Rabu, 27 Februari 2013

Hikmah diwajibkannya mandi ketika mengeluarkan mani


Pertanyaan :
Assalamu alaikum
Ada seorang yang bertanya padaku, kenapa setiap keluar air mani diwajibkan mandi besar, sedangkan air mani itu sendiri tidak najis, dan kenapa air kencing tidak diwajibkan mandi yang jelas jelas itu najis ?
Mohon bantuanya ya

( Dari : ImOmezt FaqHot )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Perlu diketahui bahwa tujuan utama diwajibannya mandi itu untuk menghilangkan hadats, bukan untuk menghilangkan najis. Hadats dan najis merupakan dua hal yang berbeda, hadats adalah sesuatu yang kasat mata, sedangkan najis p[ada umumnya bisa dilihat oleh mata, selain itu cara  penyucian keduanya juga berbeda; cara menghilangkan hadats adalah dengan membasuh atau mengusap  bagian-bagian tubuh sesuai tuntunan agama, sedangkan  cara menghilangkan najis dilakukan dengan menyucikan bagian tubuh, tempat atau benda yang terkena najis.

Intinya, kedua hal tersebut berbeda, mani dihukumi suci namun keluarnya mani dihukumi hadats, sedangkan air kencing dihukumi najis namun keluanya tidak dihukumi hadats, karena itulah cara penyuciannya juga berbeda, cara penyucian hadats yang ditimbulkan karena keluarnya mani dilakukan dengan mandi, sedangkan cara penyucian najis yang berupa air kecing dilakukan dengan menyucikan bagian tubuh, benda atau tempat yang terkena najis tersebut.

Untuk lebih jelasnya mengenai hikmah diwajibkannya mandi karena mengeluarkan mani, kami nukilkan penjelasan Syekh Ali bin Ahmad Al-Jurjawi dalam kitab beliau "Hikmatut Tasyri' Wa Falsafatuhu" mengenai masalah ini, berikut penjelasan beliau :

"Sesungguhnya (Alloh) pemilik syari'at yang bijaksana ini mewajibkan mandi setelah keluarnya mani, namun tidak mewajibkannya setelah mengeluarkan air kencing padahal keduanya keluar dari tempat yang sama dan dari anggota badan yang sama pula, karena memang terdapat hikmah yang besar dan rahasia yang menakjubkan, simak penjelasannya ;

Sesungguhnya air kencing adalah sisa dari makanan dan minuman, sedangkan mani adalah suatu unsur yang terbentuk dari semua bagian tubuh, karena itulah engkau bisa melihat seluruh tubuh akan merasakan saat mani keluar, dan tidak merasaka saat kencing, Karena sebagaimana yang telah aku jelaskan tadi, mani adalah unsur yang terbentuk dari seluruh bagian tubuh. Sebab itu pula engkau bisa melihat orang yang terlalu berlebihan dalam berhubungan intim, kekuatan badannya akan menjadi lemah. Disinilah fungsi dari mandi, mandi akan mengembalikan kekuatan yang hilang ketika mengeluarkan mani, selain itu kekuatan badan yang hilang tersebut menyebabkan seseorang menjadi malas dan tidak bisa menjalankan ibadah sesuai ketentuan yang diperintahkan, karena itulah Abu Dzar rodhiyallohu 'anhu berkata : "Ketika aku mandi dari jinabat, seakan-akan aku telah meletakkan suatu beban".

Beban berat yang ditanggung oleh orang yang sedang jinabat adalah berkumpulnya dua hal :

Pertama, Kemalasan pada tubuh yang dirasakan, dan ini merupakan sebagian dari beban yang berat

Kedua, Ketika seseorang suci dari jinabat lalu ia tidur semisal maka ruhnya akan naik kealam yang tinggi dan bisa melihat beberapa keajaiban dan beberapa rahasia penciptaan sang pencipta. Sedangkan apabila ia masih dalam keadaan junub, ruhnya terhalang dan tidak mampu melihat keajaiban-keajaiban dan rahasia-rahasia tersebut  tersebut, karena hanya dalam keadaan suci runya mampu naik dan berkumpul dengan alam para malaikat yang suci, sebagaimana dikatan hal ini pada laki-laki, hal ini juga berlaku bagi wanita dari sudut pandang ini.

Terkadang seseorang bertanya-tanya, air kencing itu najis dan juga keluar dari anggota badan yang sama dengan tempat keluarnya mani, lalu kenapa tidak diwajibkan mandi ketika mengeluarkan air kencing?. Maka kami katakan; inilah salah satu bentuk kemurahan syari'at dimana belas kasihan Alloh menetapkan bagi manusia untuk tidak diwajibkan mandi ketika mengeluarkan unsur yang selalu keluar, berbeda dengan mani yang hanya keluar pada saat-saat tertentu saja, dan karena air kencil, sebagaimana telah kami jelaskan diawal, adalah sisa makanan dan mnuman, selain itu apabila manusia diwajibkan untuk mandi ketika mengeluarkan air kencing tentu hal tersebut akan sangat memberatkan, sedangkan agama Alloh adalah agama yang mudah dan tidak sulit."

Demikianlah penjelasan panjang Syekh Ali Al-Jurjawi, semoga bisa menjawab pertanyaan dan kejanggalan mengenai kewajiban mandi ketika mengeluarkan mani dan tidak diwajibkannya mandi ketika mengeluarkan air kencing. Wallohu a'lam.

 ( Dijawab oleh : Siroj Munir )


Referensi :
1. Hikmatut Tasyri' Wa Falsafatuhu, Juz : 1  Hal : 68-69


Ibarot :
Hikmatut Tasyri' Wa Falsafatuhu, Juz : 1  Hal : 68-69

حكمة موجبات الغسل من الجنابة وغيرها
إن الشارع الحكيم فرض الإغتسال بعد خروج المني ولم يفرضه بعد خروج البول مع أنهما خارجان من مكان واحد وعضو واحد لحكمة بالغة وسر عجيب وإليك البيان

إن البول عبارة عن فضلة المأكول والمشروب. أما المني فهو عبارة عن مادة مكونة من جميع أجزاء البدن. ولذا ترى وتنظر الإنسان إذا أفرط في الجماع ضعفت قوة بدنه. وهذا مصداق قوله صلى الله عليه وسلم : "ما هو إلا نور عينيك ومخ ساقيك" فالغسل بالماء كما قلنا يعيد إلى البدن هذه القوة المفقودة بخروج المني. وأيضا فقدان هذه القوة من الجسم تسبب الكسل وعدم أداء العبادة على الوجه المكلوب, ولهذا قال أبو ذر رضي الله عنه :  لما أغتسل من الجنابة كأني ألقيت عني حملا

وأن هذا الحمل الثقيل مجموع أمرين
الأول : زوال الكسل عن الجسم وأن الكسل من أثل الأحمال
الثاني : إن الإنسان إذا كان طاهرا من الجنابة وكان نائما مثلا صعدت روحه إلى العالم العلوي وشاهدت غرائب وأسرار صنع الخالق, وأما إذا كان جنبا فغن روحه تحتجب عن مشاهدة هذه العجائب والأسرار لأن الطهارة هي المبرر لصعودها واخطلالطها بعالم الملائكة الطاهرين, وكما يقال في الرجل يقال في المرأة من هذه الوجهة –إلى أن قال-

ورب قائل يقول إن البول نجاسة ويخرج من العضو الذي يخرج منه المني, فلماذا لا يجب الإغتسال بخروجه. فنقول على وجه التسامح إن رحمة الله اقتضت بأن الإنسان لا يغتسل من خروج مادة دائمة الخروج, بخلاف المني الذي يخرج في أوقات مخصوصة ولان البول كما قلنا أولا : إنه عبارة عن فضلة المأكول والمشروب, وأيضا إن الإنسان إذاغتسل من البول يكون حرجا عظيما, ودين الله يسر لا عسر

Download kitab Mughnil Muhtaj Syarah Al-Minhaj



Judul kitab : Mughnil Muhtaj Ila Ma'rifati Alfadhil Minhaj

Penulis : Syamsuddin, Muhammad bin Ahmad Al-Khotib Asy-Syarbini

Muhaqqiq : Muhammad Kolil 'Aitani

Penerbit : Darul Ma'rifat, Beirut - Lebanon

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 1997

Link download (PDF) : Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4

Download kitab Tuhfatul Muhtaj Syarah Al-Minhaj - Hasyiyah Asy-Syarwani - Hasyiyah Al-Ubadi


Judul kitab :  1. Tuhfatul Fi Syarhil Minhaj

                       2. Hasyiyah Asy-Syarwani
                       
                        3. Hasyiyah Al-Ubadi

Penulis :   1. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami ( Imam Ibnu Hajar )

                  2. Al-Imam Abdul Hamid Asy-Syarwani
                 
                  3. Al-Imam Ahmad bin Qosim Al-Ubadi

Muhaqqiq : -

Penerbit : Maktabah At-Tijariyah Al-Kubro, Kairo - Mesir

Cetakan : -

Tahun terbit : 1983

Link download (PDF) : Cover  Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8  Juz 9  Juz 10

Download kitab Nihayatul Muhtaj Syarah Al-Minhaj - Hasyiyah Asy-Syibromilsi - Hasyiyah Al-Maghrobi Ar-Rosyidi


Judul kitab : 1. Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj

                      2. Hasyiyah As-Syibromilsi
                       
                       3. Hasyiyah Al Mahrobi Ar-Rosyidi

Penulis : 1. Muhammad bin Abul Abbas, Ahmad bin Hamzah Syihabuddin Ar-Romli

                2. Ali bin Ali Asy-Syibromilsi
                 
                3. Ahmad bin Abdurrozzaq Al-Maghrobi Ar-Rosyidi

Muhaqqiq : -

Penerbit : Darul Kutub Al Ilmiyah, Beirut - Lebanon

Cetakan : Ketiga

Tahun terbit : 2003

Link download (PDF) : Cover  Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8

Selasa, 26 Februari 2013

Status hukum pernikahan kedua sebagai legalitas (Tajdid Nikah/Memperbarui nikah)


Pertanyaan :
Bgaimana menurut kalian, jika ada orang nikah malem telah akad sama kyai, trus siangnya akad lagi sama petugas dari KUA. Pertanyaanya; bagaimana hukum nikah yang akadnya dua kali ?

( Dari : Muhammed Ma'shum Aly Marzuqy )


Jawaban :

Praktek diatas dalam pandangan fiqih disebut tajdid nikah atau pembaruan nikah. Tajdid nikah itu hukumnya boleh, apabila bertujuan untuk menguatkan status pernikahan, seperti pada kasus diatas, pernikahan kedua dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh legalitas dan status hukum yang jelas dari pemerintah.

Sedangkan hal yang menjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama' madzhab Syafi'i adalah tentang status akad nikah dan mengenai pemberian maharnya;

1. Menurut pendapat mayoritas ulama', akad nikah kedua tidak merusak akad pertama, sebab akad yang kedua hanyalah akad nikah yang dalam bentuknya saja, dan hal tersebut bukan berrti merusak akad yang pertama. Pendapat ini merupakan pendapat yang Shohih dalam madzhab Syafi'i, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Sedangkan dalil bahwa akad kedua tidak merusak akad pertama, seperti yang dijelaskan Imam Ibnul Munir adalah hadits yang diriwayatkan Salamah rodhiyallohu 'anha ;

بَايَعْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ، فَقَالَ لِي: «يَا سَلَمَةُ أَلاَ تُبَايِعُ؟»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ بَايَعْتُ فِي الأَوَّلِ، قَالَ: وَفِي الثَّانِي

Kami melakukan bai’at kepada Nabi SAW di bawah pohon kayu. Ketika itu, Nabi SAW menanyakan kepadaku : “Ya Salamah, apakah kamu tidak melakukan bai’at ?. Aku menjawab : “Ya Rasulullah, aku sudah melakukan bai’at pada waktu pertama (sebelum ini).” Nabi SAW berkata : “Sekarang kali kedua.”  (Shohih Bukhori, no.7208)

Karena akad yang kedua tidak merusak akad nikah yang pertama, maka akad yang kedua juga tidak mengurangi jatah talak suami, jika sebelumnya belum menjatuhkan talak, maka jatah talaknya masih 3, dan bila sudah menjatuhkan talak satu, maka jatah talaknya tinggal 2 dan seterusnya. Begitu juga pihak laki-laki tidak perlu memberikan mahar lagi.

2.Menurut Syekh Ardabili, sebagaimana yang beliau jelaskan dalam kitab Al-Anwar Li A'malil Abror, dengan melakukan tajdid nikah, maka nikah yang pertama telah rusak, dan tajdid nikah itu dianggap sebagai pengakuan (iqror) perpisahan, dan tajdid nikah tersebut mengurangi jatah talak suami, dan diharuskan memberikan mahar lagi.

Kesimpulannya, akad nikah yang dilakukan oleh petugas KUA itu diperbolehkan, apalagi hal ini menyangkut legalitas akad nikah, dan menurut pendapat mayoritas ulama' akad nikah yang kedua tidak wajib menggunakan mahar dan akad kedua tersebut tidak mengurangi hitungan nikah suami. Wallohu a'lam.

 ( Dijawab oleh : Siroj Munir, Mahrusalfaqir Ilaafwirabbihi dan Ubaid Bin Aziz Hasanan )


Referensi :
1. Qurrotul 'Ain Bi Fatawi Isma'il Az-Zen, Hal :148
2. Tuhfatul Muhtaj, Juz : 7  Hal : 391
3. Fathul Bari Li Ibnu Hajar, Juz : 13  Hal : 199
4. Al Anwar Li A'malil Abror, Juz : 2  Hal : 88


Ibarot :
Qurrotul 'Ain Bi Fatawi Isma'il Az-Zen, Hal :148

حكم التجديد النكاح
سؤال : ما حكم تجديد النكاح ؟
الجواب: أنه إذا قصد به التأكيد فلا بأس به لكن الأولى تركه والله أعلم

تجديد عقد النكاح لا يوجب مهرا جديدا
سؤال : ماقولكم فيمن جدد نكاحه فهل يجب عليه أو يسن أن يعطيها الصداق مرة ثانية لذكره في العقد الجديد أولا سواء طلقها الزوج بعد ذلك أو لا ؟
الجواب : لايجب عليه أن يجدد صداقا وتجديد صيغة عقد النكاح فإنما هي للتأكيد والأولى والله سبحانه وتعالى أعلم

Tuhfatul Muhtaj, Juz : 7  Hal : 391

ولو توافقوا) أي الزوج والولي والزوجة الرشيدة فالجمع باعتبارها أو باعتبار من ينضم للفريقين غالبا (على مهر سرا وأعلنوا بزيادة فالمذهب وجوب ما عقد به) أولا إن تكرر عقد قل أو كثر اتحدت شهود السر والعلن أم لا لأن المهر إنما يجب بالعقد فلم ينظر لغيره ويؤخذ من أن العقود إذا تكررت اعتبر الأول مع ما يأتي أوائل الطلاق أن قول الزوج لولي زوجته زوجني كناية بخلاف زوجها فإنه صريح أن مجرد موافقة الزوج على صورة عقد ثان مثلا لا يكون اعترافا بانقضاء العصمة الأولى بل ولا كناية فيه وهو ظاهر ولا ينافيه ما يأتي قبيل الوليمة أنه لو قال كان الثاني تجديد لفظ لا عقدا لم يقبل لأن ذاك في عقدين ليس في ثانيهما طلب تجديد وافق عليه الزوج فكان الأصل اقتضاء كل المهر وحكمنا بوقوع طلقة لاستلزام الثاني لها ظاهرا وما هنا في مجرد طلب من الزوج لتحمل أو احتياط فتأمله

Fathul Bari Li Ibnu Hajar, Juz : 13  Hal : 199

حدثنا أبو عاصم، عن يزيد بن أبي عبيد، عن سلمة، قال: بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم تحت الشجرة، فقال لي: يا سلمة ألا تبايع؟، قلت: يا رسول الله، قد بايعت في الأول، قال: وفي الثاني
.................................
وقال بن المنير : يستفاد من هذا الحديث أن إعادة لفظ العقد في النكاح وغيره ليس فسخا للعقد الأول خلافا لمن زعم ذلك من الشافعية قلت الصحيح عندهم أنه لا يكون فسخا كما قال الجمهور

Al Anwar Li A'malil Abror, Juz : 2  Hal : 88

ولو عقد بالسر بألف وفى العلانية بألفين وهما متفقان على بقاء العقد الاول فالمهر الف–الى ان قال– ولو جدد رجل نكاح زوجته لزمه مهر اخر لانه اقرار بالفرقة وينتقص به الطلاق ويحتاج الى التحليل فى امرأة الثالثة اهـ

Pengurusan jenazah bayi keguguran


Pertanyaan :
Assalamualaikum..
Bagaimanakah penguburan bayi yang meninggal sebelum usia 4 bulan dalam kandungan karena keguguran atau sebab lainnya. Apakah cukup dikubur begitu saja tanpa disucikan dan disholati dst?

( Dari : Adi Reza )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Rincian ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi bayi yang keguguran adalah sebagai berikut :

1. Apabila bayi tersebut sudah memperlihatkan tanda-tanda kehidupan, seperti bergerak atau menjerit setelah bayi itu keluar atau tanda lainnya, meskipun umurnya kurang dari 4 bulan, maka hukumnya sebagaimana orang dewasa, wajib dimandikan, dikafani disholati, lalu dimakamkan.

2. Sedangkan apabila bayi tersebut tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan, maka hukumnya dirinci :

•    Jika umur bayi tersebut sudah dimungkinkan hidup, karena usia kehamilan saat keguguran sudah mencapai 4 bulan atau lebih, yang berarti bayi tersebut sudah ditiup ruhnya, maka wajib dimandikan dan dikafani, dan tidak wajib bahkan tidak boleh disholati. Sebagaimana diterangkan dalam hadits bahwa pada umur 4 bulan kehamilan, ditiupkan ruh pada bayi ;

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ، وَرِزْقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ

"Sesungguhnya setiap orang dari kalian dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging), selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan empat ketetapan dan dikatakan kepadanya, tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan RUH kepadanya." (Shohih Bukhori, no.3208 dan Shohih Muslim, no.2643)

•    Jika bayi tersebut belum dimungkinkan hidup, maka tidak diwajibkan untuk dimandikan, dikafani dan tidak wajib (dan tidak boleh) disholati, namun disunatkan untuk dimandikan, dibungkus dengan kain, lalu dikubur.
•    Jika keluarnya hanya berupa gumpalan daging atau gumpalan darah, hanya disunatkan untuk menguburnya saja tanpa dibungkus dengan kain.

Dalil mengenai rincian dari hukum diatas adalah beberapa hadits, diantaranya sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam :

الطِّفْلُ يُصَلَّى عَلَيْهِ

"Anak kecil (wajib) disholati" (Sunan Ibnu Majah, no.1507)

Dalam hadits lain, yang diriwayatkan sahabat Jabir rodhiyallohu 'anhu, Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

الطِّفْلُ لَا يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَلَا يَرِثُ، وَلَا يُورَثُ حَتَّى يَسْتَهِلَّ

'Anak kecil tidak disholati, tidak mewarisi harta dan tidak bisa diwarisi hartanya, sampai ia menjerit". (Sunan Turmudzi, no.1032)

Kesimpulannya :

1.Apabila bayi tersebut memperlihatkan tanpa-tanda kehidupan, maka dihukumi seperti orang dewasa.

2.Apabila tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan, tidak boleh disholati dan tidak wajib dimandikan dan dikafani, namun disunatkan untuk dimandikan, dibungkus dengan kain, lalu dimakamkan. 

3.Apabila keluar hanya berupa gumpalan daging atau gumpalan darah hanya sunat dikuburkan.

 Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Abu Alwan, Ubaid Bin Aziz Hasanan, Kudhung Kanthil harsandi Muhammad dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Asnal Matholib, Juz : 1  Hal : 313314
2. Nihayatuz Zen, Hal : 156


Ibarot :
Asnal Matholib, Juz : 1  Hal : 313314

فرع السقط) بتثليث سينه (إن استهل) أي صاح والمراد إن علمت حياته بصياح أو غيره (فكالكبير) فيغسل ويكفن ويصلى عليه ويدفن لتيقن حياته وموته بعدها (وكذا أن اختلج وتحرك) بعد انفصاله لظهور أمارة الحياة فيه ولخبر «الطفل يصلى عليه» رواه الترمذي وحسنه والجمع بين الاختلاج والتحرك تأكيد (وإلا) بأن لم تظهر أمارة الحياة باختلاج أو نحوه (فإن بلغ أربعة أشهر) أي مائة وعشرين يوما فأكثر حد نفخ الروح فيه (غسل وكفن) ودفن وجوبا (بلا صلاة) فلا تجب بل لا تجوز لعدم ظهور حياته وفارقت ما قبلها بأنه أوسع بابا منها بدليل أن الذمي يغسل ويكفن ويدفن ولا يصلى عليه (ولدونها) أي الأربعة أشهر (وروى بخرقة ودفن) فقط ندبا لكن ما نيط به ما ذكر من الأربعة أشهر  وما دونها جرى على الغالب من ظهور خلق الآدمي عندها وإلا فالعبرة إنما هو بظهور خلقه وعدم ظهوره كما يفيده كلام الأصل وعبر عنه بعضهم بزمن إمكان نفخ الروح وعدمه وبعضهم بالتخطيط وعدمه وكلها، وإن كانت متقاربة فالعبرة بما قلنا
........................
[حاشية الرملي الكبير]
[فرع السقط إن استهل يغسل ويكفن ويصلى عليه ويدفن]
قوله السقط) بتثليث سينه الولد النازل قبل تمام مدته وقيل من ولد ميتا (قوله حد نفخ الروح فيه) «لقوله - صلى الله عليه وسلم - إن أحدكم ليمكث في بطن أمه أربعين يوما نطفة وأربعين يوما علقة وأربعين يوما مضغة ثم يؤمر الملك فيكتب رزقه وأجله وأثره وشقي أو سعيد ثم ينفخ فيه الروح» وكان الأصحاب أخذوا تعقب نفخ الروح للأربعين السابقة من سياق الخبر فإن العلقة تتعقب النطفة بعد الأربعين والمضغة تتعقب العلقة بعد الأربعين وإلا فثم لا تقتضي التعقيب (قوله لعدم ظهور حياته) ؛ لأنه لم يثبت له حكم الأحياء في الإرث فكذا في الصلاة عليه؛ ولأن الغسل آكد بدليل أن الكافر يغسل ولا يصلى عليه (قوله كما يفيده كلام الأصل) والمجموع

Nihayatuz Zen, Hal : 156

و) أما السقط وهو الولد النازل قبل تمام الأشهر ففيه تفصيل حاصله أنه إن لم تظهر حياته ولا أماراتها ولا خلقه لا تجوز الصلاة عليه ولا يجب غسله ويسن ستره بخرقة ودفنه وكذا غسله كما قال ابن حجر إذا سن غسله سن ستره بخرقة ودفنه وإذا وجب وجبا وإن لم تظهر حياته ولا أماراتها لكن ظهر خلقه وجب ما عدا الصلاة فحينئذ (ووري) أي ستر بخرقة (سقط) موصوف بما ذكر (ودفن) أي وغسل وجوبا في هذه الثلاثة وحرمت الصلاة عليه. فإن) ظهرت حياته بصياح أو غيره أو ظهرت أمارتها كأن (اختلج) أي اضطرب أو تحرك بعد انفصاله فهو كالكبير ولو دون أربعة أشهر إن فرض كما أفاده الشبراملسي وحينئذ كفن ودفن وغسل وجوبا قطعا و (صلي عليه) وجوبا على الأظهر في مسألة عدم ظهور الحياة كالبكاء مع ظهور أمارتها كالتحرك لاحتمال حياته بهذه القرينة الدالة عليها وللاحتياط. وقد نظم بعضهم هذه الأحوال فقال والسقط كالكبير في الوفاة إن ظهرت أمارة الحياة أو خفيت وخلقه قد ظهرا فامنع صلاة وسواها اعتبرا أو اختفى أيضا ففيه لم يجب شيء وستر ثم دفن قد ندب أما النازل بعد تمام الأشهر وهو ستة أشهر فكالكبير مطلقا وإن نزل ميتا ولم يعلم له سبق حياة. وقال الشبراملسي وإن لم يظهر فيه تخطيط ولا غيره حيث علم أنه آدمي إذ هو خارج من تعريف السقط, وخرج بالسقط العلقة والمضغة لأنهما لا يسميان ولدا فيدفنان ندبا من غير ستر

Senin, 25 Februari 2013

Diskusi fiqih hingga nafas terakhir (Kisah Abu Yusuf dan Ibrohim Al Jarroh)


Qodhi Abu Yusuf adalah salah satu murid Abu Hanifah, yang merupakan pembesar ulama' madzhab Hanafi sekaligus penyebar madzhab Hanafi. Beliau adalah orang pertama yang dijuluki "Qodhil Qudhot" (Hakimnya para hakim) dan menjabat sebagai qodhi pada masa pemerintahan Al-Hadi, Al-Mahdi dan Ar-Rosyid, 3 Sultan Dinasti Abbasiyah. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat menghargai waktu, dan tak menyia-nyiakan waktunya untuk belajar.

Bahkan diakhir hayatnya, saat beliau sakit beliau masih sempat berdiskusi tentang masalah agama dengan orang yang menjenguknya, sebagaimana dikisahkan oleh murid beliau, Qodhi Ibrohim bin Al-Jaroh Al-Kufi Al-Mishriy, Qodhi Ibrohim bercerita ;

"Saat Abu Yusuf sedang sakit aku menjenguknya, saat aku sampai ternyata beliau sedang tak sadarkan diri. keika beliau sudah sadar, beliau berkata kepadaku :

"Hai Ibrohim, bagaimana pendapatmu tentang masalah ini?"

Aku berkata : "Anda bertanya, padahal kondisi anda seperti ini?"

"Tidak apa-apa, siapa tahu, dari hasil diskusi kita bisa membantu orang yang punya masalah seperti ini", kata Imam Abu Yusuf.

Imam Abu Yusuf berkata lagi : "Hai Ibrohim, Mana yang lebih utama, melempar jumroh (dalam manasik haji) dengan berjalan atau menunggang binatang?"

Aku menjawab : "Dengan berjalan"

"Salah". kata beliau

Aku jawab : 'Dengan menunggang"

"Salah " kata beliau

Aku bertanya : "Lalu bagaimana yang benar? Semoga Alloh meridhoi anda"

Beliau berkata : "jika orang tersebut ingin berhenti dan berdo'a maka lebih afdhol ia berjalan, namun apabila ia tidak berhenti untuk berdo'a maka lebih baik ia naik tunggangan".

Setelah itu, aku beranjak dari tempat beliau dirawat, saat aku berjalan dan belum sampai pintu rumah, aku mendengar suara jeritan, lalu aku bergegas mendatanginya, dan ternyata beliau sudah meninggal dunia, Semoga Alloh merahmati beliau".

( Sumber : Qimatuz Zaman Indal Ulama', Hal : 28-29 )

Download kitab Tafsir Ad-Durrul Mantsur Fit-Tafsir Bil-Ma'tsur



Judul kitab : Ad-Durrul Mantsur Fit-Tafsir Bil-Ma'tsur

Penulis : Jalaluddin As-Suyuthi (Imam Suyuthi)

Muhaqqiq : Dr. Abdulloh bin Abdul Muhsin At-Turki ( Di bantu "Markaz Hijr Lil Buhuts Wad-Dirosat Al-Arobiyah Wal-Islamiyah )
                      
Penerbit : Dar Hijr, Kairo - Mesir

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 2003

Link download (PDF) : Cover  Muqoddimah  Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8  Juz 9  Juz 10  Juz 11  Juz 12  Juz 13  Juz 14  Juz 15  Daftar isi
  ............................................................

 Postingan Terkait


KITAB - KITAB TAFSIR UMUM

Tafsir Imam Syafi'i

Tafsir Ath-Thobari

Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir Ad-Durrul Mantsur - Imam Suyuthi

Tafsir Ibnu Abi Hatim

Tafsir Imam Mujahid

Tafsir As-Sirojul Munir - Imam Khotib Asy-Syarbini

Tafsir Qurthubi

Tafsir Ibnul Mundzir

Tafsir Al-Kabir/Mafatihul Ghoib - Imam Fakhrurrozi

Tafsir Ruhul Ma'ani - Imam Al-Alusi

Tafsir Al-Bahrul Muhith - Abu Hayyan Al-Andalusi

Tafsir An-Nasafi

Tafsir Al-Khozin

Tafsir Sufyan Ats-Tsauri

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Mannar - Rosyid Ridho

Tafsir Al-Maroghi

Tafsir At-Tahrir Wat-Tanwir - Ibnu Asyur

Tafsir Fathul Qodir - Asy-Syaukani

Tafsir Al-Kasysyaf - Az-Zamakhsyari

Tafsir Al-Wajiz - Al-Wahidi

Tafsir Al-Wasith - Al-Wahidi

Tafsir Al-Basith - Al-Wahidi


KITAB - KITAB TAFSIR AYAT AHKAM

Ahkamul Qur'an Lil Imam Asy-Syafi'i - Imam Baihaqi

Ahkamul Qur'an - Ilkiya Al-Harrosyi

Al-Iklil Fi Istibatit Tanzil - Imam Suyuthi

Ahkamul Qur'an - Imam Ibnul Arobi

Ahkamul Qur'an - Al-Jashshoh

Ahkamul Qur'an - Ath-Thohawi

Ahkamul Qur'an - Al-Jahdhomi

Ahkamul Qur'an - Ibnul faros Al-Andalusi

Tafsir Nailul Marom Min Tafsir Ayat Ahkam - Shiddiq Hasan Khan

Rowa'iul Bayan Tafsir Ayat Ahkam - Ali Ash-Shobuni

Tafsir Ayat Ahkam - Abdul Qodir Syaibatul Hamd

Download kitab Tafsir Ibnu Katsir



Judul kitab : Tafsirul Qur'an Al-Adhim ( Tafsir Ibnu Katsir )

Penulis : Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Qurasyiy Ad-Damasyqi (Imam Ibnu Katsir)

Muhaqqiq : -

Penerbit : Dar Ibnu Hazm, Beirut - Lebanon

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 2000

Link download (PDF) : Klik disini

Download kitab Tafsir At-Thobari






Judul kitab : Jami'ul Bayan 'An Ta'wili Aayil Qur'an (Tafsir At-Thobari)

Penulis : Abu Ja'far, Muhammad bin Jarir at-Thobari (Imam Thobari)

Muhaqqiq : Dr. Abdulloh bin Abdul Muhsin At-Turki

Penerbit : Dar Hijr, Riyadh - Arab Saudi

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 2006

Link download (PDF) : Cover  Muqoddimah  Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8  Juz 9  Juz 10  Juz 11  Juz 12  Juz 13  Juz 14  Juz 15  Juz 16  Juz 17  Juz 18  Juz 19  Juz 20  Juz 21  Juz 22  Juz 23  Juz 24  Daftar isi
  ............................................................

 Postingan Terkait


KITAB - KITAB TAFSIR UMUM

Tafsir Imam Syafi'i

Tafsir Ath-Thobari

Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir Ad-Durrul Mantsur - Imam Suyuthi

Tafsir Ibnu Abi Hatim

Tafsir Imam Mujahid

Tafsir As-Sirojul Munir - Imam Khotib Asy-Syarbini

Tafsir Qurthubi

Tafsir Ibnul Mundzir

Tafsir Al-Kabir/Mafatihul Ghoib - Imam Fakhrurrozi

Tafsir Ruhul Ma'ani - Imam Al-Alusi

Tafsir Al-Bahrul Muhith - Abu Hayyan Al-Andalusi

Tafsir An-Nasafi

Tafsir Al-Khozin

Tafsir Sufyan Ats-Tsauri

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Mannar - Rosyid Ridho

Tafsir Al-Maroghi

Tafsir At-Tahrir Wat-Tanwir - Ibnu Asyur

Tafsir Fathul Qodir - Asy-Syaukani

Tafsir Al-Kasysyaf - Az-Zamakhsyari

Tafsir Al-Wajiz - Al-Wahidi

Tafsir Al-Wasith - Al-Wahidi

Tafsir Al-Basith - Al-Wahidi


KITAB - KITAB TAFSIR AYAT AHKAM

Ahkamul Qur'an Lil Imam Asy-Syafi'i - Imam Baihaqi

Ahkamul Qur'an - Ilkiya Al-Harrosyi

Al-Iklil Fi Istibatit Tanzil - Imam Suyuthi

Ahkamul Qur'an - Imam Ibnul Arobi

Ahkamul Qur'an - Al-Jashshoh

Ahkamul Qur'an - Ath-Thohawi

Ahkamul Qur'an - Al-Jahdhomi

Ahkamul Qur'an - Ibnul faros Al-Andalusi

Tafsir Nailul Marom Min Tafsir Ayat Ahkam - Shiddiq Hasan Khan

Rowa'iul Bayan Tafsir Ayat Ahkam - Ali Ash-Shobuni

Tafsir Ayat Ahkam - Abdul Qodir Syaibatul Hamd

Hukum berhubungan intim dengan istri yang sedang hamil


Pertanyaan :

Halo sobat.. aku mu tanya ada ndak hukumnya hubungan intim saat hamil ?
Makasih

( Dari : Esthi Wiyono )


Jawaban :

Terdapat dua pendapat berbeda mengenai hukum berhubungan intim dengan wanita yang sedang hamil :

1. Sebagian ulama' menyatakan bahwa berhubungan intim dengan wanita yang sedang hamil hukumnya makruh, mereka mendasarkan pendapatnya pada hadits yang diriwayatkan oleh Asma' binti Yazid As-Sakan yang mendengar Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

لَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ سِرًّا، فَإِنَّ الْغَيْلَ يُدْرِكُ الْفَارِسَ فَيُدَعْثِرُهُ عَنْ فَرَسِهِ

"Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian secara rahasia, sesungguhnya pengaruh menggauli isteri pada waktu menyusui/hamil akan menimpa penunggang kuda sehingga menyebabkannya lemah dan terjatuh dari kudanya." (Sunan Abu Dawud, no.3881, Sunan Ibnu Majah, no.2012 dan Shohih Ibnu Hibban, no.5984)

Hadits diatas secara tegas menyatakan larangan untuk melakukan ghoil, ghoil adalah menggauli wanita yang sedang hamil atau menyusui. Praktek ini dianggap sebagai pembunuhan secara samar terhadap anak yang dikandung, meskipun efek buruknya tidak nampak secara langsung, dan terkadang baru nampak ketika bayi yang dikandung sudah dilahirkan dan sudah dewasa. Dalam hadits diatas dicontohkan bahwa perbuatan itu seperti orang yang menggoncangkan kuda hingga orang yang menunggangnya jatuh. Hal ini dikarenakan air susu wanita akan rusak apabila terjadi persenggamaan pada masa kehamilan sehingga anak yang dilahirkan akan lemah, dan inilah yang dianggap sebagai pembunuhan dengan samar.

2. Mayoritas ulama' berpendapat bahwa berhubvungan intim dengan wanita yang sedang hamil itu diperbolehkan dan tidak makruh. Mereka mendasarkan pendapatnya pada beberapa hadits, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Judamah binti Wahab Al-Asadiyyah, ia mendengar Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ، فَنَظَرْتُ فِي الرُّومِ وَفَارِسَ، فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ أَوْلَادَهُمْ، فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ ذَلِكَ شَيْئًا

"Sungguh, tadinya aku ingin melarang dari ghilah, lalu aku lihat orang-orang Persia dan Romawi melakukannya dan itu tidak membahayakan anak-anak mereka." (Shohih Muslim, no.1442)

Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qodir menjelaskan; maksud dari hadits diatas adalah jika memang benar bahwa menggauli istri yang sedang hamil itu membahayakan tentunya bahaya itu akan bisa dilihat dari anak-anak orang romawi dan persia karena mereka melakukannya, sedangkan para ahli kesehatan banyak dikalangan mereka, nyatanya dokter-dokter mereka tak ada yang melarang hal tersebut, karena itulah aku juga tidak melarangnya.

Beliau juga menukil perkataan Syekh Ibnul qoyyim yang menjelaskan; hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang melarang ghilah, sebab maksud nabi adalah mendiskusikan dan memberikan pengarahan kepada para sahabat untuk tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan anak yang akan menjadi lemah atau mati, sebab bayi yang ada dalam kandungan memperoleh asupan makanan dari darah haidh sang ibu, dikhawatirkan persenggamaan yang dilakukan saat hamil akan merusak kualitas air susu ibunya, dan nanti saat bayi tersebut lahir dan menyusui, asupan gizi yang didapat dari air susu ibunya juga kurang sempurna, dan hal ini akan membuat kondisi bayi menjadi lemah. Jadi hal ini adalah himbauan dari Nabi untuk meninggalkan hal tersebut, namun beliau juga tidak mengharamkannya dan mencegah mereka untuk melakukannya, karena hal ini tidak selamanya terjadi pada semua anak.    

Kesimpulannya, berhubungan intim saat istri sedang hamil tu diperbolehkan dan tidak makruh menurut pendapat mayoritas ulama', kecuali apabila hal tersebut membahayakan bayi yang ada didalam kandungan berdasarkan penjelasan dari ahli kesehatan, apalagi jika usia kehamilannya sudah tua. Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Ziañ Nur Cahyo, Ma Shum, Farid Muzakki dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 44  Hal : 46-47
2. Aunul Ma'bud, Juz : 10  Hal : 261
3. Faidhul Qodir, Juz : 5  Hal : 280
4. Syarhu Ma'anil Atsar, Juz : 3  Hal : 46-48


Ibarot :
Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 44  Hal : 46-47

وطء الحامل
اختلف الفقهاء في حكم وطء الحامل
فقال أبو جعفر الطحاوي: ذهب قوم إلى كراهة وطء الرجل امرأته إذا كانت حبلى، واحتجوا بما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم: لا تقتلوا أولادكم سرا، فإن الغيل يدرك الفارس فيدعثره عن فرسه
وذهب جمهور الفقهاء إلى حل وطء الحامل، واستدلوا بما ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم: أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: إني أعزل عن امرأتي، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: لم تفعل ذلك؟ فقال الرجل: أشفق على ولدها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن كان لذلك فلا، ما ضار ذلك فارس ولا الروم. قال الطحاوي: في هذا الحديث إباحة وطء الحبالى، وإخبار النبي صلى الله عليه وسلم أن ذلك إذا كان لا يضر فارس والروم فإنه لا يضر غيرهم. واستدلوا أيضا بقول النبي صلى الله عليه وسلم: لقد هممت أن أنهى عن الغيلة حتى ذكرت أن الروم وفارس يصنعون ذلك فلا يضر أولادهم. ففي هذا الحديث أن النبي صلى الله عليه وسلم هم بالنهي عن ذلك حتى بلغه، أو حتى ذكر أن فارس والروم يفعلونه فلا يضر أولادهم. وفي ذلك إباحة ما قد حظره الحديث الذي استدل به القائلون بكراهة وطء الحامل

Aunul Ma'bud, Juz : 10  Hal : 261

فيدعثره عن فرسه) ولفظ بن ماجة لا تقتلوا أولادكم سرا فو الذي نفسي بيده إن الغيل ليدرك الفارس على ظهر فرسه حتى يصرعه انتهى. قال الخطابي معناه ويصرعه ويسقطه وأصله في الكلام الهدم ويقال في البناء قد تدعثر إذا تهدم وسقط يقول صلى الله عليه وسلم إن المرضع إذا جومعت فحملت فسد لبنها ونهك الولد (أي هزل الولد) إذا اغتذى بذلك اللبن فيبقى ضاويا فإذا صار رجلا وركب الخيل فركضها أدركه ضعف الغيل فزال وسقط عن متونها فكان ذلك كالقتل له إلا أنه سر لا يرى ولا يشعر به انتهى
قال في النهاية فيدعثره أي يصرعه ويهلكه والمراد النهي عن الغيلة وهو أن يجامع الرجل امرأته وهي مرضعة وربما حملت واسم ذلك اللبن الغيل بالفتح فإذا حملت فسد لبنها يريد أن من سوء أثره في بدن الطفل وإفساد مزاجه وإرخاء قواه أن ذلك لا يزال ماثلا فيه إلى أن يشتد ويبلغ مبلغ الرجال فإذا أراد منازلة قرن في الحرب وهن عنه وانكسر وسبب وهنه وانكساره الغيل انتهى
قال السندي نهي عن الغيل بأنه مضر بالولد الرضيع وإن لم يظهر أثره في الحال حتى ربما يظهر أثره بعد أن يصير الولد رجلا فارسا فيسقطه ذلك الأثر عن فرسه فيموت انتهى قال المنذري والحديث أخرجه بن ماجه

Faidhul Qodir, Juz : 5  Hal : 280

لقد هممت أن أنهى عن الغيلة) بكسر الغين المعجمة أي جماع مرضع أو حامل يقال أغالت واغتلت المرأة إذا حبلت وهي مرضعة ويسمى الولد المرضع مغيلا والغيل بالفتح ذلك اللبن وكانت العرب يحترزون عنها ويزعمون أنها تضر الولد وهو من المشهورات الذائعة بينهم (حتى ذكرت أن الروم وفارس يصنعون ذلك) أي يجامعون المرضع والحامل (فلا يضر أولادهم) يعني لو كان الجماع أو الإرضاع حال الحمل مضرا لضر أولاد الروم وفارس لأنهم يفعلونه مع كثرة الأطباء فيهم فلو كان مضرا لمنعوه منه فحينئذ لا أنهى عنه وقال ابن القيم: والخبر لا ينافيه خبر لا تقتلوا أولادكم سرا فإن هذا كالمشورة عليهم والإرشاد لهم إلى ترك ما يضعف الولد ويقتله لأن المرأة المرضع إذا باشرها الرجل حرك منها دم الطمث وأهاجه للخروج فلا يبقى اللبن حينئذ على اعتداله وطيب ريحه وربما حملت الموطوءة فكان من أضر الأمور على الرضيع لأن جهة الدم تنصرف في تغذية الجنين الذي في الرحم فينفذ في غذائه فإن الجنين لما كان مما يناله ويجتذبه ملائما له لأنه متصل بأمه اتصال الفرس بالأرض وهو غير مفارق لها ليلا ونهارا [ص:281] ولذلك ينقص دم الحامل ويصير رديئا فيصير اللبن المجتمع في ثديها رديئا فيضعفه فهذا وجه الإرشاد لهم إلى تركه ولم يحرمه عليهم ولا نهاهم عنه فإن هذا لا يقع دائما لكل مولود

Syarhu Ma'anil Atsar, Juz : 3  Hal : 46-48

باب وطء الحبالى
حدثنا فهد قال: ثنا أبو نعيم قال: ثنا ابن أبي غنية عبد الملك بن حميد , عن محمد بن المهاجر الأنصاري عن أبيه , عن أسماء بنت يزيد الأنصارية قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لا تقتلوا أولادكم سرا فإن قتل الغيل يدرك الفارس البطل أي الشجاع فيدعثره عن ظهر فرسه
حدثنا ربيع المؤذن قال: ثنا أسد قال: ثنا إسماعيل بن عياش , عن عمرو بن مهاجر , عن أبيه , عن أسماء بنت يزيد بن السكن الأنصارية قالت: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: «لا تقتلوا أولادكم سرا , فإن قتل الغيل يدرك الفارس على ظهر فرسه , فيدعثره» قال أبو جعفر: فذهب قوم إلى هذا فكرهوا وطء الرجل امرأته أو جاريته إذا كانت حبلى , واحتجوا في ذلك بهذا الحديث. وخالفهم في ذلك آخرون فقالوا: لا بأس بذلك واحتجوا في ذلك بما
حدثنا ابن أبي داود قال: ثنا ابن أبي مريم قال: ثنا يحيى بن أيوب قال: أخبرني أبو النضر , عن عامر بن سعد بن أبي وقاص , أن أسامة بن زيد أخبر والده سعد بن أبي وقاص قال: إن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال إني أعزل عن امرأتي. قال: «لم؟» قال: شفقة على الولد. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن كان كذلك فلا , ما كان ليضر فارس والروم» ففي هذا الحديث إباحة وطء الحبالى , وإخبار من النبي صلى الله عليه وسلم أن ذلك إذا كان لا يضر فارس والروم , فإنه لا يضر غيرهم. فخالف هذا الحديث , حديث أسماء , فأردنا أن ننظر أيهما الناسخ للآخر فنظرنا في ذلك. فوجدنا
يونس قد حدثنا قال: ثنا ابن وهب أن مالكا أخبره. ووجدنا محمد بن خزيمة
قد حدثنا قال: ثنا أبو مسهر قال: ثنا مالك بن أنس. ح
وحدثنا أبو بكرة قال: ثنا إبراهيم بن أبي الوزير قال: ثنا مالك بن أنس , عن محمد بن عبد الرحمن بن نوفل , عن عروة , عن عائشة , عن جدامة بنت وهب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لقد هممت أن أنهى عن الغيلة حتى ذكرت أن فارس والروم يصنعون ذلك , فلا يضر أولادهم
حدثنا ابن أبي داود قال: ثنا سعيد بن أبي مريم قال: أخبرني يحيى بن أيوب قال: حدثني أبو الأسود محمد بن عبد الرحمن بن نوفل قال: ثنا عروة بن الزبير , عن عائشة , زوج النبي صلى الله عليه وسلم عن جدامة بنت وهب الأسدية عن النبي صلى الله عليه وسلم , أنه هم أن ينهى عن الغيل قال: «فنظرت فإذا فارس والروم يغيلون , فلا يضر ذلك أولادهم
حدثنا إبراهيم بن محمد بن يونس , وصالح بن عبد الرحمن , قالا: ثنا المقرئ يعني أبا عبد الرحمن قال ثنا سعيد بن أبي أيوب , عن أبي الأسود , عن عروة , عن عائشة , أنها قالت: حدثتني جدامة فذكر نحوه
حدثنا ربيع الجيزي قال: ثنا أبو زرعة قال: أخبرنا حيوة , عن أبي الأسود , أنه سمع عروة , يحدث عن عائشة رضي الله تعالى عنها، عن جدامة رضي الله تعالى عنها، عن النبي صلى الله عليه وسلم مثله. ففي هذا الحديث أن النبي صلى الله عليه وسلم هم بالنهي عن ذلك , حتى بلغه , أو حتى ذكر أن فارس والروم يفعلونه , فلا يضر أولادهم. ففي ذلك إباحة ما قد حظره الحديث الأول. واحتمل أن يكون أحد الأمرين ناسخا للآخر. فنظرنا في ذلك فإذا
روح بن الفرج قد حدثنا قال: ثنا يحيى بن عبد الله بن بكير قال: ثنا سفيان بن عيينة , عن عمرو بن دينار , عن عطاء , عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان ينهى عن الاغتيال , ثم قال: «لو ضر أحدا , لضر فارس والروم» فثبت بهذا الحديث الإباحة بعد النهي , فهذا أولى من غيره , وجاء نهي النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك أنه كان من جهة خوفه الضرر من أجله , ثم أباحه لما تحقق عنده أنه لا يضر. ودل ذلك أنه لم يكن منع منه في وقت ما منع منه , من طريق الوحي , ولا من طريق ما يحل ويحرم , ولكنه [ص:48] على طريق ما وقع في قلبه صلى الله عليه وسلم منه شيء , فأمر به على الشفقة منه , على أمته لا غير ذلك كما قد كان أمر في ترك تأبير النخل. فإنه قد حدثنا يزيد بن سنان قال: ثنا أبو عامر قال: ثنا إسرائيل قال: ثنا سماك عن موسى بن طلحة عن أبيه أنه قال: مررت مع النبي صلى الله عليه وسلم في نخل المدينة , فإذا أناس في رءوس النخل , يلقحون النخل. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «ما يصنع هؤلاء؟» فقيل: يأخذون من الذكر فيجعلونه في الأنثى , فقال: «ما أظن ذلك يغني شيئا» فبلغهم فتركوه ونزعوا عنها. فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فقال: «إنما هو ظن ظننته , إن كان يغني شيئا فليصنعوه , فإنما أنا بشر مثلكم , وإنما هو ظن ظننته , والظن يخطئ ويصيب , ولكن ما قلت لكم قال الله , فلن أكذب على الله
حدثنا يزيد قال: ثنا أحمد بن عبدة قال: أخبرنا حفص بن جميع قال: ثنا سماك , أنه سمع موسى بن طلحة , يحدث عن أبيه , عن النبي صلى الله عليه وسلم نحوه
حدثنا يزيد قال: ثنا أبو الوليد , ويحيى بن حماد قال: ثنا أبو عوانة , عن سماك بن حرب , عن موسى بن طلحة , عن أمه , عن النبي صلى الله عليه وسلم فحدث مثله
حدثنا أبو بكرة قال: ثنا أبو داود الطيالسي قال: ثنا أبو عوانة , عن سماك , فذكر بإسناده مثله. فأخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم في هذا الحديث أن ما قاله من جهة الظن , فهو فيه كسائر الناس في ظنونهم , وأن الذي يقوله , مما لا يكون على خلاف ما يقوله هو ما يقوله عن الله عز وجل. فلما كان نهيه عن الغيلة , لما كان خاف منها على أولاد الحوامل , ثم أباحها , لما علم أنها لا تضرهم , دل ذلك على أن ما كان نهى عنه , لم يكن من قبل الله عز وجل , وأنه لو كان من قبل الله عز وجل لكان يقف به على حقيقة ذلك. ولكنه من قبل ظنه الذي قد وقف بعده على أن ما في الحقيقة مما نهى عما نهى عنه من ذلك من أجله , بخلاف ما وقع في قلبه من ذلك. فثبت بما ذكرناه أن وطء الرجل امرأته وأمته حاملا , حلال لم يحرم عليه قط. وهذا قول أبي حنيفة وأبي يوسف , ومحمد , رحمة الله عليهم

Minggu, 24 Februari 2013

Larangan memelihara anjing dan pengecualiannya


Pertanyaan :
Assalammualaikum
Saya mau bertanya, apakah ada larangan memelihara seorang anak anjing? sedangkan orang-orang arab di eropa mereka banyak yang memeliharanya?
Tolong penjelasannya.Biar saya tahu sedalam2nya. Terimak kasih

( Dari : Eva Thalib Delattre )

Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Semua ulama' sepakat bahwasanya memelihara anjing itu hukumnya tidak boleh, kecuali bila ada hajat, seperti berburu, penjagaan dan kemanfaatan lain yang tidak dilarang oleh agama. Dalil dari larangan memelihara anjing adalah beberapa hadits yang diriwayatkan Nabi, diantaranya adalah sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam:

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا، إِلَّا كَلْبَ صَيْدٍ، أَوْ مَاشِيَةٍ، نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

“Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth." (Shohih Muslim, no.1574)

Dalam riwayat lain, sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam:

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا، إِلَّا كَلْبَ زَرْعٍ، أَوْ غَنَمٍ، أَوْ صَيْدٍ، يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

“Barangsiapa memanfaatkan anjing selain anjing yang disuruh menjaga tanaman atau menjaga hewan ternak atau anjing untuk berburu, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qiroth.” (Shohih Muslim, no.1574)

( Imam Al-Munawi menjelaskan, Qiroth adalah satuan ukuran yang hanya diketahui oleh Alloh kadarnya.)

Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa memelihara anjing itu tidak diperbolehkan kecuali untuk tujuan berburu dan menjaga tanaman atau binatang ternak.

Sedangkan memelihara anjing untuk tujuan menjaga perumahan atau menjaga pintu gerbang, dalam madzhab Syafi'i hukumnya masih diperselisihkan;

1. Sebagian ulama' melarangnya berdasarkan dhohir dari hadits diatas yang melarang memelihara anjing dan  hanya memperbolehkan memeliharnya untuk berburu dan menjaga tanaman atau hewan ternak,

2. Menurut pendapat sebagian ulama' lainnya, diantaranya Syekh Abu Ishaq berpendapat bahwa memelihara anjing untuk tujuan menjaga rumah hukumnya boleh, meskipun tidak termasuk dalam pengecualian larangan memelihara anjing dalam hadits nabi, namun bisa disamakan dengan pengecualian yang disebutkan dalam hadits.

Imam Nawawi menjelaskan, dari kedua pendapat tersebut, pendapat kedua adalah pendapat yang ashoh, diqiyaskan pada ketiga pengecualian yang disebutkan dalam hadits,berdasarkan illat (alasan) yang dipahami dari ketiga hal yang dikecualikan diatas, yaitu adanya hajat.

Maka dari itu, apabila hajat yang memperbolehkan pemeliharaan anjing sudah tidak ada, maka hukumnya kembali pada hukum asal, yaitu diharomkannya memelihara anjing, sebagaimana yang dipahami dari penjelasan Syekh Qulyubi.

Kesimpulannya, hukum memelihara anjing, termasuk juga anak anjing adalah harom, kecuali untuk tujuan beburu, menjaga tanaman atau binatang ternak dan untuk menjaga rumah menurut pendapat ulama' yang memperbolehkannya. Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Slam Slamanya, Farid Muzakki dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 35  Hal : 124
2. Faidhul Qodir, Juz : 6  Hal : 81
3. Syarah An-Nawawi Ala Muslim, Juz : 10  Hal : 236
4. Al-Hawi Al-Kabir, Juz : 5  Hal : 379-380
5. Hasyiyah Qulyubi, Juz : 2  Hal : 197


Ibarot :
Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 35  Hal : 124

اقتناء الكلب
اتفق الفقهاء على أنه لا يجوز اقتناء الكلب إلا لحاجة: كالصيد والحراسة، وغيرهما من وجوه الانتفاع التي لم ينه الشارع عنها. –إلى أن قال- وقد ورد عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم، أنه قال: من اتخذ كلبا إلا كلب ماشية أو صيد أو زرع انتقص من أجره كل يوم قيراط. وعن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من اقتنى كلبا إلا كلب صيد، أو ماشية، نقص من أجره كل يوم قيراطان

Faidhul Qodir, Juz : 6  Hal : 81

قيراطان) أي قدرا معلوما عند الله إما بأن يدخل عليه من السيئات ما ينقص أجره في يومه وإما بذهاب أجره في إطعامه لأن في كل كبد حراء أجر أو بغير ذلك

Syarah An-Nawawi Ala Muslim, Juz : 10  Hal : 236

وأما اقتناء الكلاب فمذهبنا أنه يحرم اقتناء الكلب بغير حاجة ويجوز اقتناؤه للصيد وللزرع وللماشية وهل يجوز لحفظ الدور والدروب ونحوها فيه وجهان أحدهما لا يجوز لظواهر الأحاديث فإنها مصرحة بالنهي إلا لزرع أو صيد أو ماشية وأصحها يجوز قياسا على الثلاثة عملا بالعلة المفهومة من الأحاديث وهي الحاجة 

Al-Hawi Al-Kabir, Juz : 5  Hal : 379-380

فأما اتخاذ الكلاب لحراسة الدور والمنازل في المدن والقرى ففيه لأصحابنا وجهان: (أحدهما) وهو قول أبي إسحاق جواز اتخاذه لحراسة البيوت لما فيه من التيقظ والعواء على من أنكر فصار في معنى ما ورد الاستثناء فيه. (والوجه الثاني): أنه لا يجوز اتخاذه لحراسة الدور والبيوت في المدن لأنه قد يستغنى بالدروب والحراس فيها عن الكلاب؛ ولأن الكلاب لا تغني في المنازل ما تغني في الزرع والمواشي، لأن حفظ المنازل من الناس، والكلب ربما احتال الإنسان عليه بلقمة يطعمه حتى يألفه فلا ينكره إذا ورد للسرقة والتلصص، والزروع والمواشي تحفظ من الوحش والسباع فلا يتم فيها حيلة في ألف الكلب لها فافترق المعنى فيهما

Hasyiyah Qulyubi, Juz : 2  Hal : 197

قوله: (فلا يصح بيع الكلب) ولا يجوز اقتناؤه إلا لحاجة بقدرها كحراسة ماشية وزرع وصيد، ويجب زوال اليد عنه بفراغها

Hukum jual beli pupuk dari kotoran binatang


Pertanyaan :
Assalamu'alaikum...
Mau tanya, bagaimana hukum jual beli pupuk yang  terbuat dari kotoran hewan yang sudah di kemas rapi dan tdk trlihat menjijikan, apakah tetap trgolong najis? Jika najis dan tidak sah akad jual belinya, lantas bagaimana akod yang dibenarkan menurut syari'at?

( Dari : Brandal Loka Jaya dan Rumput Liar )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Kotoran binatang adalah sesuatu yang dihukumi najis, sedangkan salah satu syarat dari jual beli adalah barang yang dijual merupakan benda yang suci, karena itu jual beli kotoran pupuk yang dibuat dari kotoran binatang hukumnya tidak sah. Dalilnya adalah sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam :

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الخَمْرِ، وَالمَيْتَةِ وَالخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ المَيْتَةِ، فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَيُدْهَنُ بِهَا الجُلُودُ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ؟ فَقَالَ: «لاَ، هُوَ حَرَامٌ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: قَاتَلَ اللَّهُ اليَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ، ثُمَّ بَاعُوهُ، فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

"Sesungguhnya Alloh dan Rosul-Nya telah melarang jual beli khomer (arak), bangkai, daging babi serta jual beli patung/arca." Ada seseorang yang bertanya, "Wahai Rosulullah, bagaimana pendapat anda dengan minyak (lemak) yang terdapat dalam bangkai? Sebab lemak tersebut bisa digunakan untuk melumasi perahu, untuk meminyaki kulit dan menyalakan lampu?" Lalu beliau bersabda: "Tidak boleh, hal itu tetaplah haram." Kemudian Rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam melanjutkan sabdanya: " Alloh memerangi orang-orang Yahudi, ketika Alloh 'azza wajalla mengharamkan lemak bangkai, ternyata mereka tetap mengolahnya juga, kemudian mereka menjualnya dan hasil penjualannya mereka makan." (Shohih Bukhori, no.2236 dan Shohih Muslim, no.1581)

Selain akadnya tidak sah dan batil, uang yang dihasilkan dari penjualan itu juga dihukumi harom. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud ;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الكَلْبِ، وَمَهْرِ البَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ

“Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, penghasilan pelacur dan upah perdukunan.” (Shohih Bukhori, no.2282 dan Shohih Muslim, no.1567)

Pendapat yang menyatakan bahwa jual beli benda najis hukumnya tidak sah adalah pendapat madzhab Syafi'i, sedangkan menurut madzhab Hanafi jual beli benda najis itu juga tidak sah, namun ulama'-ulama' madzhab Hanafi mengecualikan kotoran hewan yang bisa dimanfaatkan, seperti kotoran sapi yang biasa dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanah atau tanaman, Semua ashhab madzhab hanafi sepakat bahwa jual beli kotoran hewan tersebut diperbolehkan.

Apabila kita mengacu pada pendapat madzhab Syafi'i yang menyatakan bahwa jual beli tersebut tidak sah, ulama'-ulama' madzhab syafi'i memberikan jalan keluar yaitu dengan cara sighot (ucapan) akadnya bukan akad jual beli tapi naqlul yad (perpindahan tangan) dengan cara nuzul. Caranya ; rang yang memiliki barang mengatakan : "Aku gugurkan hakku atas benda ini(menyebutkan benda) dengan ganti sekian (menyebutkan harga)", lalu orang yang menerima mengucapkan : "Saya terima".

Kesimpulannya, menurut madzhab Syafi'i jual beli pupuk yang berasal dari kotoran binatang itu tidak sah, dan solusinya perpindahan kepemilikan atas pupuk itu menggunakan akad "tanazul 'anil ikhtishosh". Prakteknya penyedia pupuk mengatakan : "Aku gugurkan hakku atas pupuk ini", lalu orang yang membutuhkan mengatakan "saya terima". Wallohu a'lam

( Dijawab oleh : Quthni Masih Bertapa, Ulin Nuha New Numaely, Farid Zain, Siroj Munir,Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Farid Muzakki dan Mazz Rofii )


Referensi :
1. Al-Muhadzdzab, Juz : 2  Hal : 9-10
2. Al-Majmu', Juz : 9  Hal ; 230-231
3. Hasyiyah Al-Bajuri, Juz : 1  Hal : 532
4. Qurrotul Ain Bi Fatawi Isma'il az-Zain, Hal : 116-117
5. Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Juz : 5  Hal : 3431
6. Al-Jauharoh An-Nayyiroh (Kitab Fiqih Madzhab Hanafi), Juz : 1  Hal : 220


Ibarot :
Al-Muhadzdzab, Juz : 2  Hal : 9-10

باب ما يجوز بيعه وما لا يجوز
الأعيان ضربان: نجس وطاهر فأما النجس فعلى ضربين: نجس في نفسه ونجس بملاقاة نجاسة فأما النجس في نفسه فلا يجوز بيعه وذلك مثل الكلب والخنزير والخمر والسرجين وما أشبه ذلك من النجاسات والأصل فيه ما روى جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "إن الله تعالى حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام1" وروى ابن مسعود وأبو هريرة أن رسول الله صلي الله عليه وسلم "نهى عن ثمن الكلب" فنص على الكلب والخنزير والخمر والميتة وقسنا عليها سائر الأعيان النجسة


Al-Majmu', Juz : 9  Hal ; 230-231

فرع : بيع سرجين البهائم المأكولة وغيرها وذرق الحمام باطل وثمنه حرام هذا مذهبنا وقال أبو حنيفة يجوز بيع السرجين لاتفاق أهل الأمصار في جميع الأعصار على بيعه من غير إنكار ولأنه يجوز الانتفاع به فجاز بيعه كسائر الأشياء. واحتج أصحابنا بحديث ابن عباس السابق إن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ان لله إذا حرم على قوم شيئا حرم عليهم ثمنه) وهو حديث صحيح كما سبق بيانه قريبا وهذا عام إلا ما خرج بدليل كالحمار والعبد وغيرهما ولأنه نجس العين فلم يجز بيعه كالعذرة فإنهم وافقوا على بطلان بيعها مع أنه ينتفع بها (وأما) الجواب عما احتجوا به فهو ما أجاب به الماوردى أن بيعه إنما يفعله الجهلة والارزال فلا يكون ذلك حجة في دين الإسلام (وأما) قولهم إنه منتفع به فأشبه غيره فالفرق أن هذا نجس بخلاف غيره

Hasyiyah Al-Bajuri Ala Fathul Qorib, Juz : 1  Hal : 532

و يجوز نقل اليد عن النجس بالدراهم كما في النزول عن الوظائف و طريقه ان يقول المستحق له اسقطت حقي من هذا بكذا فيقول الاخر قبلت

Qurrotul Ain Bi Fatawi Isma'il az-Zain, Hal : 116-117

سؤال : ماحكم بيع الاشياء النجسة كالسرجين ونحوه ؟
الجواب : والله الموفق للصواب أن الاشياء النجسة كالسرجين وغيره مما ينتفع به ولو بعد تطهيره كجلدالميتة قبل الدبغ لاتسمى مملوكة وانما يكون فيها لمن هي في يده نوع اختصاص فلا يجوز بيعها لان شرط المبيع ان يكون طاهرا ولكن يجوز التنازل عن الاختصاص على شيء معلوم كان يقول من هي في يده لآخر نزلت لك عن اختصاص عن هذا السرجين او عن جلد الميتة او عن كلب الصيد مثلا على كذا وكذا فيقول قبلت ولايجوز بلفظ البيع. والله سبحانه وتعالى أعلم

Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Juz : 5  Hal : 3431

بيع النجس والمتنجس
قال الحنفية: لا ينعقد بيع الخمر والخنزير والميتة والدم؛ لأنها ليست بمال أصلاً. ويكره بيع العَذِرة، ولا بأس ببيع السرقين أو السرجين: وهو (الزبل) وبيع البعر، لأنه منتفع به، لأنه يلقى في الأرض لاستكثار الريع، فكان مالاً، والمال محل للبيع

Al-Jauharoh An-Nayyiroh, Juz : 1  Hal : 220

Sabtu, 23 Februari 2013

Download kitab Shohih Muslim






Judul kitab : Shohih Muslim

Penulis : Abul Husain, Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi


VERSI PERTAMA

Muhaqqiq : Muhammad Fu'ad Abdul Baqi

Penerbit : Darut Ihya'il Kutub Al-Arobiyah, Kairo - Mesir

               Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut - Lebanon

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 2006

Link download (PDF) : Klik disini



VERSI KEDUA

Muhaqqiq : Abu Qutaibah, Nadhor Muhammad Al-Faryabi

Penerbit : Darut Thoyyibah, Riyadh - Arab Saudi

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 2006

* Kitab-kitab yang diikut sertakan dalam cetakan ini :

1. Judul kitab : Ghoyatul Ibtihaj Li Muqtafi Asanidi Kitab Muslim bin Al-Hajjaj

     Penulis : Sayyid Muhammad bin Muhammad Murtadho Az-Zubaidi
    
2. Judul Kitab : Ilalul Ahadits Fi Kitabis Shohih

     Penulis : Abul Fadhl bin Ammar Asy-Syahir
    
3. Judul Kitab : Al-Ilzamat Wat-Tatabu'

     Penulis : Imam Abul Hasan, Ali bin Umar Ad-Daruquthni
    
4. Al-Ajwibah Amma Asykala Asykala Asy-Syaikh Ad-Daruquthni

    Penulis : Abu Mas'ud Ad-Damasyqi
   
5. Judul Kitab : At-Tanbih Alal Auham Al-waqi'ah Fi Shohih Muslim

    Penulis : Abu Al Al-Jayyani
   
6. Judul Kitab : Ghurorul Fawa'id

     Penulis : Al-Hafidh Rosyiduddin, Abul Husain, Yahya bin Ali Al-Aththor
    
7. Judul Kitab : Tanbihul Mu'allim Bi Mubhamat Shohih Muslim

    Penulis : Abu Dzar bin Sibthi bin Al-Ajmi

Link download (PDF) : Muqoddimah  Kitab

Download kitab Sohih Al-Bukhori






Judul kitab : Sohih Al-Bukhori

Penulis : Abu Abdilloh, Muhammad Isma'il bin Ibrohim bin Mughiroh Al-Ja'fi Al-Bukhori


VERSI PERTAMA

Muhaqqiq : Muhammad Zuhair bin Nashir An-Nashir

Penerbit : Darut Thouqin Najat, Beirut - Lebanon

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 1422 H

Link download (PDF) : Cover  Muqoddimah+Daftar isi Juz 1  Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8  Juz 9


VERSI KEDUA

Muhaqqiq : Abu Abdilloh, Abdus Salam bin Muhammad bin Umar Allaus

Penerbit : Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh - Arab Saudi

Cetakan : Kedua

Tahun terbit : 2006

Link download (PDF) : Muqoddimah  Kitab

Jumat, 22 Februari 2013

Batasan lubang pada sarung atau mukena yang membatalkan sholat


Pertanyaan :
Assalamu'alaikum..
Maaf mau tanya nih sahabat FK..
Lubang pada sarung atau mukena (bukan lubang asli) yang bisa menjadikan tidak sahnya sholat sebesar apa sih ?

( Dari : Aini Najihah )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Lubang pada sarung atau mukena yang menutupi aurot dianggap membatalkan sholat adalah apabila lubang tersebut menampakkan warna kulit yang termasuk aurot dan bisa dilihat sekilas oleh mata orang yang normal saat berhadapan. Sedangkan apabila lubang tersebut terlihat karena memang dilihat dari jarak yang sangat dekat dan dperhatikan dengan teliti maka lubang tersebut tidak dianngap dan  sholatnya tetap sah. Wallohu a'lam

( Dijawab oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Fathul Mu'in, Hal : 85-86
2. Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 233


Ibarot :
Fathul Mu'in, Hal : 85-86

ثالثها: أي شروط الصلاة ستر رجل ولو صبيا وأمة ولو مكاتبة وأم ولد ما بين سرة وركبة لهما ولو خاليا في ظلمة للخبر الصحيح: لا يقبل الله صلاة حائض أي بالغ إلا بخمار. ويجب ستر جزء منهما ليتحقق به ستر العورة. وستر حرة ولو صغيرة غير وجه وكفين ظهرهما وبطنهما إلى الكوعين. بما لا يصف لونا أي لون البشرة في مجلس التخاطب كذا ضبطه بذلك أحمد بن موسى بن عجيل

Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 233

قوله: بما يمنع إدراك لونها) أي: لمعتدل البصر عادة كما في نظائره ع ش –إلى أن قال- والمراد بقوله: بما يمنع إدراك لونها أي في مجلس التخاطب كما في سم. قال ع ش على م ر وهو يقتضي أن ما يمنع في مجلس التخاطب، وكان بحيث لو تأمل الناظر فيه مع زيادة القرب للمصلي جدا لأدرك لون بشرته لا يضر

Kamis, 21 Februari 2013

Download kitab An-Nukat Ala Muqoddimati Ibnus Sholah



Judul kitab : At-Taqyid Wal Idhoh Syarah Muqoddimah Ibnus Sholah

Penulis : Al-Imam Badruddin, Abu Abdillah, Muhammad bin Jamaluddin Az-Zarkasyi Asy-Syafi'i

Muhaqqiq : Dr. Zainul Abidin bin Muhammad

Penerbit : Adhwa'us Salaf, Riyadh - Arab Saudi

Cetakan : Pertama

Tahun terbit : 1998

Link download (PDF) : Cover  Juz 1  Juz 2 & 3

Download kitab At-Taqyid Wal Idhoh Syarah Muqoddimah Ibnus Sholah - Al-Misbah Ala Muqoddimati Ibnus Sholah



1. Judul kitab : At-Taqyid Wal Idhoh Syarah Muqoddimah Ibnus Sholah

Penulis : Al-Hafidh Zainuddin, Abdurrohim bin Al-Husain Al-Iroqi

2. Judul Kitab : Al-Misbah Ala Muqoddimati Ibnus Sholah

Penulis : Syekh Muhammad Roghib At-Thobah

Penerbit : Darul Hadits, Beirut - Lebanon

Cetakan : Kedua

Tahun terbit : 1984

Link download (PDF) : Muqoddimah  Kitab

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda