Home » , » Biografi singkat Sayyid Abdulloh bin Husain bin Thohir, Pengarang kitab Sulam Taufiq

Biografi singkat Sayyid Abdulloh bin Husain bin Thohir, Pengarang kitab Sulam Taufiq

Written By siroj munir on Jumat, 19 April 2013 | 20.04.00



Sayyid Abdulloh bin Al-Husain bin Thohir Al-‘Alawi Al-Hadhromi adalah seorang ulama’ yang dikenal sebagai ahli ilmu fiqih yang bermadzhab Syafi’i dan sekaligus ahli ilmu nahwu. Beliau dilahirkan di Tarim, Hadhromaut, Yaman pada tahun 1191 H. Beliau pernah mukim beberapa tahun di Mekah dan Madinah dan belajar kepada beberapa ulama’ yang masyhur disana.

Setelah beberapa tahun di Mekah dan Madinah beliau kembali ke negaranya dan bermukim di Masilah, satu daerah yang terletak disebelah selatan kota Tarim. Setelah kembali ke nagaranya, beliau mengabdikan dirinya untuk memberikan ceramah  dan mengajarkan ilmu-ilmu agama dan mengisi waktu-waktunya untuk beribadah.

Semasa hidupnya beliau telah menulis beberapa kitab, diantaranya adalah “Sullamut Taufiq Ila Mahabbatillah Alat Tahqiq” dan “Miftahul I’rob”. Beliau wafat pada bulan Robi’ul Awwal tahun 1242 H.

Murid beliau, Al-Habib Al-Idrus bin Umar bercerita bahwa setiap hari gurunya membaca “Laa Ilaa ha Illalloh’ sebanyak 25.000 kali, membaca “Ya Alloh” sebanyak 25.000 kali dan membaca sholawat juga sebanyak 25.000 kali. Selain itu setiap akan mengerjakan sholat fardhu beliau mandi dan memakai minyak wangi.

Diantara petuah – petuah beliau :

“Bagi orang yang berdakwah, mengajak orang lain mengerjakan kebaikan dan mencegah meninggalkan kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar) hendaknya bersikap lembut dan belas kasihan pada semua orang. Mengajak mereka sedikit demi sedikit, dan apabila melihat mereka meninggalkan kewajiban maka suruh mereka untuk mengerjakan yang paling penting dari kewajiban-kewajiban tersebut, jika mereka mengerjakannya barulah suruh untuk mengerjakan yang lainnya.

Ajak mereka mengerjakan kebaikan dan takut-takuti agar tidak meninggalkan kewajiban atau melakukan kemungkaran. Namun lakukan semua itu dengan lembut dan belas kasihan, dan tanpa memandang apakah mereka memuji atau mencela, mereka memberikan sesuatu atau tak memberikan apa-apa, sebab jika sampai orang yang berdakwah memandang semua itu maka ia akan melakukan segala sesuatu dengan tujuan mudahanah (cari muka).

Dan apabila mereka melakukan banyak hal yang dilarang oleh agama dan tak menggubris larangan-larangan agama, maka beri tahu mereka tentang larangan – larangan tersebut sebagiannya saja, lalu lain kali beritahu larangan – larangan lainnya dan begitu pula seterusnya”.


Referensi : Umdatur Roghib Fi Mukhtashori Bughyatut Tholib,  Hal : 10