Home » , , » Suami mengajak berhubungan intim dengan berbagai gaya, haruskah istri menurutinya?

Suami mengajak berhubungan intim dengan berbagai gaya, haruskah istri menurutinya?

Written By siroj munir on Kamis, 26 September 2013 | 19.08.00



Pertanyaan :
Assalamu'alaikum...
Ada seorang cewek yang inbox, namanya tidak usah disebut.Dia bertanya: Ketika suami mengajak istri untuk berhubungan intim, kan istri tidak boleh menolak kecuali ada udzur syar'i. Nah seumpama suami meminta "berbagai gaya", jika istri menolak dosa atau tidak? Istilah kasarannya "halaah mas mas, kalau mau ya gaya biaya saja, kalau tidak mau ya sudah, nggak usah sekalian".

( Dari : Intan Nur Azizah )


Jawaban :

Wa'alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh
Seorang istri diwajibkan menuruti kemauan suaminya untuk berhubungan intim, selama sang istri mampu dan tidak memiliki udzur yang dibenarkan secara syari’at. Nabi bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ، فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

"Jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) mendapatkan laknat para Malaikat sampai subuh." (Shahih Muslim, No.1436)

Sedangkan berhubungan intim dengan berbagai gaya selama tidak melakukan hubungan intim lewat dubur, maka hal tersebut diperbolehkan. Allah berfirman:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

"Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." (QS. Al-Baqarah : 223)

‘Abd bin Humaid dalam Tafsirnya menjelaskan, bahwa Ibnu Abbas menjelaskan ayat ini maksudnya adalah; berhubungan intim dengan cara berdiri, duduk, berhadap-hadapan atau membelakangi selama masih lewat farji.

Sebagai pelengkap, ada satu hadits yang ceritanya hampir mirip dengan cerita diatas. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ ابْنَ عُمَرَ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ أَوْهَمَ إِنَّمَا كَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنَ الْأَنْصَارِ وَهُمْ أَهْلُ وَثَنٍ مَعَ هَذَا الْحَيِّ مِنْ يَهُودَ وَهُمْ أَهْلُ كِتَابٍ وَكَانُوا يَرَوْنَ لَهُمْ فَضْلًا عَلَيْهِمْ فِي الْعِلْمِ فَكَانُوا يَقْتَدُونَ بِكَثِيرٍ مِنْ فِعْلِهِمْ وَكَانَ مِنْ أَمْرِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَأْتُوا النِّسَاءَ إِلَّا عَلَى حَرْفٍ وَذَلِكَ أَسْتَرُ مَا تَكُونُ الْمَرْأَةُ فَكَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنَ الْأَنْصَارِ قَدْ أَخَذُوا بِذَلِكَ مِنْ فِعْلِهِمْ وَكَانَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ قُرَيْشٍ يَشْرَحُونَ النِّسَاءَ شَرْحًا مُنْكَرًا، وَيَتَلَذَّذُونَ مِنْهُنَّ مُقْبِلَاتٍ وَمُدْبِرَاتٍ وَمُسْتَلْقِيَاتٍ فَلَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْمَدِينَةَ تَزَوَّجَ رَجُلٌ مِنْهُمُ امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ فَذَهَبَ يَصْنَعُ بِهَا ذَلِكَ فَأَنْكَرَتْهُ عَلَيْهِ، وَقَالَتْ: إِنَّمَا كُنَّا نُؤْتَى عَلَى حَرْفٍ فَاصْنَعْ ذَلِكَ وَإِلَّا فَاجْتَنِبْنِي، حَتَّى شَرِيَ أَمْرُهُمَا فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ}أَيْ: مُقْبِلَاتٍ وَمُدْبِرَاتٍ وَمُسْتَلْقِيَاتٍ يَعْنِي بِذَلِكَ مَوْضِعَ الْوَلَدِ

“Sesungguhnya Ibnu Umar -semoga Allah mengampuninya, ia telah melakukan suatu kesalahan- Sesungguhnya terdapat sebuah kampong anshar yang merupakan para penyembah berhala, hidup bersama kampong yahudi yang merupakan ahli kitab. Dan mereka memandang bahwa orang-orang yahudi memeliki keutamaan atas mereka dalam hal ilmu. Dan mereka mengikuti kebanyakan perbuatan orang-orang yahudi. Diantara keadaan ahli kitab adalah bahwa mereka tidak menggauli isteri mereka kecuali dengan satu cara, dan hal tersebut lebih menjaga rasa malu seorang wanita. Dan orang-orang anshar ini mengikuti perbuatan mereka dalam hal tersebut. Sementara orang-orang Quraisy menggauli isteri-isteri mereka dengan cara yang mereka ingkari, orang-orang Quraisy menggauli mereka dalam keadaan menghadap dan membelakangi serta dalam keadaan terlentang. Kemudian tatkala orang-orang muhajirin datang ke Madinah, salah seorang diantara mereka menikahi seorang wanita anshar. Kemudian ia melakukan hal tersebut. Kemudian wanita anshar tersebut mengingkarinya dan berkata; sesungguhnya kami didatangi dengan satu cara, maka lakukan hal tersebut, jika tidak maka jauhilah aku! Hingga tersebar permasalahan mereka, dan hal tersebut sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. kemudian Allah 'azza wajalla menurunkan ayat: "Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." Yakni dalam keadaan menghadap (saling berhadapan), membelakangi dan terlentang, yaitu pada tempat diperolehnya anak (farj).” (Sunan Abu Dawud, No. 2164).

Namun, meski hal itu diperbolehkan hendaknya semua dilakukan dengan cara yang baik, sebab meski istri memiliki kewajiban menuruti suaminya, tapi suami juga memiliki kewajiban untuk menggauli istrinya dengan cara yang baik. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka (para wanita) dengan baik”. (QS. An-Nisa’ : 19)

Dari uraian diatas bisa diambil kesimpulan bahwa permintaan suami untuk mengajak sang istri berhubungan intim dengan berbagai gaya bukanlah merupakan udzur yang memperbolehkan istri menolak berhubungan intim, karena hal tersebut tidak dilarang oleh agama, karena itu penolakan atas dasar itu tidak dibenarkan dan istri harus tetap menurutinya selama masih mampu dan tentunya harus dikerjakan dengan cara yang baik (mu’asyaroh bil ma’ruf). . Wallahu a’lam.

( Dijawab oleh :  John Safari, Bani Slagah Al Husaini dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Syarah Shahih Muslim Lin-Nawawi, 10/7-8

وحدثنا محمد بن المثنى، وابن بشار، واللفظ لابن المثنى، قالا: حدثنا محمد بن جعفر، حدثنا شعبة، قال: سمعت قتادة، يحدث عن زرارة بن أوفى، عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: إذا باتت المرأة، هاجرة فراش زوجها، لعنتها الملائكة حتى تصبح
........................................
قوله صلى الله عليه وسلم (إذا باتت المرأة هاجرة فراش زوجها لعنتها الملائكة حتى تصبح وفي رواية حتى ترجع هذا دليل على تحريم امتناعها من فراشه لغير عذر شرعي وليس الحيض بعذر في الامتناع لأن له حقا في الاستمتاع بها فوق الإزار


2. Hasyiyah Asy-Syarbini Ala Tuhfatul Muhtaj, 8/326

قول المتن: بلا عذر) وليس من العذر كثرة جماعه وتكرره وبطء إنزاله حيث لم يحصل لها منه مشقة لا تحتمل عادة اهـ.ع ش (قول المتن يضر معه الوطء) لعل المراد بالضرر هنا مشقة لا تحتمل عادة وإن لم تبح التيمم أخذا مما يأتي له في ركوب البحر اهـ.
سيد عمر ومر آنفا عن ع ش ما يوافقه

3. Al-Wasyah Fi Fawaidin Nikah, Hal : 63

وأخرج عبد بن حميد فى تفسيره: عن ابن عباس فى قوله تعالى: (نسائكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم) قال: قائمة، وقاعدة، ومقبلة، ومدبرة،فى قبلها

4. Sunan Abu Dawud, 2/249

حدثنا عبد العزيز بن يحيى أبو الأصبغ، حدثني محمد يعني ابن سلمة، عن محمد بن إسحاق، عن أبان بن صالح، عن مجاهد، عن ابن عباس، قال: " إن ابن عمر والله يغفر له أوهم إنما كان هذا الحي من الأنصار وهم أهل وثن مع هذا الحي من يهود وهم أهل كتاب وكانوا يرون لهم فضلا عليهم في العلم فكانوا يقتدون بكثير من فعلهم وكان من أمر أهل الكتاب أن لا يأتوا النساء إلا على حرف وذلك أستر ما تكون المرأة فكان هذا الحي من الأنصار قد أخذوا بذلك من فعلهم وكان هذا الحي من قريش يشرحون النساء شرحا منكرا، ويتلذذون منهن مقبلات ومدبرات [ص:250] ومستلقيات فلما قدم المهاجرون المدينة تزوج رجل منهم امرأة من الأنصار فذهب يصنع بها ذلك فأنكرته عليه، وقالت: إنما كنا نؤتى على حرف فاصنع ذلك وإلا فاجتنبني، حتى شري أمرهما فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم فأنزل الله عز وجل {نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم} [البقرة:] أي: مقبلات ومدبرات ومستلقيات يعني بذلك موضع الولد

5. Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuh, 10/336

وعلى الزوجة طاعة زوجها اذا دعاها الى الفراش ، ولو كانت على التنور او على ظهر قتب ، كما رواه احمد وغيره ، مالم يشتغلها عن الفرائض ، او يضرها :لان الضرر ونحوه ليس من المعاشرة بالمعروف . ووجوب طاعتها له لقوله تعالى ( ولهن مثل الذى عليهن بالمعروف ) –الى ان قال ولأن حق الزوج واجب ، فلا يجوز تركه بما ليس بواجب