Home » , , » Terjemah kitab Safinatus Sholat (Haidh dan Nifas)

Terjemah kitab Safinatus Sholat (Haidh dan Nifas)

Written By siroj munir on Sabtu, 27 April 2013 | 12.52.00

Terjemah kitab : Safinatus Sholat

Penulis : Sayyid Abdulloh bin Umar Al-Hadhromi

Oleh : Siroj Munir

............................................................................


الثامن : أن تكون المرأة نقية من الحيض والنفاس ، فالحائض والنفساء لا تصح صلاتهما ولا قضاء عليهما

فإن دخل الوقت وهي طاهره فطرأ عليها الحيض والنفاس بعد أن مضى ما يسع واجبات تلك الصلاة وجب عليها قضاؤها

وإذا انقطع الحيض والنفاس ولم يعد فإن كان في وقت الصبح أو الظهر أو المغرب ولو بقي منه قدر ما يسع الله أكبر وجب قضاء ذلك الفرض

وإن كان في وقت العصر أو العشاء ولو بقي منه قدر ما يسع الله أكبر وجب قضاء ذلك الفرض والذي قبله وهو الظهر أو المغرب

التاسع : أن يعتقد أن الصلاة المفروضة التي يصليها فرض فمن اعتقدها سنه أو خلا قلبه عن العقيدتين أو التشكك في الفرضية لم تصح صلاته

العاشر : أن لا يعتقد ركنا من أركانها سنه ، فمن اعتقدها فروضا أوخلا قلبه عن العقيدتين أو تشكك في الفرضية أو اعتقد سنه من سنن الصلاة فرضا صحت صلاته

الحادي عشر : اجتناب مبطلات الصلاة الآتيه في جميع صلاته

الثاني عشر : معرفه كيفيتها بأن يعرف أعمالها وترتيبها كما يأتي


Kedelapan; Seorang wanita harus telah suci cari  haidh dan nifas, jadi sholat yang dikerjakan oleh wanita yang masih dalam keadaan haidh dan nifas itu tidak sah dan keduanya tidak diwajibkan meng-qodho’ (tidak diwajibkan mengerjakan sholat yang ditinggalkan selama haidh dan nifas).

Sedangkan ketika waktu sholat sudah tiba dan seorang wanita dalam keadaan suci kemudian wanita tersebut mengeluarkan darah haidh atau nifas setelah terlewatnya waktu yang mencukupi untuk mengerjakan kewajiban – kewajiban sholat tersebut (menutup aurot, bersuci dan mengerjakan sholat), maka diwajibkan bagi wanita tersebut untuk mengqodho’ sholat yang ditinggalkan tersebut (Sholat yang wajib diqodho’ hanya sholat yang ditinggalkan saat waktu sholat telah tiba dan tidak segera mengerjakan sholat).
.
Apabila haidh dan nifas telah berhenti dan tidak keluar kembali, maka :

1. Jika berhenti keluarnya darah tersebut pada waktu shubuh, dhuhur, atau maghrib dan masih tersisa waktu yang cukup untuk membaca “Allohu akbar” (takbirotul ihrom), (dan ia tidak bergegas sholat hingga waktunya keluar) maka wajib mengqodho’ sholat fardhu pada waktu itu (tergantung dari waktu berhentinya darah)..

2. Jika berhenti keluarnya pada waktu ashar atau isya’ dan masih tersisa waktu yang cukup untuk membaca “Allohu akbar” (dan ia tidak bergegas sholat hingga waktunya keluar), maka wajib mengqodho’ sholat fardhu pada waktu tersebut dan sholat fardhu sebelumnya, yaitu sholat dhuhur dan sholat maghrib (Apabila berhenti pada waktu ashar, wajib mengqodho’ sholat dhuhur dan ashar, sedangkan apabila berhenti pada waktu isya’ wajib mengqodho’ sholat maghrib dan isya’). 

( Keterangan : Maksud dari kalimat “masih tersisa waktu yang cukup untuk membaca Allohu akbar” adalah;  setelah haidh dan nifasnya berhenti keluar, masih tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan syarat – syaratnya sholat, yaitu bersuci dari najis dan hadats, setelah itu kemudian takbir untuk mengerjakan sholat, meskipun sebagian besar sholatnya dilakukan diluar waktu, dan sholatnya tetap dihukumi ada’, bukan qodho’).

Kesembilan; Meyakini bahwa sholat fardhu yang ia kerjakan hukumnya wajib, karena itu apabila seseorang meyakininya sebagai sebuah kesunatan atau tak meyakini keduanya atau ia ragu – ragu tentang kewajiban sholat tersebut maka sholatnya tidak sah.

Kesepuluh; tidak meyakini salah satu dari rukun – rukun sholat sebagai sebuah kesunatan, jadi apabila seseorang meyakini salah satu rukun tersebut sebagai sebuah kesunatan atau ia tidak meyakini keduanya atau ia ragu – ragu mengenai kewajiban rukun – rukun tersebut atau ia meyakinin rukun - rukun sholat sebagai suatu kewajiban, maka sholatnya tidak sah.

Kesebelas; Menjauhi perkara – perkara yang membatalkan sholat dalam keseluruhan sholatnya, yang akan dijelaskannanti.

Kedua belas; mengetahui tata cara mengerjakan sholat, dengan artian mengetahui semua pekerjaannya dan urutan – urutan praktek sholat, sebagaimana yang nanti akan dijelaskan.

..............................................................................................................................