Home » , » Batasan pelaksanaan puasa daud

Batasan pelaksanaan puasa daud

Written By siroj munir on Sabtu, 01 Juni 2013 | 15.32.00



Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr.wb.
Aku mau tanya tenntang puasa daud, sebenarnya puasa dawud apa da btasannya? Tolong butuh pnjelasan. Terimakasih

( Dari : Ad'hania Si Violet Maniez )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh

Batasan pelaksanaan puasa dawud adalah sebagai berikut :

1. Tidak dikerjakan pada bulan romadhon, ini sudah maklum sebab pada bulan romadhon diwajibkan melaksanakan puasa sebulan penuh, sedangkan puasa dawud dikerjakan dengan cara sehari puasa kemudian hari berikutnya tidak berpuasa.

2. Tidak dikerjakan pada hari-hari yang diharamkan mengerjakan puasa, yaitu :

a) Hari raya idul fitri dan idul adha, berdasarkan hadits;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ

“Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang berpuasa pada dua hari, yaitu pada hari Idul Adlha dan Idul Fithri.” (Shohih Muslim, no.1138)

b) Hari tasyriq (3 hari setelah hari raya idul adha), berdasarkan hadits;

عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ وَأَوْسَ بْنَ الْحَدَثَانِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ فَنَادَى أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Dari Ibnu Ka'b bin Malik dari bapaknya bahwa ia telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutusnya bersama Aus bin Al Hadatsan pada hari-hari Tasyriq, lalu ia menyerukan; "Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali peribadi yang mukmin, dan hari-hari di Mina merupakan hari makan-makan dan minum." (Shohih Muslim, no.1142)

Dan hadits;

عَنْ أَبِي مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَلَى أَبِيهِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَرَّبَ إِلَيْهِمَا طَعَامًا فَقَالَ كُلْ فَقَالَ إِنِّي صَائِمٌ فَقَالَ عَمْرٌو كُلْ فَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِإِفْطَارِهَا وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا. قَالَ مَالِكٌ وَهِيَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ

“Dari Abu Murrah mantan budak Ummu Hani` bahwa ia ia bersama Abdullah bin 'Amr menemui ayahnya yaitu 'Amr bin Al 'Ash, kemudian ia mendekatkan makanan kepada keduanya lalu berkata; makanlah. Lalu Abu Murrah berkata; sesungguhnya saya sedang berpuasa. Kemudian 'Amr berkata; makanlah, ini adalah hari yang kami diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam agar berbuka dan melarang kami untuk melakukan puasa padanya. Malik berkata; hari-hari tersebut adalah hari-hari Tasyriq.” (Sunan Abu Dawud, no.2418)

c) Yaumusy syak (hari yang masih belum jelas apakah hari tersebut termasuk bulan sya’ban atau sudah masuk bulan ramadhan), berdasarkan hadits;

عَنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ فَأُتِيَ بِشَاةٍ مَصْلِيَّةٍ فَقَالَ كُلُوا فَتَنَحَّى بَعْضُ الْقَوْمِ فَقَالَ إِنِّي صَائِمٌ فَقَالَ عَمَّارٌ مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يَشُكُّ فِيهِ النَّاسُ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari Shilah bin Zufar dia berkata, ketika kami bersama 'Ammar bin Yasir lalu dihidangkan kambing yang telah dibakar, kemudian dia berkata, Makanlah. Lantas sebagian orang beranjak mundur sambil berkata, saya sedang berpuasa, dia berkata, barang siapa yang berpuasa pada hari syak (yang diragukan apakah tanggal tiga puluh sya'ban atau awal Romadloan) maka dia telah durhaka terhadap Abul Qosim (Rosulullah) shollallohu ‘alaihi wasallam.” (Sunan Tirmidzi, no.686 dan Sunan Abu Dawud, no.2334)

d) Puasa separo kedua dari bulan sya’ban (mulai tanggal 16 sampai akhir bulan), berdasarkan hadits;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلَا صَوْمَ حَتَّى يَجِيءَ رَمَضَانُ

“Dari Abu Hurairoh ia berkata, "Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika tiba pertengahan sya'ban maka tidak ada puasa hingga datang bulan romadlon." (Sunan Ibnu Majah, no.1651)

Hanya saja keharoman melaksanakan puasa daud pada yaumus syak dan separo krdua bulan sya’ban apabila sebelumnya tidak mengerjakan puasa dawud. Jadi jika sebelumnya telah mengerjakan puasa daud diperbolehkan mengerjakan puasa dawud pada yaumus syak dan separo krdua bulan sya’ban. Dalilnya adalah hadits;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mendahului Ramadlan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang telah terbiasa berpuasa sebelumnya." (Shohih Bukhori, no.1815 dan Shohih Muslim, no. 1082)

3. Syaikh Al-Buhuti, seorang ulama’ dari kalangan madzhab Hanbali dalam kitab beliau Ar-Raudhul Murbi’ menambahkan, bahwa syarat diperrolehnya fadhilah (keutamaan) puasa daud adalah puasa tersebut tidak menyebabkab orang yang mengerjakannya menjadi lemah sehingga tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang lebih utama dari puasa sunat tersebut, seperti menjalankan hak-hak alloh dan hak-hak hambanya yang wajib ia kerjakan (semisal mencari nafkah untuk keluarga), apabila perkara yang lebih utama dari puasa tersebut tidak bisa dikerjakan dengan baik lantaran ia sedang berpuasa, maka lebih baik ia tidak berpuasa.

Wallohu a’lam.

( Dijawab oleh : Siroj Munir dan Khalielahmadalfarohidie Dzu Himmatil'ulya )


Referensi :

1. Hasyiyah Qulyubi Ala Syarhil Mahalli, Juz : 2  Hal : 294
2. Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 2  Hal : 102 - 104
3. Hasyiyah Ar-Rhoudhul Murbi, Juz : 3  Hal : 455 - 456


Ibarot :
Hasyiyah Qulyubi Ala Syarhil Mahalli, Juz : 2  Hal : 294


ويندب صيام داود كان يصوم يوما ويفطر يوما

Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 2  Hal : 102 - 104


يحرم صيام الأيام التالية
صيام يومي عيد الفطر والأضحى. ودليل ذلك ما رواه مسلم (1138) عن أبي هريرة - رضي الله عنه -: أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - نهى عن صيام يومين: يوم الأضحى، ويوم الفطر

صوم أيام التشريق الثلاثة: وهي الأيام التي تلي يوم عيد الأضحى، ودليل تحريم صومها ما رواه مسلم (1142) عن كعب بن مالك - رضي الله عنه - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - بعثه، وأوس بن الحدثان أيام التشريق، فنادى: " أنه لا يدخل الجنة إلا مؤمن، وأيام منى أيام أكل وشرب". وروى أبو داود (2418) عن عمرو بن العاص - رضي الله عنه - قال: " فهذه الأيام التي كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يأمرنا بإفطارها وينهانا عن صيامها " قال مالك: وهي أيام التشريق

صوم يوم الشك: وهو يوم الثلاثين من شعبان، حيث يشك فيه الناس: هل هو من شعبان، أو من رمضان؟ وحيث لم تثبت رؤية الهلال فيه. فلا يجوز صومه، بل ينبغي اعتباره يوماً متبقيا من شعبان. ودليل تحريم صيامه ما رواه أبو داود (2334) والترمذي (686) وصححه ـ عن عمار بن ياسر - رضي الله عنه - عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: " من صام اليوم الذي يشك فيه الناس فقد عصى أبا القاسم - صلى الله عليه وسلم

صوم النصف الثاني من شعبان: ودليل ذلك ما رواه أبوداود (2337) والترمذي (738) ـ وصححه ـ عن أبي هريرة - رضي الله عنه - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: " إذا انتصف شعبان فلا تصوموا". وعند ابن ماجه (1651)  إذا كان النصف من شعبان فلا صوم حتى يجيء رمضان

لكن تنتفي حرمة صوم يوم الشك، والنصف الثاني من شعبان إذا وافق عادة للصائم، أو وصل صيامه بما قبل النصف الثاني من شعبان. روى البخاري (1815) ومسلم (1082) واللفظ له عن أبي هريرة - رضي الله عنه - عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: "لا تقدموا رمضان بصوم يوم أو يومين، إلا رجل كان يصوم صوماً فليصمه

Hasyiyah Ar-Rhoudhul Murbi, Juz : 3  Hal : 455 - 456

وأَفضله) أَي أَفضل صوم التطوع (صوم يوم، وفطر يوم) لأمره عليه السلام عبد الله بن عمرو وقال «هو أفضل الصيام» متفق عليه. وشرطه أن لا يضعف البدن، حتى يعجز عما هو أفضل من الصيام، كالقيام بحقوق الله تعالى، وحقوق عباده اللازمة وإلا فتركه أفضل