Home » » CARA TEPAT DALAM MENCUCI BAJU DAN MENSUCIKAN NAJIS

CARA TEPAT DALAM MENCUCI BAJU DAN MENSUCIKAN NAJIS

Written By Dadak Raden on Selasa, 04 Juni 2013 | 12.37.00

CARA TEPAT DALAM MENCUCI BAJU DAN MENSUCIKAN NAJIS Praktek pensucian najis merupakan salah satu kajian yang terkadang kurang di cermati oleh masyarakat, sehingga mungkin karena terlalu minimnya pemahaman akan sub ini seringkali kita melihat praktek pensucian yang alih-alih bukan menghilangkan najis, malah justru membuat area najasah tersebut menjadi semakain luas.Mengutip statement Imam Al-Ghozali dalam masterpeace beliau "Ihya' 'Ulumuddin", sebenarnya konsep najasah cukup sederhana dan ringan, hal ini sebenarnya dapat kita fahami dengan melihat beberapa catatan history yang mengisahkan bahwa masyarakat di masa rosululloh terbiasa tanpa mengenakan alas kaki, juga kenyataan bahwa tempat-tempat air masyarakat saat itu biasa di jamah oleh anak kecil atau sahaya yang tentunya tidak begitu memperhatikan mengenai najasah, toh begitu belum ada keterangan bahwa para sahabat pernah menanyakan bagaimana cara menjaga air mereka agar tidak sampai terkena najis atau keterangan-keterangan yang terlalu mendalam berkaitan dengan problematika najasah, hikayah bahwa sahabat 'umar pernah berwudhu' dari wadah air seorang wanita nasrani yang tentunya sering bergumul dengan najis, juga banyaknya hukum ma'fu yang sering kali di berikan dalam kajian najasah juga merupakan bukti akan ringannya justifikasi para pakar fiqh dalam hal ini. Salah satu kontrofersi yang akan sedikit kami jabarkan di sini adalah mengenai cara tepat untuk mencuci baju yang terkena najis. Dalam hal ini terdapat beberapa beberapa pilihan cara yang bisa di praktekkan :• Mengucurkan air pada baju yang terkena najis, dalam skala yang di rasa cukup untuk dapat menhilangkan najis dan membersihkan baju dari najis tersebut, atau dalam sebagian pendapat lain menyatakan bahwa air yang di kucurkan adalah tujuh kali lipat dari air kencing yang mengenai baju tadi (di umpamakan najis yang mengenai baju adalah air kencing), atau pendapat Imam Anmathi dan Imam Ashthokhri yang mengharuskan untuk air kencing dari tiap satu indifidu harus di kucuri air satu timba besar sehingga jika air kencingnya adalah air kencing dari seratus orang maka harus di kucuri dengan air seratus timba besar. Mengenai ketentuan untuk memeras baju, masih terdapat perbedaan pendapat dengan menganalogikan hal ini pada permasalahan status najis pada air sisa pembasuhan, yang menurut pendapat ashoh di hukumi suci jika setelah proses pembasuhan najis tidak menglami perubahan dan area yang terkena najis telah suci, mengacu pada pendapat ini ketentuan memeras baju tidaklah di wajibkan oleh pendapat ashoh, namun jika kita mengacu pada pendapat yang lain maka baju tersebut belum bisa di hukumi suci selama belum di peras. Metode analogis terhadap khilafiyah problematika di atas juga berlaku pada problem apakah setelah mensucikan barang yang terkena najis yang berada dalam sebuah wadah, benda tersebut langsung bisa kita hukumi suci tanpa harus membuang air sisa pembasuhan ataukah memang ada keharusan membuang air sisa pembasuhan terlebih dahulu agar benda tersebut dapat di hukumi suci. 

• Merendam baju tersebut di dalam sebuah wadah yang di dalamnya terdapat air yang kurang dari dua qullah. Menurut pendapat shohih yang merupakan statement dari mayoritas fuqoha' baju tersebut tetap di hukumi najis, bahkan air yang berada di dalam wadah di hukumi sebagai air yang mutanajjis, namun menurt Ibn Suraij jika saat hendak merendam memang terdapat tujuan untuk menghilangkan najis maka air dan baju tersebut bisa di hukumi suci.

• Ketika keseluruhan baju terkena najis dan penyuciannya adalah semisal dengan mensucikannya di dalam wadah dengan praktek mensucikan sebagian demi sebagian maka menurut Ibn Al Qosh keseluruhan baju tersebut di hukumi najis kecuali jika praktek pensuciannya adalah dengan sekaligus, beliau berargumen bahwa dalam praktek tersebut bagian baju yang basah setelah proses pensucian akan di hukumi najis karena menempel dengan bagian baju yang belum di basuh, kemudain bagian lain yang yang menempel pada bagian baju yang basah yang telah terkena najis tadi juga akan ikut menjadi najis, demikian seterusnya. Namun statement ini di sangkal oleh Abu Hamid beliau menuturkan bahwa memang bagian baju yang menempel dengan bagian baju yang najis dapat kita hukumi najis, namun untuk bagian yang menempel dengan bagian tadi hukumnya tetap suci karena bagian tersebut menempel pada bagian baju yang di hukumi najis hanya secara hukmy bukan secara langsung menempel pada dzatiyyah najis, sebagaimana ketentuan hukum yang di tuturkan rosululloh dalam permasalahan satu wadah minyak samin yang kejatuhan tikus, yakni beliau tidak menghukumi keseluruhan samin menjadi najis. Oleh penulis kitab Al Bayan statement kedua ulama' di atas di anggap sebenarnya dalam dua permasalahan yang berbeda, yakni untuk permasalahan yang di tuturkan oleh Ibn Al Qosh adalah ketika praktek pensucian tersebut di lakukan di dalam wadah (dengan air yang berada di dalamnya). Sedangkan permasalahan yang di sampaikan oleh abu hamid adalah ketika praktek pensuciannya adalah dengan mengucurkan air pada baju yang najis tersebut.

Penulis kitab At-Titimmah dan beberapa ulama' lain memberikan penjelasan bahwa saat posisi air adalah yang kita tuangkan pada najis, maka air memiliki nilai plus/kekuatan sehingga meski air itu telah mengenai najis, air tersebut masih memiliki kemampuan untuk mensucikan. Dan ketika air tersebut kita gunakan untuk mensucikan wadah yang terkena najis dan air tersebut tidak mengalami perubahan, maka air tersebut masih memiliki fungsi untuk mensucikan sehingga jika kita putarkan air tersebut pada seluruh bagian wadah yang terkena najis maka keseluruhan wadah tersebut menjadi suci. Namun ketentuan status air ini berlaku sebelum air tersebut terpisah dari wadah, karena saat air tersebut terpisah dari wadah dalam kondisi telah mengalami perubahan dan najis yang ada pada wadah tampak telah hilang maka status air tersebut adalah najis, sedangkan untuk hukum wadah yang tadinya terkena najis tersebut terdapat dua versi pendapat, versi pertama menyatakan bahwa wadah yang terkena najis tersebut telah suci karena najisnya telah berpindah pada air. Sedangkan versi kedua yang di klaim sebagai pendapat yang shohih menyatakan bahwa wadah tersebut tetaplah najis karena jika air tersebut adalah air mutanajjis (yang sudah terkontaminasi oleh najis) maka bagaimanapun pasti masih tersisa air pada beberapa bagian wadah sehingga bagian tersebut tentunya tetap di statuskan mutanajjis. 
Unique Reference For You… المجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 592(الرابعة إذا كانت النجاسة علي ثوب ونحوه فالواقجب المكاثرة بالماء وفيه وجه سبعة الامثال الذى سبق وليس بشئ وفى اشتراط العصر وجهان اصحهما لا يشترط بل يطهر في الحال وهما مبنيان علي الخلاف في طهارة غسالة النجاسة والاصح طهارتها إذا انفصلت غير متغيرة وقد طهر المحل ولهذا كان الاصح أنه لا يشترط العصر فان شرطناه لم يحكم بطهارة الثوب مادام الماء فيه فان عصره طهر حينئذ وان لم يعصره حتي جف فهل يطهر وجهان حكاهما الخراسانيون الصحيح يطهر لانه أبلغ في زوال الماء والثانى لا يطهر لان الماء الذى وجبت ازالته باق ولان وجوب العصر مفرع علي نجاسة الغسالة وهي باقية في الثوب حكما وهذا ضعيف والمعتمد بالجزم بالطهارة ولو عصره وبقيت رطوبة فهو طاهر بلا خلاف (الخامسة) إذا كانت النجاسة مائعا في اناء فصب عليه ماء غمره ولم يرقه فهل يطهر الاناء وما فيه: فيه وجهان ذكرهما المصنف بدليلهما وهما مشهوران الصحيح منهما لا يطهر ولو غمس الثوب النجس في اناء دون قلتين من الماء فوجهان الصحيح وبه قطع الجمهور ينجس الماء ولا يطهر الثوب وقال ابن سريج يطهر الثوب ولا ينجس الماء ولو القت الريح الثوب في الماء وهو دون القلتين نجس الماء ولم يطهر الثوب بلا خلاف ووافق ابن سريج علي النجاسة هنا واستدلوا بهذا على اشتراطه النية في ازالة النجاسة وانكر امام الحرمين والغزالي وغيرهما هذا الاستدلال (السادسة) إذا كان داخل الاناء متنجسا فصب فيه ماء غمر النجاسة فهل يطهر في الحال قبل اراقة الغسالة: وجهان بناء علي اشتراط العصر أصحهما الطهارة كالارض والله أعلمالمجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 594)[ وان كان ثوب نجس فغمسه في اناء فيه دون القلتين من الماء نجس الماء ولم يطهر الثوب ومن أصحابنا من قال ان قصد ازالة النجاسة لم ينجسه وليس بشئ لان القصد لا يعتبر في ازالة النجاسة ولهذا يطهر بماء المطر وبغسل المجنون قال أبو العباس بن القاص إذا كان ثوب كله نجس فغسل بعضه في جفنة ثم عاد فغسل ما بقى لم يطهر حتى يغسل الثوب كله دفعة واحدة لانه إذا صب علي بعضه ماء ورد جزء من البعض الآخر علي الماء فنجسه وإذا نجس الماء نجس الثواب ] [ الشرح ] أما المسألة الاولى فسبق بيانها قريبا في المسألة الخامسة من المسائل السابقة وقوله (ومن أصحابنا من قال) هو ابن سريج وقوله (ولهذا يطهر بماء المطر وبغسل المجنون) ظاهره ان ابن سريج يوافق على هذا ولا يبعد أنه يخالف فيه فقد نقل عنه اشتراط النية في ازالة النجاسة كما سبق في باب نية الوضوء: وأما المسألة الثانية وهى مسألة ابن القاص فهي مشهورة عنه لكن قال المحاملي في التجريد في باب المياه هذا غلط من ابن القاص قال وقال عامة أصحابنا يطهر الثوب وقال صاحب البيان حكي صاحب الافصاح والشيخ أبو حامد والمحاملي أن ابن القاص قال إذا كان الثوب كله نجسا فغسل نصفه ثم عاد الي ما بقي فغسله لم يطهر حتى يغسله كله قال لانه إذا غسل نصفه فالجزء الرطب الذى يلاصق الجزء اليابس النجس ينجس به لانه ملاصق لما هو نجس ثم الجزء الذى بعده ينجس بملاصقته الجزء الاول ثم الذى بعده ينجس بملاصقته حتى ينجس جميع الاجزاء الي آخر الثوب قال الشيخ أبو حامد غلط ابن القاص بل بطهر الثوب لان الجزء الذى يلاصق الجزء النجس ينجس به لانه لاقى عين النجاسة فأما الجزء الذى يلاصق ذلك الجزء فلا ينجس به لانه لاقى ما هو نجس حكما لا عينا ولهذا قال النبي صلي الله عليه وسلم في الحديث الصحيح في الفأرة تموت في السمن الجامد (ألقوها وما حولها وكلوا سمنكم) فحكم صلي الله عليه وسلم بنجاسة ما لاقى عين النجاسة دون الجزء المتصل بذلك المتنجس ولو كان كما قال ابن القاص لنجس السمن كله واما ابن الصباغ فحكى أن ابن القاص قال إذا غسل نصفه في جفنة ثم عاد فغسل النصف الآخر لم يطهر حتى بغسله كله وحكى عنه العلة التى ذكرها عنه الشيخ أبو حامد قال ابن الصباغ والحكم كما قاله ابن القاص لكن أخطأ في الدليل بل الدليل لما قاله أن الثوب إذا وضع نصفه في الجفنة وصب عليه ماء يغمره لاقى هذا الماء جزءا مما لم يغسله وذلك الجزء نجس وهو وارد على دون القلتين فنجسه وإذا نجس الماء نجس الثوب قال صاحب البيان وعندي انهما مسألتان فان غسل نصفه في جفنة فالحكم ما قاله ابن القاص وان غسل نصفه بصب الماء عليه بغير جفنة فالحكم ما قاله الشيخ أبو حامد هذا آخر كلام صاحب البيان وقد رأيت أنا المسألة في التلخيص لابن القاص كما نقلها المصنف وابن الصباغ فانه قال لو أن ثوبا نجسا كله غسل بعضه في جفنة ثم عاد الي ما بقى فغسله لم يجز حتى يغسل الثوب دفعة واحدة هذا كلامه بحروفه قال القفال في شرحه في هذه المسألة وجهان الصحيح ما قاله ابن القاص هو أن جميع الثوب نجس قال وقال صاحب الافصاح يطهر واستدل بحديث فأرة السمن قال القفال والصواب قول ابن القاص واستدل له بنحو ما ذكره ابن الصباغ وفرق بينه وبين السمن بأنه جامد لا يتراد قال ونظير مسألتنا السمن الذائب فحصل أن الصحيح ما قاله ابن القاص ووافقه عليه القفال والمصنف وابن الصباغ وصاحب البيان ويحمل كلام الآخرين علي ما حمله صاحب البيان وعليه يحمل ما نقله الرافعى عن الاصحاب انهم قالوا لو غسل احد نصفى ثوب ثم نصفه الآخر فوجهان احدهما لا يطهر حتى يغسل كله دفعة واحدة وأصحهما انه ان غسل مع النصف الثاني ما يجاوره من النصف الاول طهر الثوب كله وان اقتصر على النصفين فقط طهر الطرفان وبقى المنتصف نجسا فيغسله وحده والله أعلمالمجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 600)(الخامسة) قال صاحب التتمة وغيره للماء قوة عند الورود علي النجاسة فلا ينجس بملاقاتها بل يبقى مطهرا فلو صبه على موضع النجاسة من الثوب فانتشرت الرطوبة في الثوب لا يحكم بنجاسة موضع الرطوبة ولو صب الماء في اناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا اداره على جوابنه طهرت الجوانب كلها هذا كله قبل الانفصال قال فلو انفصل الماء متغيرا وقد زالت النجاسة عن المحل فالماء نجس وفى المحل وجهان احدهما أنه طاهر لانتقال النجاسة الي الماء والثاني وهو الصحيح أن المحل نجس أيضا لان الماء المنفصل نجس وقد بقيت منه أجزاء في المحل قال ولو وقع بول علي ثوب فغسل بماء موزون فانفصل زائد الوزن فالزيادة بول والماء نجس كما لو تغير وفى طهارة المحل الوجهان الصحيح لا يطهر قلت وقد سبق في المياه وجه شاذ أن هذا الماء طاهر مع زيادة الوزن وليس بشئ فالمذهب نجاسته الى ان قال...(الثامنة) صب الماء على ثوب نجس وعصره في أناء وهو متغير ثم صب عليه ماء آخر وعصره فخرج غير متغير ثم جمع الماءين فزال التغير ولم يبلغ قلتين فهو نجس: هذا هو الصواب وبه قطع الجمهور وحكي صاحب المستظهرى وجها أنه طاهر وليس بشئ


Oleh Ubaid Bin Aziz Hasanan, kudung harsandi muhammad di FIQHKONTEMPORER/doc