Home » , , , » Hukum sholat jenazah untuk jenazah yang belum ditemukan

Hukum sholat jenazah untuk jenazah yang belum ditemukan

Written By siroj munir on Kamis, 13 Juni 2013 | 18.03.00



Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya solat jenazah tapi mayitnya belum diketemukan karena kecelakaan kapal?

( Dari : Daun Khinanti )


Jawaban :
Sholat jenazah yang diperuntukkan bagi jenazah yang belum diketemukan hukumnya tidak sah, sebab salah syarat diperbolehkannya melakukan sholat jenazah adalah orang tersebut sudah benar-benar meninggal dunia, sedangkan orang yang mengalami kecelakaan itu belum jelas apakah ia sudah meninggal atau belum.

Imam Nawawi dalam kitab “Roudlotut Tholibin” menjelaskan; “Disunatkan untuk menyegerakan pemandian dan pengurusan jenazah jika sudah nyata-byata meninggal dunia, semisal orang tersebut mati karena suatu penyakit, atau nampak tanda-tanda kematiannya semisal kedua telapak kakinya menjadi lunak dan tidak bisa ditegakkan, hidungnya miring, cekung kedua pelipisnya, menjadi panjang kulit wajahnya, kedua telapak tangannya terlepas dari pergelangannya, menyust 2 buah pelirnya keatas bersama kulit. Jadi jika masih diragukan mengenai kematiannya, karena orang tersebut tidak memiliki penyakit dan mungkin saja hanya diam sejenak, atau nampak tanda-tanda terkejut atau yang lainnya, maka pengurusannya harus diakhirkan sampai benar-benardiyakini kematiannya, baik diketahui dengan perubahan baunya atau tanda yang lain”.

Selain itu sholat jenazah harus dilakukan setelah jenazah dimandikan, jika jenazah tersebut belum dimandikan maka tidak boleh disholatkan. Sayyid Abdurrohman Al-Masyhur dalam kitab beliau; “Bughyatul Mustarsyidin” menjelaskan : “Tidak sah sholat untuk orang yang yang sedang ditawan atau hilang atau perahunya tenggelam, meskipun hakim sudah menyatakan bahwa orang tersebut telah meninggal dunia, kecuali jika sudah diyakini bahwa mayit tersebut telah dimandikan”.

Kesimpulannya sholat jenazah yang diperuntukkan bagi orang yang mengalami kecelakaan dan tidak diketahui keadaannya hukumnya tidak sah, karena sholat jenazah hanya boleh dilakukan jika seseorang telah jelas-jelas meninggal dunia dan setelah dimandikan. Wallohu a’lam.

( Dijawab oleh : Imam Cakep Aja Deeh dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Roudlotut Tholibin, Juz : 2  Hal : 98
2. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 197


Ibarot :
Roudlotut Tholibin, Juz : 2  Hal : 98


يستحب المبادرة إلى غسله وتجهيزه إذا تحقق موته، بأن يموت بعلة، أو تظهر أمارات الموت، بأن يسترخي قدماه، فلا ينتصبا، أو يميل أنفه، أو ينخسف صدغاه، أو تمتد جلدة وجهه، أو ينخلع كفاه من ذراعيه، أو تتقلص خصيتاه إلى فوق مع تدلي الجلدة، فإن شك بأن لا يكون به علة، واحتمل أن يكون به سكتة، أو ظهرت أمارات فزع أو غيره، أخر إلى اليقين بتغيير الرائحة أو غيره

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 197


لا تصح الصلاة على من أسر أو فقد أو انكسرت به سفينة ، وإن تحقق موته أو حكم به حاكم ، إلا إن علم غسله أو علق النية على غسله ، إذ الأصح أنه لا يكفي غرقه ، ولا يجوّزها تعذر الغسل ، خلافاً للأذرعي وغيره اهـ. قلت : وعبارة الإمداد فعلم أن من مات بنحو هدم وتعذر إخراجه لا يصلى عليه وهو المعتمد كما في الروضة ، وأصلها عن المتولي وأقراه ، وفي المنح لا خلاف فيه ، وجزم به في المنهاج