Home » , , » Air Endapan Yang Keluar Dari Kelamin, Apakah Membatalkan Wudhu?

Air Endapan Yang Keluar Dari Kelamin, Apakah Membatalkan Wudhu?

Written By siroj munir on Sabtu, 08 Maret 2014 | 18.42.00


Soal: Assalamu alaikum, seorang cewek sedang cebok lalu ada air yang mengendap dalam alat kelaminnya. Setelah itu ia wudhu dan ketika sholat terasa air yang mengendap didalam kelamin tersebut keluar. Bagaimana hukumnya endapan air tersebut, apakah wudhunya batal?

(Pertanyaan dari: Jack Koko)

Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh

Jawaban dari pertanyaan diatas diperinci sebagai berikut:

1. Apabila wanita tersebut yakin bahwa air yang keluar tersebut adalah air yang mengendap saat cebok, maka wudhunya batal, sebab segala sesuatu yang keluar dari qubul (alat kelamin) dan dubur dapat membatalkan wudhu, meskipun yang keluar adalah benda sesuatu yang tidak keluar pada umumnya.

Hukum ini didasarkan pada keumuman ayat yang menjelaskan salah satu perkara yang membatalkan kesucia, yaitu;

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

"Atau salah seorang diantara kalian datang dari kakus" (QS. Al-Ma'idah : 6)

Dalam kitab Majmu’, imam Nawawi menyatakan bahwa jika ada laki-laki atau perempuan memasukkan suatu benda kedalam qubul atau duburnya, kemudian keluar lagi, maka hal tersebut bisa membatalkan wudlunya.

2. Apabila wanita tersebut masih ragu apakah air yang keluar tersebut keluar dari bagian dalam alat kelaminnya atau tidak, maka wudhunya tidak dihukumi batal, sebab dalam ilmu fiqih terdapat satu qoidah yang berbunyi, "Al-Yaqin La Yuzalu Bisy-Syakk" (Suatu keyakinan tidak bisa hilang hanya lantaran keragu-raguan), karena ia sebelumnya telah yakin bersuci kemudian ragu apakah batal atau tidak, maka ia tetap dihukumi suci.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;

 إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا، فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا، أَوْ يَجِدَ رِيحًا

"Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan sesuatu yang kurang beres dalam perutnya, lalu rancu baginya perkara tersebut, apakah keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari masjid hingga dia mendengar suara (kentut) atau mendapatkan baunya." (Shahih Muslim, no.362)

Imam Ibnu hajar dalm Syarah Al-Irsyad Al-Kabir menjelaskan bahwa ketika ada seseorang yang mengetahui ada cairan keluar dari alat kelaminnya, namun ia ragu apakah cairan tersebut keluar dari bagian dalam atau dari bagian luar, maka wudhunya tidak dihukumi batal.

Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Imam Al-Bukhori, Luffi Elba dan Siroj Munir)

Refrensi:
1. Al-Bayan, juz 1 hal. 172

وأما النادر فهو: كالحصى، والدود، وسلس البول، ودم الاستحاضة، وهو ينقض الوضوء عندنا، وبه قال أبو حنيفة، والثوري، وأحمد، وإسحاق
دليلنا: قَوْله تَعَالَى: {أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ} [المائدة: 6] ، ولم يفرق بين أن يخرج معتادًا أو غير معتادٍ، ولأنه خارج من مخرج الحدث، فأشبه البول والغائط

2. Al-Majmu', juz 2 hal. 11

واتفق الاصحاب علي انه إذا ادخل رجل أو امرأة  في قبلهما أو دبرهما شيئا من عود أو مسبار أو خيط أو فتيلة أو اصبع أو غير ذلك ثم خرج انتقض الوضوء سواء اختلط به غيره ام لا وسواء انفصل كله أو قطعة منه لانه خارج من السبيل واما مجرد الادخال فلا ينقض بلا خلاف

3. Al-Asybah Wan Nadho'ir, hal. 50

القاعدة الثانية: اليقين لا يزال بالشك
ودليلها قوله صلى الله عليه وسلم «إذا وجد أحدكم في بطنه شيئا فأشكل عليه، أخرج منه شيء أم لا؟ فلا يخرجن من المسجد حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا» رواه مسلم من حديث أبي هريرة

4. I'anatut Tholibin, juz 1 hal. 73

قوله: خروج شئ) خرج الدخول فلا ينقض. ولو رأى على ذكره بللا لم ينتقض وضوءه إن احتمل طروه من خارج، فإن لم يحتمل ذلك انتقض. كما لو خرجت منه رطوبة وشك أنها من الظاهر أو الباطن فإنها لا تنقض، كما نص عليه ابن حجر في شرح الإرشاد الكبير