Home » , » Biografi Sayyid Abdulloh bin Umar Al-Hadhromi, pengarang kitab Safinatus Sholat

Biografi Sayyid Abdulloh bin Umar Al-Hadhromi, pengarang kitab Safinatus Sholat

Written By siroj munir on Senin, 22 April 2013 | 02.02.00


Kelahiran, Nama dan Nasab

Sayyid Abdulloh bin Umar Al-hadhromi dilahirkan didesa Al-Masilah, satu desa yang terletak diselatan kota tarim, Hadhromaut, Yaman. Beliau lahir pada malam jum’at, pada tanggal 20 Jumadil Ula tahun 1209 H, yang bertepatan pada tanggal 12 Desember tahun 1794 M. Ayah beliau adalah Sayyid Umar bin Abu Bakar bin umar bin Yahya, sedangkan beliau adalah Sayyidah Khodijah binti Husain bin Thohir

Nama dan nasab beliau adalah Abdulloh bin Umar bin Abu Bakar bin Umar bin Thoha bin Muhammad bin Syaikh bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alawi bin Muhammad (Maula Ad-Dawilah) bin Ali bin Alawi bin Muhammad (Al-Faqih Al-Muqoddam) bin Ali bin Muhammad (Shohib Mirbath) bin Ali (Kholi’ Qosam)bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad (Al-Muhajir Ilalloh) bin Isa bin Muhammad bin Ali (Al-Uraidhi) bin Ja’far (As-Shodiq) bin Muhammad (Al-Baqir) bin Ali (Zainul Abidin) bin Husain bin Fatimah (Az-Zahro’)binti Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Beliau termasuk salah satu dari “As-Sab’ah Al-Ubadalah Al-Hadhromiyyin’, yaitu 7 ulama’ masyhur di Hadhromaut yang memiliki nama Abdulloh dan hidup dalam satu masa. 7 ulama’ yang dimaksud adalah :

1.Abdulloh bin Abu Bakar ‘Aidid (wafat tahun 1255 H)

2.Abdulloh bin Ali bin Abdulloh bin Idrus bin Syihab  (1187 H – 1265)

3.Abdulloh bin Husain Bilfaqih (wafat tahun 1266)


4.Abdulloh bin Husain bin Thohir (wafat tahun 1272 H)

5.Abdulloh bin Umar bin Yahya, pengarah kitab Safinatus Sholat (wafat tahun1265)

6.Abdulloh bin Ahmad Basudan (wafat tahun 1266)

7.Abdulloh bin Sa’ad bin Sumair (wafat tahun 1262)

Perkembangan dan Pendidikan

Pada masa kecil, beliau diasuh dan dididik oleh ayah beliau bersama kedua paman beliau, Thohir dan Abdulloh, beliau mengikuti arahan – arahan yang diberikan oleh kedua paman beliau yang masyhur akan kealimannya itu bahkan hingga beliau sudah dewasa. Ciri khas dari pola didik yang beliau terima dari mereka adalah menggabungkan antara pendalaman ilmu fiqih, ilmu aqidah Sunni, politik dan zuhud dalam urusan dunia, pola pendidikan seperti itulah yang nampak nyata mempengaruhi karakter beliau.

Beliau pernah menceritakan masa belajarnya itu; “Pada saat masih kecil, beliau belajar kepada pamanku, Thohir bin Husain kitab “Fathul Jawad Syarah Al-Irsyad” dan aku mempelajari syarah – syarah kitab itu yang ada padaku, padanya, seperti; “Al-Imdad”, “Al-is’ad”, “At-Tamsyiyah” dan lainya, bersamaan dengan kitab “At-Tuhfah”, “An-Nihayah”, “Al-Mughni” dan lainnya. Semua kitab yang ditetapkan sebagai mata pelajaran aku hafalkan, begitu juga keterangan – keterangan yang diberikan saat pelajaran berlangsung, aku menghabiskan sepanjang malam untuk belajar sampai – sampai pernah suatu malam ibundaku mengambil dengan paksalampu yang aku pakai untuk belajar, karena kasihan melihatku yang sering tidak tidur dimalam hari”.

Selain tekun belajar, beliau juga tekun beribadah semenjak masa kecilnya, beliau biasa berlama – lama mengerjakan sholat dan selalu mengerjakan sholat malam.

Guru – Guru Sayyid Abdulloh

Dalam kitab ijazahnya, beliau menuturkan banyak nama – nama ulama’ yang pernah menjadi guru beliau. Diantara nama – nama tersebut adalah :

1. Di kampung halamannya, Al-Masilah beliau belajar pada Ayahnya sendiri, Sayyid Umar bin Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan kedua pamannya, Thohir dan Abdulloh, mereka berdua adalah putra Husain bin Thohir.

2..Di kota Tarim beliau belajar kepada Syaikh Umar dan Syaikh Alawi, keduanya adalah putra Ahmad bin Hasan bin Al-Allamah Abdulloh bin Alawi Al-haddad dan Syaikh Abdulloh bin Abu Bakar bin Salim ‘Aidid.

3.Di Syai’un (Seiyun/Seyon), beliau belajar pada Syaikh ‘Alawi bin Segaf bin Muhammad As-Segaf Ash-Shofi.

4.Di Taris, beliau belajar pada Syekh Abdurrohman bin Hamid bin Umar, Syekh Ahmad bin Umar bin Sumaith dan Syekh Segaf bin Muhammad Al-Jifri.

5.Di Dzi Shobah beliau belajar pada Syekh Hasan bin Sholih Al-Bahr Al-Jifri.

6.Di Ar-ridhoh, beliau belajar kepada Syekh Husain bin Hasan bin Ahmad Al-Idrus.

7.Di Du’an, beliau belajar pada Syekh Abdulloh bin Ahmad Basaudan.

8.Di Sakin Qosam, beliau belajar pada Syekh Hasan bin Abdulloh Al-Amudi dan Syekh Muhammad bin Salim Al-Jifri.

9.Di Sakin Malibar beliau belajar pada Syekh Alawi Muhammad bin Sahal.

10.Syekh Abdulloh bin Sa’ad bin Sumair.

11.Di Mekah, beliau belajar pada Syekh Aqil bin Umar bin Yahya dan Syekh Umar bin Abdul Karim bin Abdur Rosul Al-Aththor.

12.Di Zubaid, beliau belajar pada Syekh Abdurrohman bin Sulaiman Al-Ahdal dan Syekh Yusuf bin Muhammad Al-Baththoh Al-Ahdal.

Selain nama – nama diatas, masih ada lagi beberapa ulama’ yang menjadi guru beliau di Hadhromaut, Yaman, Haromain dan Mesir. Pada ulama’ – ulama’ tersebut beliau belajar ilmu tafsir, hadits, fiqih, tasawuf  dan ilmu – ilmu alat, dan disela – sela kegiatan beliau belajar pada guru – gurunya beliau tekun dalam belajar, dan hobi membaca kitab dan sangat bernafsu untuk mendapatkan kitab – kitab yang diinginkannya

Sayyid Abdulloh dan Sholat

Sayyid Abdulloh adalah orang yang sangat memperhatikan sholat dan mengagungkan sholat, beliau selalu memperhatikan untuk mengerjakan sholat di wal waktu, karena itulah beliau memiliki banyak jam, agar selalu tahu masuknya waktu sholat. Ketika sudah mengerjakan sholat beliau akan mengerjakannya dengan cara yang paling sempurna dan berlama – lama dalam sholatnya, berdirinya, rukuknya dan sujudnya dikerjakan dengan lama, sampai –sampai ketika sholat beliau menyuruh orang yang berada disampingnya untuk mengingatkannya agar rukuk atau sujud.

Putra beliau, Uqoil menceritakan bahwa ayahnya sangat memperhatikan sholat, bai itu sholat fardhu maupun sholat sunat, dan ketika beliau mengerjakan sholat beliau tak merasakan keadaannya, meskipun dalam keadaan sakit, apalagi hal – hal lainnya, dari situlah kami tahu bahwa saat sholat beliau merasakan kenikmatan terbesarnya”.  Sayyid Abdulloh sendiri pernah mengatakan; “Waktu istirahat didunia itu hanya ketika sholat, dan aku tidak memiliki waktu istirahat kecuali saat sholat”.

Pada saat beliau sakit keras, beliau berkata pada anak – anaknya; “tak ada yang lebih ku cintai untuk tetap hidup didunia kecuali untuk mengerjakan sholat, terutama sholat malam, untuk berdakwah ke jalan Alloh dan untuk mengajar kalian”. Karena perhatian beliau yang begitu besar pada sholat itulah beliau menulis satu kitab kecil bagi para pemula yang diberi nama “Safinatus Sholat”.

 Kedermawanan dan Kezuhudan Sayyid Abdulloh

Kedermawanan adalah salah satu sifat yang melekat pada beliau, dikisahkan  pada saat beliau kembali dari jawa menuju Hadhromaut beliau memiliki uang 1000 Riyal, namun ketika sampai di Hadhromaut uang itu sudah habis dan tak tersisa lagi karena telah disedekahkan sewaktu dalam perjalanan.

Pada saat ajal beliau telah dekat, beliau mengumpulkan semua ahli warisnya dan mengatakan pada mereka; “Mungkin kalian telah melihat bahwa aku termasuk orang yang terkenal, lalu kalian mengira aku memiliki simpanan berupa emas atau perak yang akan aku tinggalkan, aku tidak memiliki semua itu”. Dan setelah beliau wafat, lalu harta warisan beliau dibagikan, ternyata tak ada ahli waris yang mendapat bagian warisan lebih dari 40 riyal.

Karya – karya Sayyid Abdulloh

Beliau meninggalkan beberapa kitab yang ditulis semasa hidupnya, sebagian telah dicetak dan sebagian lainnya masih berupa manuskrip (makhthuth).

Berikut ini diantara beberapa kitab karya beliau :

1.Fatawi Syar’iyyah.

2.Safinatus Sholat.

3.Manasikul Hajji Wal Umroti Wa Adabuz Zyaroh An-Nabawiyah.

4.Tadzkirotul Mu’minin Bi Fadho’ili Itroti Sayyidil Mursalin.

5.As-Suyuf Al-Bawatir Li Man Yuqoddimu Sholatas Shubhi Alal Fajril Akhir.

6.Diwan Syi’ri/Al-Kalam Al-Mandhum Lil-Habib Al-Allamah Abdulloh bin Umar bin Yahya.

7.As’ilatun Haula Man Yadzkurunalloha Qiyaman Wa Qu’udan Wa Bi Anghom Al-Musiqi.

8.As-Saiful Battar Fi Man Yuwali Al-Kuffar Wa Yajlibul Hawa’ij Ilaihim.

9.Khobaru Ahlil Kasa’.

10.Tadzkirotu Ikhwanina Al-Hujjaj Bi Sukkani Surabaya.

11.Mudzakarotun Li Man Mala Ila Bid’atil Wahabiyah.

12.Ijazah Lil-Habib Al-Walid Husain bin Abdurrohman Al-Jifri

Wafatnya Sayyid Abdulloh

Setelah mengalami sakit yang bermacam – macam dan keadaan beliau semakin memburuk beliau wafat didesa Al-Masilah setelah lewatnya sepertiga malam, pada malam senin bulan Jumadil Ula tahun 1265 Hijriyah.


Referensi : Kata pengantar kitab “As-Suyuf Al-Bawatir Li Man Yuqoddimu Sholatas Shubhi Alal Fajril Akhir”, Hal : 6 - 49