Home » , » Hukum Campur Baur (Ikhtilath) Antara Laki-Laki Dan Perempuan Dalam Satu Majlis

Hukum Campur Baur (Ikhtilath) Antara Laki-Laki Dan Perempuan Dalam Satu Majlis

Written By siroj munir on Selasa, 31 Maret 2015 | 17.29.00




Assalamu'alaikum.
Tanya ustadz. Bagaimana hukum mencampur laki-laki dan perempuan dalam satu majlis? Di daerah saya banyak seperti itu. Apakah mengurangi keberkahan majlis. Mohon pencerahannya. Syukron.

(Dari Tewel Bungkexs).




Jawaban:

Wa alaikum salam.
Pada dasarnya ikhtilath (bercampur) antara kaum laki-laki dan kaum perempuan jika bukan khalwat (bersepi) adalah sesuatu yang bukan haram.

Imam Ibnu Mundzir dalam kitabnya al Ausath berkata: “Telah mengkhabarkan kepada kami Ali ibn Abdil Aziz ia berkata: Mengkhabarkan kepada kami Hajjaj, ia berkata: Mengkhabarkankan kepada kami dari Tsabit dan Humaid dari Anas, beliau berkata: Kami bersama Abu Musa al Asy’ari, kami shalat di al Mirbad, kemudian kami duduk di masjid al Jami’, dan kami melihat al Mughirah ibnu Syu’bah shalat bersama orang banyak, kaum laki-laki dan kaum perempuan bercampur, lalu kamipun shalat bersamanya”.

 Ikhtilath yang diharamkan adalah ikhtilath yang melanggar ketentuan-ketentuan Syari’ah, misalnya:

1. Berduaannya (khalwat) laki-laki dan perempuan non mahram, apalagi jika disertai pandangan yang mengandung syahwat.

2. Si perempuan tidak bisa menjaga kesopanan sesuai tuntunan syari’ah.

3. Main-main, bersenda gurau dan saling bersentuhan badan.

Berdasarkan ketentuan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa berkumpulnya antara laki-laki dan perempuan jika  tiga orang atau lebih adalah sesuatu yang boleh. Kebolehan ini berlaku dalam berbagai keadaan baik untuk kepentingan dunia selama tidak mengandung kemaksiatan maupun untuk kepentingan agama seperti belajar ilmu agama atau majlis dzikir. Dengan keharusan laki-laki dan perempuannya menutup aurat. Namun untuk menghindari fitnah yang tidak diinginkan dalam pertemuan besar yang melibatkan banyak pihak bila dihadiri oleh laki-laki dan perempuan sebaiknya dipisahkan dan dipasang satir (pembatas) yang memisahkan antara kedua pihak.
Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Al Murtadho, Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Ubaid Bin Aziz Hasanan).


Referensi:


Al Majmu' Syarh al Muhadzdzab juz 4 hal. 484

ولأن اختلاط النساء بالرجال إذا لم يكن خلوة ليس بحرام  

Raudhah ath Thalibin juz 7 hal. 33

المرأة إذا دعت النساء، كما ذكرنا في الرجال. فإن دعت رجلا أو رجالا، وجبت الإجابة إذا لم يكن خلوة محرمة  

 Al Ausath juz 2 hal. 401 no. 1109

حدثنا علي بن عبد العزيز، قال: ثنا حجاج، ثنا حماد، عن ثابت، وحميد، عن أنس، قال: قدمنا مع أبي موسى الأشعري , فصلى بنا العصر في المربد , ثم جلسنا إلى مسجد الجامع , فإذا المغيرة بن شعبة يصلي بالناس والرجال والنساء مختلطون , فصلينا معه  


 Al Mausu'ah al Fiqhiyyah juz 2 hal. 290

يختلف حكم اختلاط الرجال بالنساء بحسب موافقته لقواعد الشريعة أو عدم موافقته ، فيحرم الاختلاط إذا كان فيه: أ - الخلوة بالأجنبية ، والنظر بشهوة إليه. ب - تبذل المرأة وعدم احتشامها. ج - عبث ولهو وملامسة للأبدان كالاختلاط في الأفراح والموالد والأعياد ، فالاختلاط الذي يكون فيه مثل هذه الأمور حرام ، لمخالفته لقواعد الشريعة