Home » , » Dasar Hukum Kesunahan Mengucapkan/Melafalkan Niat & Hikmahnya - Fatwa Sayyid Alawi Al-Maliki

Dasar Hukum Kesunahan Mengucapkan/Melafalkan Niat & Hikmahnya - Fatwa Sayyid Alawi Al-Maliki

Written By siroj munir on Sabtu, 05 Juli 2014 | 21.21.00



MELAFALKAN NIAT

Bagaimana pendapat anda - semoga Allah melanggengkan keanugerahann anda - mengenai masalah melafalkan niat yang dianjurkan menurut madzhab Syafi’i, apakah ketentuan tersebut memiliki dalil, ataukah hal tersebut merupakan perkara yang bid’ah ? Lalu apa sirri (hikmah/rahasia) dari ketentuan tersebut ? Mohon berikan kami fatwa mengeai masalah ini, semoga Allah membalasnya..

Jawab :
Ketahuilah bahwa niat adalah berkeinginan untuk mengerjakan sesuatu yang dilakukan bersamaan dengan mengerjakan hal tersebut, tempat mengerjakannya didalam hati, sedangkan gunanya untuk membedakan antara adat dan ibadah, dan membedakan antara tingkatan-tingkatan ibadah. Sedangkan mengenai hukum melafalkan niat, menurut sebagian Imam hukumnya sunat, dan menurut sebagian lainnya hukumnya makruh.

Ulama’ yang berpendapat bahwa melafalkan niat hukumnya sunat - yaitu madzhab Syafi’i - mendasarkan pendapatnya pada perkataan malaikat Jibril aslaihissalam pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau turun di Wadi al-Aqiq, malaikat Jibril berkata pada beliau :

قُلْ : عُمْرَةٌ فِيْ حَجَّةٍ

“Katakanlah: ini adalah umroh dalam haji” (Shahh Bukhari, no. 1534)

Hadits tersebut merupakan dalil tentang melafalkan niat , sedangkan ibadah-ibadah selain haji diqiyaskan dengan ibadah haji (dalam hal sama-sama disunahkan melafalkan niat).

Tujuan dari hal tersebut adalah agar ucapan lisan membantu niat didalam hati, agar rasa waswas dan keraguan dalam hati yang sering dialami banyak orang menjadi hilang, sepertihalnya isyarat jari telunjuk (mengacungkan jari) ketika tahiyat membantu lisan untuk mengesakan Allah, agar hati, lisan dan anggota badan seseorang sama-sama mengesakan Allah.

Sedangkan ulama’ yang berpendapat bahwa melafalkan niat hukumnya makruh - seperti pendapat yang dikemukakan madzhab Maliki - beralasan bahwa dikhawatirkan apabila hal tersebut dilakukan, orang tersebut malah lupa niat didalam hati, sehingga sholatnya menjadi batal, sebab ia melakukan niat tidak pada tempatnya. Bukankah anda tahu bahwa tempat bacaan qur’an adalah mengucapkan dengan lisan, jadi jika seseorang membaca dalam hati tanpa mengucapkannya maka sholatnya tidak sah, begitu pula ketika seseorang melafalkan niat dengan lisannya tanpa niat dalam hati, sepertihalnya keterangan dalam kitab “Madkhol Ibnul Haj”. Keterangan serupa juga terdapat dalam kitab Syarah Syekh Asy-Syarqowi ‘ala Mukhtashor Al-Bukhori karya Az-Zabidi, beliau mengatakan: “Dan tempat niat adalah dalam hati, maka tidak cukup niat dengan lisan saja tanpa niat dalam hati, namun memang benar bahwa jika tujuannya untuk membantu lisan, maka hukumnya sunat”.

Karena itulah, sebaiknya orang-orang yang terlalu cepat memberikan vonis bid’ah, menyelisihi sunah dan menghukumi batal sholat orang yang melafalkan niat, dengan tanpa memberikan penjelasan mengenai perbedaan pendapat madzhab-madzhab islamyang dibuat pegangan, takut pada Allah, seakan-akan mereka menganggap bahwa pendapat mereka adalah pendapat yang disepakati oleh semua ulama’, tentu ini merupakan penghianatan fiqih yang tak diragukan lagi.

Referensi:
Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Sayyid ‘Alawi Al-Maliki, hal. 77 - 78

التلفظ بالنية

ما قولكم دام فضلكم في التلفظ بالنية المطلوب عند الشافعية، هل لذلك أصل أم هو بدعة ؟ وما سر ذلك ؟ أفتونا مأجورين !

الجواب : الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وأصحابه ومن والاه، وبعد :

فاعلم أن النية هي قصد الشيئ مقترنا بفعله، ومحلها : القلب، وثمرتها : التمييز بين العادة والعبادة، والتفرقة بين مراتب العبادة، والتلفظ بها عند بعض الأئمة سنة، وعند البعض الآخر مكروه.

وحجة من قال بسنيتة التلفظ - وهم الشافعية - قول جبريل عليه السلام للنبي صلى الله عليه وسلم حينما نزل عليه في وادي العقيق، فقال له: قل عمرة في حجة. فإن هذا أصل في التلفظ بالنية، ويقاس على النسك ما سواه من العبادات؛ ليساعد اللسان القلب، فيذهب وارد الوسوسة والشك الذي يتري بعض الناس، وهذا كما تساعد الإشارة بالمسبحة في التشهد اللسان في التوحيد فيكون موحدا بقلبه ولسانه. - إلى أن قال -

وأما حجة من بكراهية التلفظ - كالمالكية - فهي أنه ربما يعتمد الناوي على لسانه، ويسهو عن النية بقلبه؛ فتبطل صلاته حينئذ، لأنه أتى بالنية في غير محلها، ألا ترى أن محل القراءة النطق بالسان، فإذا قرأ بقلبه ولم ينطق بها لسانه لم تخزه صلاته، وطذلك لو تلفظ بالنية بلسانه ولم ينوها بقلبه كما في مدخل ابن الحاج، ومثله في شرح الشيخ الشرقاوي على مخصر البخاري للزبيدي حيث قال: ومحلها : القلب، فلا يكفي النطق بها مع غفلته، نعم: هو مستحب ليساعد اللسان القاب. -إلى أن قال -

فليتق الله هؤلاء الذين يسارعون إلى الحكم بالبدعة والمخالفة للسنة، وبطلان صلاة من تلفظ بالنية دون غشارة إلى الخلاف في المذاهب الغسلامية المعتمدة، وكأن مذهبهم هو المتفق عليه. وهذه خيانة فقهية لا شك فيه