Home » , » Terjemah Kitab Umdatul Ahkam » Kitab Thaharah » Bab Memasuki Tempat Buang Air Dan Istinja’

Terjemah Kitab Umdatul Ahkam » Kitab Thaharah » Bab Memasuki Tempat Buang Air Dan Istinja’

Written By siroj munir on Kamis, 24 April 2014 | 00.02.00


BAB MEMASUKI TEMPAT BUANG AIR DAN ISTINJA’

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه -: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إذَا دَخَلَ الْخَلاءَ قَالَ: ((اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

1 - “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: bahwasanya Nabi shallalallahu ‘alaihi wasallam ketika masuk ke dalam WC, maka beliau berdo'a: ALLOHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan).” (Shahih Bukhari, no.142, 6322 dan Shahih Muslim, no. 375)

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: إذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ , فَلا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلا بَوْلٍ , وَلا تَسْتَدْبِرُوهَا , وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا. قَالَ أَبُو أَيُّوبَ: فَقَدِمْنَا الشَّامَ , فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَدْ بُنِيَتْ نَحْوَ الْكَعْبَةِ , فَنَنْحَرِفُ عَنْهَا , وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

2 - “Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “"Jika kalian mendatangi masuk ke dalam WC, maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat saat berak dan kencing. dan jangan pula membelakanginya Tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya." Abu Ayyub berkata, "Ketika kami datang ke Syam, kami dapati WC rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami alihkan dan kami memohon ampun kepada Allah Ta'ala.” (Shahih Bukhari, no.394 dan Shahih Muslim, no.264)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنهما قَالَ: رَقِيْتُ يَوْماً عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ , فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الشَّامَ , مُسْتَدْبِرَ الْكَعْبَةَ

3 - “Dari Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Suatu hari aku pernah naik di rumah Hafshah. Maka aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam buang hajat menghadap Syam, membelakangi kiblat.” (Shahih Bukhari, no.142 dan Shahih Muslim, no.266)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - أَنَّهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَدْخُلُ الْخَلاءَ , فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلامٌ نَحْوِي إدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً , فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ

العَنَزَةُ: الحَرْبَةُ الصَغِيرَةُ. والإِداوةُ: إِناءٌ صغيرٌ منْ جلدٍ

4 - “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata; "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam buang hajat, maka aku dan seorang temanku mengikutinya dengan membawa bejana berisi air dan sebatang kayu untuk beliau gunakan berinstinja’ (Shahih Bukhari, no.152 dan Shahih Muslim, no.271)

‘Anazah adalah tongkat kecil. Sedangkan Idawah adalah wadah kecil yang terbuat dari kulit.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْحَارِثِ بْنِ رِبْعِيٍّ الأَنْصَارِيِّ - رضي الله عنه -: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: لا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلا يَتَمَسَّحْ مِنْ الْخَلاءِ بِيَمِينِهِ وَلا يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ

5 - “Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’i Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “"Janganlah salah seorang di antara kalian memegang penisnya dengan tangan kanan pada waktu kencing. Janganlah mengusap dengan tangan kanan saat buang hajat, dan janganlah bernafas di dalam bejana.” (Shahih Bukhari, no.154 dan Shahih Muslim, no.267)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - بِقَبْرَيْنِ , فَقَالَ: إنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ , وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا: فَكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ , وَأَمَّا الآخَرُ: فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً , فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ , فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ , لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

6 - “Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati dua kuburan, beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa. Dan mereka berdua disiksa bukan karena melakukan dosa besar. Salah seorang di antara mereka disiksa karena tidak memasang satir (penghalang) saat kencing sedangkan yang lainnya disiksa karena suka mengadu-domba." Kemudian beliau memngambil pelepah kurma basah, lalu membelahnya menjadi dua. Kemudian beliau menanam pada tiap kuburan satu bagian. Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, untuk apa anda melakukan itu?” Beliau menjawab: “Semoga pelepah ini bisa meringankan siksa keduanya, selama ia belum kering.” (Shahih Bukhari, no.216 dan Shahih Muslim, no.292)