Home » , » Hukum Menikahi Ipar Karena Istri Meninggal Dunia

Hukum Menikahi Ipar Karena Istri Meninggal Dunia

Written By siroj munir on Minggu, 20 Juli 2014 | 19.30.00


Soal: Assalamu'alaikum. Saya mau tanya Bagaimana hukumnya seorang suami yang ditinggal wafat oleh isterinya kemudian sang suami menikah lagi dengan adik kandung isterinya yang meninggal tadi. Apakah boleh menikah seperti ini? Mohon ibaroh kitabnya.

(Pertanyaan dari: Pengharap Ampunan-Mu).

Jawab: Wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuh

Telah diketahui bersama bahwa mahram nikah itu terbagi dua yaitu Mahram Ta’bid (mahram selamanya) dan Mahram Ghairu Ta’bid (mahram tak selamanya). Mahram ta’bid meliputi hubungan kekerabatan, hubungan mertua menantu dan hubungan susuan. Sementara Mahram Ghairu Ta’bid adalah hubungan dengan saudari istri, bibi istri dan saudari susuan istri. Sifat mahram ini akan hilang dengan meninggalnya istri atau telah bercerai dengan istri.

Adanya hubungan mahram ini menyebabkan seorang lelaki muslim dilarang memperistri dua wanita bersaudara sekaligus sebagaimana firman Allah:

 وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ

“Jangan pula mengumpulkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.” (QS. An-Nisa: 23).

Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

 لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ المَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا، وَلاَ بَيْنَ المَرْأَةِ وَخَالَتِهَا

“Tidak boleh menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya baik bibi dari ayah maupun dari ibu (dalam satu ikatan pernikahan yang sama).” (HR. Bukhari no. 5109 dan Muslim no.  1408).

Jadi kesimpulannya, yang dilarang dalam Islam adalah menikahi dua wanita bersaudara (adik kakak) dalam satu waktu. Namun ketika isteri sudah meninggal atau diceraikan dan telah habis masa iddahnya maka boleh menikahi adik atau kakak kandungnya. Hal ini pernah terjadi pada sahabat Utsman bin Affan yang menikahi dua putri Nabi SAW. Istri pertama Utsman adalah Ruqayyah, putri Nabi Muhammad SAW yang telah meninggal terlebih dahulu. Kemudian setelah itu ia menikahi saudarinya yaitu Ummu Kultsum. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Al Murtadho dan Kudung Khantil Harsandi Muhammad).

Referensi:
1. Asna al Mathalib juz 3 hal. 152

(قوله كالمرأة وأختها) قال في الوافي لو غاب مع زوجته ثم عاد وذكر موتها حل لأختها أن تتزوج به ولو غابت زوجته مع أختها ثم قدمت الأخت فذكرت موت أختها لم يحل له أن يتزوج أختها إلا بعد تيقن موتها قال والفرق أن الزوج مالك لبضع زوجته فلا يحل له أن يتزوج أختها إلا بعد تيقن موتها

2. Al Iqna' juz 2 hal. 419

(القول في التحريم غير المؤبد) ثم شرع في القسم الثاني وهو التحريم غير المؤبد بقوله (و) تحرم (واحدة من جهة الجمع) في العصمة (وهي أخت الزوجة) فلا يتأبد تحريمها بل تحل بموت أختها

3. Hasyiyah al Bujairamiy alal Khatib juz 3 hal. 425

ثم شرع في القسم الثاني وهو التحريم غير المؤبد بقوله (و) تحرم (واحدة من جهة الجمع) في العصمة (وهي أخت الزوجة) فلا يتأبد تحريمها بل تحل بموت أختها أو بينونتها لقوله تعالى: {وأن تجمعوا بين الأختين إلا ما قد سلف} النساء: 23

4. Fatwa Syar’iyyah no. 23707

هل علي الرجل عدة إذا تزوج بأخت زوجته المتوفاة ؟
الإجابــة: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد
فإن الرجل ليس عليه عدة أصلاً، وإنما العدة تختص بالنساء، وإذا منع الرجل من الزواج لسبب ما، فليس ذلك من أجل العدة.
فإذا توفيت زوجة الرجل وأراد أن يتزوج أختها فليس عليه انتظار لانقضاء عدة الوفاة أو غيرها، لانقطاع الزواج بالموت.
صحيح أنه لا يمكن الجمع بينهما، كما قال تعالى: وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ [النساء:23].
ولا يتزوج أختها بعد طلاقها حتى تخرج من العدة إذا كان الطلاق رجعياً.. والله أعلم