم الأخلاق وليس هو من قرض جر منفعة فإنه منهي عنه لأن المنهي عنه ما كان مشروطا في عقد القرض ومذهبنا أنه يستحب الزيادة في الأداء عما عليه ويجوز للمقرض أخذها سواء زاد في الصفة أو في العدد بأن أقرضه عشرة فأعطاه أحد عشر