Home » , » Kriteria Lelaki Yang Disunahkan Dipilih Sebagai Suami

Kriteria Lelaki Yang Disunahkan Dipilih Sebagai Suami

Written By siroj munir on Senin, 17 Maret 2014 | 02.48.00


Soal: Bagaimanakah kriteria lelaki yang dianjurkan untuk dipilih sebagai seorang suami? Apakah kriterianya sama dengan lelaki?

(Pertanyaan dari: Leni)

Jawab: Secara umum memang kriteria lelaki yang disunahan untuk dipilih sebagai pendamping hidup itu hampir sama dengan kriteria wanita yang disunahkan untuk dinikahi lelaki. Untuk lebih jelasnya berikut ini kami berikan penjelasan mengenai kriteria-kriteria tersebut;

     1.Baik dalam beragama (Dzatu Din)
     Seorang muslim, baik leaki dan perempuan sudah sepatutnya menjadika pertimbangan masalah agama sebagai pertimbangan utama dalam memilih pasangan hidupnya, sebagaimana yang ditekankan oleh Rasulullah, beliau bersabda ;

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita (biasanya) dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (Shahih Bukhari, no. 5090, Shahih Muslim, no.1466)

     Lelaki yang memiliki kriteria  dzatuddin adalah laki-laki yang rajin mengerjakan ketaatan dan amal-amal sholih sekaligus menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan terlarang.

     2. Cerdas dan berahlak baik
     Tujuan utama suatu pernikahan adalah terciptanya hubungan yang harmonis antara suami dan istri, karena itulah seorang wanta disunahkan menikahi lelaki yang cerdas dan baik akhlaknya dan nantinya diharapkan anak-anaknya juga akan berakhlak baik dan berakhlak cerdas.
     Selain itu seorang lelaki nantinya memiliki beban berat yang harus dipikul saat berumah tangga, bukan hanya kewajiban memberi nafkah tapi juga membimbing keluarganya untuk menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi larangannya, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim : 6)

    Ali bin Abu Thalib karromallaohu wajhah menjelaskan maksud ayat diatas dengan mengatakan;

عَلِّمُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمُ الْخَيْرَ

“Ajarilah diri kalian sendiri dan keluarga kalian mengenai kebaikan.” (Mustadrok, no.3826)

     5. Berwajah Tampan
     Sebagaimana disunahkan bagi laki-laki untuk menikahi wanita yang cantik berdasarkan hadits ;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya”. (Sunan An-Nasai no. 3231)

     Begitupula disunahkan bagi wanita untuk memilih laki-laki yang berwajah tampan, sebab sepertihalnya para lelaki senang melihat orang cantik begitu juga halnya dengan wanita, mereka juga suka melihat lelaki yang tampan. Dalam kitab Al-Iqna’ dijelaskan bahwa wali seorang perempuan disunahkan untuk memilihkan lelaki yang tampan bagi putrinya, sebab apa yang disukai seorang pria (kecantikan) juga disukai seorang wanita (ketampanan).

     3. Masih Perjaka
      Disunahkan bagi wanita untuk menikahi lelaki yang masih perjaka seperti halnya bagi laki-laki disunahkan untuk menikah dengan wanita yang masih perawan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ghozali dalam kitab Ihya’-nya, beliau mengatakan: “Sebagaimana halnya disunatkan bagi lelaki untuk menikah dengan seorang wanita yang masih perawan, disunatkan pula (bagi wali wanita) untuk menikahkan anak perempuannya dengan lelaki yang masih perjaka, sebab naluri hati manusia itu lebih suka pada pergaulan yang pertama. Karena itulah nabi shallahu ‘alaihi wasallam menyatakan tentang Khodijah radhiyallahu ‘anha;

إنَّهَا أَوَّلُ نِسَائِي

"Sesungguhnya dia adalah istri pertamaku.”

     3.Bernasab baik
   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan bagi seorang wali agar menikahkan anak perempuannya dengan seorang lelaki yang baik nasabnya, beliau bersabda;

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ، وَانْكِحُوا الْأَكْفَاءَ، وَأَنْكِحُوا إِلَيْهِمْ

"Pilihlah wadah untuk menumpahkan mani kalian, carilah mereka yang sekufu’ (sederajat) dan kawinilah mereka" (Shahih ibnu Hibban, no.1968, al-Mustadrok, no.2687 )

     Syekh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi menjelaskan, makssud hadits ini adalah; pilihlah pasangan hidup dari orang yang nasabnya baik dan jauh dari keburukan dan nikahkanlah putri-putri kalian dengan lelaki seperti itu.


     4. Bukan kerabat dekat
     Disunahkannya menikahi lelaki yang Salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk menyambungkan hubungan antara orang-orang dari berbagai suku dan daerah yang berbeda sebagaimana dikatakan oleh Syekh Az-Zanjani, selain itu agar apabila terjadi perceraian diantara suami istri, tidak akan menyebabkan putusnya tali silaturrohim diantara keluarga laki-laki dan wanita.

     Wallahu a’lam.

     (Dijawab oleh: Siroj Munir)


Referensi:
1. Mughnil Muhtaj, juz 4  hal. 206

ويستحب دينة) لخبر الصحيحين: «تنكح المرأة لأربع: لمالها، ولجمالها، ولحسبها - أي وهو زيادة النسب - ولدينها  فاظفر  بذات الدين  تربت يداك»  أي استغنت  إن فعلت  أو افتقرت  إن خالفت،  والمراد بالدين الطاعات والأعمال الصالحات والعفة عن المحرمات

2. Matholibu Ulin Nuha, juz 5 hal. 8

وسن) لمن أراد نكاحا -إلى أن قال- ذات (عقل) لا حمقاء؛ لأن النكاح يراد للعشرة الحسنة ولا تصلح العشرة مع الحمقاء، ولا يطيب معها عيش، وربما تعدى ذلك إلى ولدها وقد قيل: اجتنبوا الحمقاء؛ فإن ولدها ضياع وصحبتها بلاء

3. Al-Mustadrok li al-Hakim, juz 2 hal. 535

أخبرنا أبو زكريا يحيى بن محمد العنبري، ثنا محمد بن عبد السلام، ثنا إسحاق، أنبأ عبد الرزاق، عن الثوري، عن منصور، عن ربعي، عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه، في قوله عز وجل: {قوا أنفسكم وأهليكم نارا} [التحريم: ٦] قال: «علموا أنفسكم وأهليكم الخير» هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه

4. Sunan Ibnu Majah & Ta’liq Fu’ad Abdul Baqi, juz 1 hal. 633

حدثنا عبد الله بن سعيد قال: حدثنا الحارث بن عمران الجعفري، عن هشام بن عروة، عن أبيه، عن عائشة، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «تخيروا لنطفكم، وانكحوا الأكفاء، وأنكحوا إليهم»
__________
[شرح محمد فؤاد عبد الباقي]
 (تخيروا لنطفكم) أي اطلبوا لها ما هو خير المناكح وأزكاها وأبعدها من الخبث والفجور. (وأنكحوا إليهم) أي اخطبوا إليهم بناتهم

5. Mughnil Muhtaj, juz 4  hal. 206

 قال في الإحياء:  وكما يستحب نكاح البكر  يسن أن لا يزوج ابنته إلا من بكر لم يتزوج قط؛ لأن النفوس جبلت على الإيناس بأول مألوف، ولهذا قال - صلى الله عليه وسلم - في خديجة: إنها أول نسائي

6. Al-Iqna’ Fi Fiqhil Imam Ahmad bin Hanbal, juz 3 hal. 157

وتنظر المرأة إلى الرجل إذا عزمت على نكاحه لأنه يعجبها منه ما يعجبه منها قال ابن الجوزي في كتاب النساء: ويستحب لمن أراد أن يزوج ابنته أن ينظر لها شابا مستحسن الصورة ولا يزوجها دميما وهو القبيح

7. Mughnil Muhtaj, juz 4  hal. 206

وما ذكر  من أن غير القريبة  أولى  هو  ما صرح  به  في زيادة الروضة،  لكن ذكر  صاحب البحر  والبيان أن الشافعي نص على أنه يستحب له أن لا يزوج من عشيرته،  وعلله الزنجاني بأن من مقاصد النكاح اتصال القبائل لأجل التعاضد والمعاونة واجتماع الكلمة. اهـ