Home » , » Hukum Memakai Pakaian Ketat dan Menyerupai Lelaki Bagi Wanita

Hukum Memakai Pakaian Ketat dan Menyerupai Lelaki Bagi Wanita

Written By siroj munir on Rabu, 01 Januari 2014 | 02.14.00


Pertanyaan:
Assalamu'alaikum.
Dewan Asatidz, maaf mau tanya. Apakah wanita yang memakai celana panjang ketat  termasuk menyerupai laki-laki dan diharamkan?

(Dari Laita Ly Janach).

Jawaban:
Wa'alaikum salam.
Celana yang dipakai wanita dikategorikan tasyabbuh (menyerupai) lelaki atau tidak  itu tergantung dari modelnya, berikut ini perinciannya:

- Apabila pakaian tersebut memang dirancang untuk dipakai para wanita atau umumnya dipakai oleh wanita, maka hal tersebut bukan termasuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan laki-laki yang diharamkan.

- Apabila bentuk celana tersebut biasa dipakai oleh para wanita dan juga dipakai oleh pria, maka juga tidak dikategorikan tasyabbuh.

- Apabila celana tersebut memang dirancang khusus bagi pria, maka apabila seorang wanita memakainya hal tersebut dikategorikan sebagai tindakan menyerupai laki-laki yang diharamkan, sebagaimana dijelaskan dalam satu hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

"Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang meyerupai laki-laki." (Shahih Bukhari, no.5885)

Sedangkan hukum memakai celana ketat bagi wanita adalah harom, apabila celana ketat tersebut dipakai didepan orang yang haram melihatnya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: pertama, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan kedua, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian (maksudnya jarak yang sangat jauh).” (Shahih Muslim, no. 2128).

Imam An Nawawi dalam Syarah Muslimnya menjelaskan bahwa hadits ini merupakan salah satu mu'jizat nabi Muhammad, karena apa yang dijelaskan oleh Nabi kala itu telah terjadi pada masa ini. Sedangkan mengenai maksud dari “kasiyatun ‘ariyatun” (berpakaian tapi telanjang) yang disebutkan pada hadits tersebut, beliau menjelaskan beberapa penjelasan, salah satu maksud dari kalimat tersebut adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga tampak bagian dalam tubuhnya, jadi maksudnya wanita tersebut secara lahiriah memakai pakaian tapi sejatinya tidak.

Keharaman memakai pakaian ketat bagi seorang wanita harus dipahami sebagai aturan yang ditetapkan untuk menjaga kehormatan, mencegah pikiran negatif dari orang yang melihatnya dan terjadinya hal-hal yang buruk yang akan menimpa dirinya.

Kesimpulan dari keterangan diatas adalah memakai celana ketat dikategorikan tasyabbuh yang terlarang atau tidak tergantung dari modelnya, sedangkan hukum menggunakannya adalah haram apabila dipakai didepan orang yang haram melihat aurotnya. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Al Murtadho, Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Siroj Munir).

Referensi:
1. Syarah Shahih Bukhari Li Ibnul Baththol, jilid 9 hal. 140

باب المتشبهين بالنساء والمتشبهات بالرجال
فيه: ابن عباس، لعن النبى، عليه السلام، المتشبهين من الرجال بالنساء، والمتشبهات من النساء بالرجال. قال الطبرى: فيه من الفقه أنه لا يجوز للرجال التشبه بالنساء فى اللباس والزينة التى هى للنساء خاصة، ولا يجوز للنساء التشبه بالرجال فيما كان ذلك للرجال خاصة

2. Bughyah al Mustarsyidin hal. 604

ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه في الفتح والتحفة والإمداد وشن الغارة ، وتبعه الرملي في النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر ، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه   

3. Syarh an Nawawi ala Muslim, jilid 17 hal. 190-191

قوله صلى الله عليه وسلم (صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لايدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها لتوجد من مسيرة كذاوكذا) هذا الحديث من معجزات النبوة فقد وقع ما أخبر به صلى الله عليه وسلم فأما أصحاب السياط فهم غلمان والي الشرطة أما الكاسيات ففيه أوجه -إلى أن قال- والرابع يلبسن ثيابا رقاقا تصف ما تحتها كاسيات عاريات في المعنى -إلى أن قال- (لايدخلن الجنة) يتأول التأويلين السابقين في نظائره أحدهما أنه محمول على من استحلت حراما من ذلك مع علمها بتحريمه فتكون كافرة مخلدة فى النار لاتدخل الجنة أبدا والثانى يحمل على أنها لاتدخلها أول الأمر مع الفائزين والله تعالى أعلم