Home » , » Sumbangan dan Hadiah Yang Diberikan Waktu Khitanan, Milik Orang Tua Atau Anak yang Dikhitan?

Sumbangan dan Hadiah Yang Diberikan Waktu Khitanan, Milik Orang Tua Atau Anak yang Dikhitan?

Written By siroj munir on Selasa, 21 Januari 2014 | 03.55.00


Pertamyaan:
Asalamualaikum.. mau tanya apa, bila seorang anak di khitan biasanya ia di beri uang oleh orang yang hadir atau kondangan yang jadi pertanyaan uang tersebut milik ayahnya atau anaknya.

(Pertanyaan dari Opick Syahreza)

Jawaban:
Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh
Status hukum sumbangan atau hadiah yang yang diberikan pada saat acara khitanan diperinci sebagai berikut:

1. Apabila pemberinya secara jelas menentukan untuk siapa sumbangan/hadiah tersebut, maka sumbangan/hadiah menjadi milik orang yang dituju, baik yang menerima orang tua atau anaknya.

2. Apabila pemberinya tidak menentukan penerimanya, maka hukumnya diprselisihkan diantara ulama';

- Menurut Imam Nawawi sumbangan/hadiah tersebut menjadi milik orang tua anak yang dikhitan, karena secara umum sumbangan/hadiah yang diberikan pada acara seperti itu ditujukan untuk orang tuanya bukan anaknya. Sebagaimana yang telah berlaku dimasyarakat ketika seseorang menyumbang untuk suatu hajatan yang dituju adalah orang tuanya dengan harapan nantinya kalau dia nanti juga mempunyai hajat, dia akan disumbang balik oleh orang yang pernah dia sumbang. Sehingga ada ulama yang mengatakan bahwasanya uang sumbangan itu hukumnya sama dengan hutang yang harus dikembalikan lagi.

- Menurut Qodhi Husain, barang sumbangan/hadiah tersebut milik anaknya.

- Menurut pendapat imam Al-Hishni dalam kitab Kifayatul Akhyar, hukumnya diperinci; apabila sumbangan/hadiah tersebut berupa barang yang biasanya diperuntukkan kepada anak kecil, seperti pakaian yang berukuran kecil, maka hadiah tersebut adalah milik anaknya, sedangkan apabila berupa barang yang biasanya diperuntukkan bagi orang dewasa, maka barang tersebut milik orang tuanya.

Wallahu a’lam

(Dijawab oleh: Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir)

Referensi:
1. I'anatut Tholibin, juz 4 hal.154

(( ﻓﺮﻉ )) ﺍﻟﻬﺪﺍﻳﺎ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﻟﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻣﻠﻚ ﻟﻸﺏ ﻭﻗﺎﻝ ﺟﻤﻊ ﻟﻺﺑﻦ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﻳﻠﺰﻡ ﺍﻷﺏ ﻗﺒﻮﻟﻬﺎ ﻭﻣﺤﻞ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﺍﺫﺍ ﺃﻃﻠﻖ ﺍﻟﻤﻬﺪﻱ ﻓﻠم ﻳﻘﺼﺪ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻭﺍﻻ ﻓﻬﻲ ﻟﻤﻦ ﻗﺼﺪﻩ ﺍﺗﻔﺎﻗﺎ  ((ﻗﻮﻟﻪ ﻭﺍﻻ )) ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﻄﻠﻖ ﺍﻟﻤﻬﺪﻱ ﺑﺄﻥ ﻭﺟﺪ ﻣﻨﻪ ﻗﺼﺪ ((ﻗﻮﻟﻪ ﻓﻬﻲ )) ﺃﻱ ﺍﻟﻬﺪﺍﻳﺎ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻟﻤﻦ ﻗﺼﺪﻩ ﺃﻱ ﻣﻦ ﺍﻷﺏ ﺍﻭ ﻣﻦ ﺍﻹﺑﻦ ﺍﻭ ﻣﻨﻬﻤﺎ

2. Tuhfatul Muhtaj, juz 6 hal.317

ﺍﻟﻬﺪﺍﻳﺎ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﻟﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻣﻠﻚ ﻟﻸﺏ ﻭﻗﺎﻝ ﺟﻤﻊ ﻟﻼﺑﻦ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﻳﻠﺰﻡ ﺍﻷﺏ ﻗﺒﻮﻟﻬﺎ ﺃﻱ : ﺣﻴﺚ ﻻ ﻣﺤﺬﻭﺭ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻭﻣﻨﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﺍﻟﺘﻘﺮﺏ ﻟﻸﺏ ﻭﻫﻮ ﻧﺤﻮ ﻗﺎﺽ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻪ ﺍﻟﻘﺒﻮﻝ ﻛﻤﺎ ﺑﺤﺜﻪ ﺷﺎﺭﺡ ﻭﻫﻮ ﻣﺘﺠﻪ ﻭﻣﺤﻞ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﺇﺫﺍ ﺃﻃﻠﻖ ﺍﻟﻤﻬﺪﻱ ﻓﻠﻢ ﻳﻘﺺﺩ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻭﺇﻻ ﻓﻬﻲ ﻟﻤﻦ ﻗﺼﺪﻩ ﺍﺗﻔﺎﻗﺎ ﻭﻳﺠﺮﻱ ﺫﻟﻚ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻌﻄﺎﻩ ﺧﺎﺩﻡ ﺍﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻓﻬﻮ ﻟﻪ ﻓﻘﻂ ﻋﻨﺪ ﺍﻹﻃﻼﻕ ، ﺃﻭ ﻗﺼﺪﻩ ﻭﻟﻬﻢ ﻋﻨﺪ ﻗﺼﺪﻫﻢ ﻭﻟﻪ ﻭﻟﻬﻢ ﻋﻨﺪ ﻗﺼﺪﻫﻤﺎ ﺃﻱ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻈﻬﺮ ﺃﺧﺬﺍ ﻣﻤﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺻﻲﺓ ﻟﺰﻳﺪ ﺍﻟﻜﺎﺗﺐ ، ﻭﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻣﺜﻼ ﻭﻗﻀﻴﺔ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻣﺎ ﺍﻋﺘﻴﺪ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﻮﺍﺣﻲ ﻣﻦ ﻭﺿﻊ ﻃﺎﺳﺔ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻒﺭﺡ ﻟﻴﻀﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻬﺎ ﺩﺭﺍﻫﻢ ، ﺛﻢ ﺗﻘﺴﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺎﻟﻖ ﺃﻭ ﺍﻟﺨﺎﺗﻦ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻳﺠﺮﻱ ﻓﻴﻪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﻓﺈﻥ ﻗﺼﺪ ﺫﺍﻙ ﻭﺡﺩﻩ ، ﺃﻭ ﻣﻊ ﻧﻈﺮﺍﺋﻪ ﺍﻟﻤﻌﺎﻭﻧﻴﻦ ﻟﻪ ﻋﻤﻞ ﺑﺎﻟﻘﺼﺪ ﻭﺇﻥ ﺃﻃﻠﻖ ﻛﺎﻥ ﻣﻠﻜﺎ ﻟﺼﺎﺣﺐ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﻳﻌﻄﻴﻪ ﻟﻤﻦ ﺷﺎﺀ ﻭﺑﻬﺬﺍ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻧﻈﺮ ﻫﻨﺎ ﻟﻠﻌﺮﻑ ، ﺃﻣﺎ ﻣﻊ ﻗﺼﺪ ﺧﻼﻓﻪ ﻓﻮﺍﺿﺢ ﻭﺃﻣﺎ ﻣﻊ ﺍﻹﻃﻼﻕ ﻓﻸﻥ ﺣﻤﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﻣﻦ ﺍﻷﺏ ﻭﺍﻝﺧﺎﺩﻡ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﻧﻈﺮﺍ ﻟﻠﻐﺎﻟﺐ ﺃﻥ ﻛﻼ ﻣﻦ ﻫﺆﻻﺀ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﻫﻮ ﻋﺮﻑ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻓﻴﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﻑ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻒ ﻝﻩ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻟﻠﺸﺮﻉ ﻓﻴﻪ ﻋﺮﻑ ﻓﺈﻧﻪ ﺗﺤﻜﻢ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﻟﻮ ﻧﺬﺭ ﻟﻮﻟﻲ ﻣﻴﺖ ﺑﻤﺎﻝ ﻓﺈﻥ ﻗﺼﺪ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﻠﻜﻪ ﻟﻐﺎ ﻭﺇﻥ ﺃﻃﻠﻖ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺎ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﻟﻠﺼﺮﻑ ﻓﻲ ﻣﺼﺎﻟﺤﻪ ﺻﺮﻑ ﻟﻬﺎ ﻭﺇﻻ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻉﻧﺪﻩ ﻗﻮﻡ ﺍﻋﺘﻴﺪ ﻗﺼﺪﻫﻢ ﺑﺎﻟﻨﺬﺭ ﻟﻠﻮﻟﻲ ﺻﺮﻑ ﻟﻬﻢ

3. Kifayatul akhyar, juz 1 hal 324

 وقال الحصني في كفاية الآخيار فرع اذا ختن شخص ولده وعمل وليمة فحملت اليه هدايا ولم يسم آصحابه الآب ولا الإبن فهل هي للآب او للإبن وجهان صحح النووي آنها للآب وآجاب القاضي حسين آنها للإبن ويقبل الآب قلت ينبغي آمر ثالث وهو انه ان كان المهدي مما يصلح للصبي دون ابيه كشيئ من ملبوس الصغار فهو للصبي وان كان لايصلح للصغير فهو للآب وان كان إحتملهما فهو موضع التردد لعدم القرينة المرجحة والله اعلم انتهي

cabang bila seseorang mengkhitan anaknya dan mengadakan acara walimah khitan dan memuat dalam acara walimah khitan tersebut adanya hadiah dari orang yg mengundang dan orang yg mempunyai hadiah (orang yg diundang) itu tidak menyebut hadiahnya itu untuk bapak ataupun anaknya maka apakah hadiah tersebut itu milik bapak ataupun anaknya dalam ini ada dua pendapat. imam nawawi menshahihkan hadiah tersebut milik bapaknya dan al qodhi husain menjawab bahwa hadiah tersebut itu milik anaknya dan status bapaknya hanya menerima hadiah saja (dari pihak yg diundang) saya berkata ( imam taqiyyuddin abi bakar muhammad al khisni seyogyanya ada perkara (pendapat ) tiga adapun perkara tiga itu bila hadiah itu pantas (patut) bagi anaknya bukan bapaknya seperti pakaian anak-anak maka hadiah tersebut milik anaknya ,dan bila hadiah itu tidak pantas bagi anaknya ( contoh pakaian ukuran dewasa dll) maka hadiah tersebut milik bapaknya dan bila hadiah tersebut masih ikhtimal maka hadiah yg masih ikhtimal itu tempat kebimbangan karna tidak ada qorinah (tanda-tanda) yg diunggulkan antaranya