Home » , » Hukum shalat jum’at 2 gelombang - Fatwa MUI

Hukum shalat jum’at 2 gelombang - Fatwa MUI

Written By siroj munir on Jumat, 31 Mei 2013 | 17.46



PELAKSANAAN SHALAT JUM`AT
2 (DUA) GELOMBANG

بسم الله الرحمن الرحيم

FATWA
MUSYAWARAH NASIONAL VI MAJELIS ULAMA
INDONESIA
Nomor : 5/MUNAS VI/MUI/2000
tentang
PELAKSANAAN SALAT JUM’AT 2 (DUA) GELOMBANG


Musyawarah Nasional VI Majelis Ulama Indonesia yang berlangsung pada tanggal 23-27 Rabiul Akhir 1421 H/ 25-28 Juli 2000 M dan membahas tentang Pelaksanaan Salat Jum’at 2 (dua) gelombang, setelah :

Menimbang :
1.  Bahwa terdapat sejumlah industri yang sistem operasionalnya bersifat nonstop 24 jam, tanpa henti, serta harus ditangani secara langsung dan terns menerus; dan jika operasionalnya dihentikan beberapa saat saja, atau tidak ditangani (ditunggu) secara langsung, mesin industri menjadi rusak yang pada akhirnya timbul kerugian besar dan para pekerja kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber ma’isyahnya;

2.  Bahwa dengan sifat industri seperti itu, muslim yang bekerja di industri tersebut tidak dapat melaksanakan shalat Jum’at kecuali jika dilakukan dengan dua gelombang, sehingga mereka bertanya-tanya tentang status hukumnya;

3.  Bahwa oleh karena itu, MUI dipandang perlu untuk menetapkan fatwa tentang hukum dimaksud.

Memperhatikan :
1.  Bekerja pada suatu industri sebagaimana dimaksud pada konsideran “menimbang” nomor [1] merupakan salah satu ‘uzur syar’i yang membolehkan untuk tidak melakukan salat Jum’at.

2.  Pendapat dan saran peserta sidang.

Menimbang  :
a.  bahwa terdapat sejumlah industri yang sistem operasionalnya bersifat nonstop 24 jam, tanpa henti, serta harus ditangani secara langsung dan terus menurus; dan jika operasionalnya dihentikan beberapa saat saja, atau tidak ditangani (ditunggu) secara langsung, mesin industri menjadi rusak yang pada akhirnya timbul kerugian besar dan para pekerja kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber ma’isyahnya;

b.  bahwa dengan sifat industri seperti itu, muslim yang bekerja di industri tersebut tidak dapat melaksanakan salat Jum’at kecuali jika dilakukan dengan dua gelombang, sehingga mereka bertanya-tanya tentang status hukumnya;

c.  bahwa oleh karena itu, MUI dipandang perlu untuk menetapkan fatwa tentang hukum dimaksud.

Mengingat  :
1.  Salat Jum’at adalah salah satu ibadah dalam Islam yang hukumnya fardu ‘ain, berdasarkan sejumlah dalil, antara lain:

1)  Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (الجمعة : 9

“Hai orang yang beriman! Apabila sudah diserukan untuk menunaikan salat pada hari Jum’at, segeralah mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli; itu akan lebih baik bagimu jika kamu tahu”(QS. al-Jumu’ah [62]: 9).

2)  Hadis riwayat Imam Muslim dari `Abdullah ibn Mas’ud:

أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لِقَوْمٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنِ الْجُمُعَةِ: «لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِالنَّاسِ، ثُمَّ أُحَرِّقَ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوتَهُمْ (رواه مسلم، انظر صحيح مسلم، الجظء الأول، بيروت: دار الفكر، 1993، ص: 290

“Nabi saw berkata kepada kaum yang meninggalkan salat Jum’at: ‘Saya sudah berniat untuk memerintahkan seorang laki-laki agar menjadi imam salat, kemudian saya akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan salat Jum’at.’”

3)  Hadis riwayat Imam Muslim dari `Abdullah ibn Umar dan Abu Hurairah, bahwa keduanya mendengar Rasulullah berkata, di atas mimbar kayunya:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ (رواه مسلم، ص: 379

“Hendaklah orang-orang berhenti mening-galkan salat Jum’at, atau Allah akan meng-unci hati mereka, kemudian mereka men-jadi orang yang lupa.”

2.  Sebagai suatu ibadah, bentuk maupun tatacara pelaksanaan salat Jum’at harus mengikuti segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh hukum Islam (Syari’ah) serta dipraktikkan oleh Rasulullah. Kaidah Fiqh menegaskan:

لا تشرع عبادة إلا بشرع الله (الدكتور وهبة الزحيلي، نزرية الضرورة الشرعية، دمشق: مكتبة الفارابي، 1969، ص: 32

“Suatu ibadah tidak disyari’atkan kecuali disyari’atkan oleh Allah.”

الأصل فى العبادات التوقيف، فلا يتعبد الله إلا بما شرعه الله في كتابه وعلى لسان رسوله محمد صلى الله عليه وسلم، فإن العبادة حق خالص لله تعالى قد طلبه من عباده بمقتضى ربوبيته لهم. وكيفية العبادة وهيئتها والتقرب بها لا يكون الا على الوجه الذي شرعه وأذن به. قال تعالى : أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله -الشورى: 21- (الدكتور صالح بن عبد الله بن حميد، رفع الحرج في الشريعة الإسلامية ضوابطه وتطبيقاته، دم:دار الإستقامة، الطبعة الثانية، 1412 ﻫ ص: 10

“Hukum asal dalam masalah ibadah adalah tauqif (mengikuti ketentuan dan tata cara yang telah ditetapkan oleh Syari’ah). Karena itu, tidak dibenarkan beribadah kepada Allah kecuali dengan peribadatan yang telah disyari’atkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan melalui penjelasan Rasul-Nya, Muhammad saw. Hal itu karena ibadah adalah hak murni Allah yang Ia tuntut dari para hamba-Nya berdasarkan sifat rububiyah-Nya terhadap mereka. Tata cara, sifat, dan ber-taqarrub (melakukan pendekatan diri kepada Allah) dengan ibadah hanya boleh dilakukan dengan cara yang telah disyari’atkan dan diizinkan-Nya. Ia berfirman: ‘Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (selain Allah) yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?...’ (QS. asy-Syura [42]: 21).”

العبادات مبناها على التوقيف والإتباع، لا على الهوى والابتداع. ففي الصحيحين عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد (ابو الفضل عبد السلام بن محمد بن عبد الكريم، التقريب والتهذيب لعلوم شيخ الإسلام، الاعتصام بالكتاب والسنة، لشيخ الإسلام ابن تيمية، دار الفتوح الإسلامية، الطبعة الأولى، 1995، 2: 81

“Ibadat itu didasarkan pada tauqifdan ittiba’ (mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi), bukan pada hawa nafsu dan ibtida’(cipataan sendiri). Ditegaskan dalam dua kitab hadis sahih (Sahih Bukhari dan Sahih Muslim), dari ‘A’isyah, dari Nabi saw., ia bersabda, ‘Barang siapa mengada-adakan dalam agama kita ini sesuatu yang bukan dari agama, maka ia ditolak.’”

3. Sejak masa Nabi sampai dengan abad kedua puluh Masehi, masalah pelaksanaan salat Jum’at dua gelombang belum pernah dibicarakan atau difatwakan oleh para ulama. Hal ini menunjukkan bahwa masalah tersebut tidak dibenarkan dan tidak dapat dipandang sebagai masalah khilafiyah. Atas dasar itu, ketika surat kabar al-Jumhuriyah (Mesir), edisi 7 April 1955, menyiarkan sebuah keputusan (qarar) tentang kewajiban wanita melaksanakan salat Jum’at yang dilakukan sebelum pelaksanaan salat Jum’at oleh kaum pria, ulama terkemuka saat itu, Mahmud Syaltut, menegaskan, antara lain, sebagai berikut:

والدعوة إلى إقامة الجمعة مرتين في مكان واحد ووقت واحد في جماعتين بخطبتين لم تعهد في حاظر الإسلام ولا ماضيه، ولم يعرف لها سند في أصل التشريع، وإذن تكون هذه الثالثة أيضا تشريعا بما لم يأذن به الله. (محمود شلتوت، الفتاوى، [القاهرة: دار القلم، دس]، الطبعة الثالثة، ص: 93

“Himbauan untuk melakukan salat Jum’at dua kali di satu tempat dan pada waktu yang sama --kecuali diselingi waktu untuk memberikan kesempatan kepada gelombang pertama keluar dan gelombang kedua masuk masjid dalam dua kali berjamaah dan dengan dua kali khutbah, belum pernah dikenal, baik pada masa sekarang maupun pada masa lalu, juga tidak mempunyai sandaran (dasar) dalam syari’ah. Dengan demikian, hal ketiga ini dipandang sebagai tasyri’(penetapan hukum) sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah.”

4.  Pendapat sebagian ulama bahwa pelaksanaan salat Jum’at lebih dari satu kali tidak dibenarkan. Pendapat tersebut, antara lain, tercantum dalam kitab:

أما غير المأموم فلا يجوز استخلافه لأنه يشبه إنشاء جمع بعد أخرى وهو ممتنع (سليمان الكردي، الحواشي المدنية، الجزء الثاني، ص: 76

“Imam (ketika tidak dapat meneruskan salatnya karena hadas, misalnya) tidak boleh meminta selain makmum untuk menggantikan posisinya, karena hal itu serupa dengan melaksanakan salat Jum’at sesudah salat Jum’at yang lain; dan hal itu dilarang (tidak dibenarkan).”

2)  Tanwir al-Qulub:

حتى إذا كان يوم الجمعة لم يقيموها إلا في مسجده صلى الله عليه وسلم، ولم يرخص عليه الصلاة والسلام مع فرط حبه للتيسير على أمته في أن يقيموها في مساجد متعددة، أو يصلي بمن تيسر ل الحضور أول الوقت ويأذن في أن تقام بعده جمعة وجمعة وثالثة، وهكذا لباقى الذين لا يستطيعون أن يحضروا، وكان ذلك أيسر عليهم لو كان. وعلىسنته السنية درج خلفاؤه الكرام (تنوير القلوب، الجزء الأول، 2: 189

“...Hingga ketika tiba hari Jum’at, mereka (para sahabat) tidak melakukan salat Jum’at kecuali di masjid Nabi. Betapapun sangat senang untuk memberikan kemudahan kepada umatnya, Nabi tidak memberikan rukhsah(keringanan) kepada mereka untuk melaksanakan Jum’at di beberapa masjid, atau ia melakukan salat Jum’at bersama orang yang dapat hadir di awal waktu dan mengizinkan melakukan salat Jum’at lagi, sedudahnya, satu salat Jum’at lagi, dan seterusnya, bagi mereka yang tidak dapat hadir (untuk salat bersama Nabi); padahal, hal itu akan lebih memudahkan mereka andai kata boleh. Para khalifah yang mulia pun mengikuti jejak Nabi tersebut.”

5.  Ulama Mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) sependapat bahwa orang yang tidak dapat ikut melaksanakan salat Jum’at hanya diwajibkan salat Zuhur, bukan salat Jum’at. Perbedaan pendapat hanya terjadi tentang manakah yang afdal salat Zuhur itu dilaksanakan dengan berjamaah atau tidak. Hal itu dikemukakan oleh Al-Jaza’iri sebagai berikut:

من فاتته الجمعة لعذر أو لغيره جاز له أن يصلي الظهر جماعة
الحنفية قالوا: من فاتته صلاة الجمعة لعذر أو لغيره يكره له صلاة ظهر الجمعة بالمصر بجماعة، أما أهل البوادي الذين لا تصح منهم الجمعة فيجوز لهم صلاة ظهر الجمعة بجماعة من غير كراهة، لأن يوم الجمعة بالنسبة لهم كغيره من باقي الأيام
الشافعية قالوا: من فاتته الجمعة لعذر أو لغيره سن له أن يصلي الظهر في جماعة، ولكن إن كان عذره ظاهراً كالسفر ونحوه سن له أيضاً إظهار الجماعة، وإن كان عذره خفياً، كالجوع الشديد، سن إخفاء الجماعة، ويجب على من ترك الجمعة بلا عذر أن يصلي عقب سلام الإمام فوراً
الحنابلة قالوا: من فاتته الجمعة لغير عذر أو لم يفعلها لعدم وجوبها عليه، فالأفضل له أن يصلي الظهر في جماعة مع إظهاره، ما لم يخش الفتنة من إظهار جماعتها؛ وإلا طلب إخفاءها
المالكية قالوا: تطلب الجماعة في صلاة الظهر يوم الجمعة من معذور يمنعه عذره من حضور الجمعة، كالمريض الذي لا يستطيع السعي لها والمسجون؛ ويندب له إخفاء الجماعة لئلا يتهم بالإعراض عن الجمعة؛ كما يندب له تأخيرها عن صلاة الجمعة، أما من ترك الجمعة بغير عذر أو لعذر لا يمنعه من حضورها، كخوف على ماله لو ذهب للجمعة، فهذا يكره له الجماعة في الظهر (عبد الرحمن الجزيري، كتاب الفقه على المذاهب الأربعة، [بيروت: دار الفكر، دس]، الجزء الأول، 2: 402


6.  Hadis Nabi SAW.:

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ (رواه البخاري ومسلم

“Jika aku memerintahkan kepadamu suatu hal, lakukanlah semampumu”  (HR. Bukhari dan Muslim).

MEMUTUSKAN

Menetapkan  :  
FATWA MUSYAWARAH NASIONAL VI MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PELAKSANAAN SALAT JUM’AT DUA GELOMBANG

1.  Pelaksanaan salat Jum’at dua gelombang (lebih dari satu kali) di tempat yang sama pada waktu yang berbeda hukumnya tidak sah, walaupun terdapat ‘uzur syar’i (alasan yang dibenarkan secara hukum).

2.  Orang Islam yang tidak dapat melaksanakan salat Jum’at disebabkan suatu ‘uzur syar’i hanya diwajibkan melaksanakan salat Zuhur.

3.  Menghimbau kepada semua pimpinan perusahaan/industri agar sedapat mungkin mengupayakan setiap pekerjanya yang muslim dapat menunaikan salat Jum’at sebagaimana mestinya.

4.  Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap muslim yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal: 28 Juli 2000


MUSYAWARAH NASIONAL VI TAHUN 2000
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua
ttd
Prof. Dr. Umar Shihab

Sekretaris
ttd
Dr. H. M. Dien Syamsuddin


Sumber : Situs Resmi Majelis Ulama Indonesia
http://www.mui.or.id/

0 komentar :

Poskan Komentar