Home » » Hukum Puasa Sebelum Menikah

Hukum Puasa Sebelum Menikah

Written By siroj munir on Sabtu, 18 April 2015 | 02.00.00




Assalamu’alaikum.
Numpang tanya. Adakah hukum yang menjelaskan tentang puasa sebelum nikah? Dan termasuk kategori puasa apa itu? Terima kasih.

(Dari Muhammad Asyrofi).

Jawaban:

Wa 'alaikum salam.
Hukum yang menjelaskan tentang puasa sebelum menikah secara khusus tidaklah ditemukan, namun hal semacam ini tidaklah terlarang. Setiap puasa yang dilakukan sesuai dengan hukum syara’ yang tidak ada tuntunan pelaksaannya maka masuk dalam kategori puasa sunah mutlak, dan niatnya adalah puasa mutlak. Dengan demikian selama pelaksanaan puasanya tidak mengandung hal-hal yang dilarang dalam agama maka puasa tersebut termasuk puasa sunah mutlak. Hal semacam ini pernah dijalani Rasulullah berdasarkan hadits dari Aisyah:

 هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ قَالَتْ لَا قَالَ فَإِنِّي إذًا أَصُومُ قَالَتْ وَقَالَ لِي يَوْمًا آخَرَ أَعِنْدَكُمْ شَيْءٌ قُلْت نَعَمْ قَالَ إذًا أُفْطِرُ وَإِنْ كُنْت فَرَضْت الصَّوْم

Artinya: “Apa ada sarapan pagi?” Aisyah menjawab: “Tidak ada". Nabi berkata: “Kalau begitu saya akan berpuasa". Aisyah menyebutkan suatu hari yang lain Nabi bertanya pada saya: “Apa ada sarapan pagi?" Saya menjawab: “Ada". Nabi berkata: “Kalau begitu saya tidak puasa”. Meski saya perkirakan beliau akan berpuasa”. (HR. Daruquthni no. 2236).

Disamping sebagai puasa mutlak tentulah puasa ini mempunyai tujuan yang lebih mulia karena berfungsi sebagai peredam gejolak hawa nafsu. Sebab tidak menutup kemungkinan dalam masa menunggu akad nikah akan terbersit bayangan tentang indahnya malam pengantin. Agar tidak terjerumus kedalam hal-hal yang dilarang agama maka berpuasa dapat menjadi benteng. Rasulullah bersabda:

 مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: Barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa karena puasa itu dapat membentenginya”. (HR. Al Bukhari no. 1905).

Selain itu masih ada manfaat lain dari berpuasa sebelum nikah yaitu dapat berfungsi sebagai tawassul dengan harapan agar pernikahan yang akan dijalani membawa keberkahan dan kebahagiaan. Hal semacam ini diperbolehkan karena di dalam Islam disebutkan bahwa amal shaleh dapat dijadikan sebagai perantara permohonan kepada Allah.

Jadi kesimpulannya, puasa sebelum menikah diperbolehkan dengan niat puasa mutlak. Dengan tujuan untuk meredam gejolak hawa nafsu dan juga sebagai tawassul dalam suatu permohonan kepada Allah. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh Al Murtadho).

Referensi:

Asna al Mathalib juz 1 hal. 412

 وتكفي نية مطلقة في النفل المطلق) كما في نظيره من الصلاة (ولو قبل الزوال لا بعده) «لأنه - صلى الله عليه وسلم - قال لعائشة يوما هل عندكم من غداء قالت لا قال فإني إذا أصوم قالت وقال لي يوما آخر أعندكم شيء قلت نعم قال إذا أفطر وإن كنت فرضت الصوم» رواه الدارقطني وصحح إسناده

Syarh an Nawawiy 'ala Muslim juz 17 hal. 56

قوله (انظروا أعمالا عملتموها صالحة فادعوا الله بها لعله يفرجها) استدل أصحابنا بهذا على أنه يستحب للإنسان أن يدعو في حال كربه وفي دعاء الاستسقاء وغيره بصالح عمله ويتوسل إلى الله تعالى به لأن هؤلاء فعلوه فاستجيب لهم وذكره النبي صلى الله عليه وسلم في معرض الثناء عليهم وجميل فضائلهم وفي هذا الحديث فضل بر الوالدين وفضل خدمتهما وإيثارهما عمن سواهما من الأولاد والزوجة وغيرهم وفيه فضل العفاف والانكفاف عن المحرمات لاسيما بعد القدرة عليها والهم بفعلها ويترك لله تعالى خالصا وفيه جواز الإجارة وفضل حسن العهد وأداء الأمانة والسماحة في المعاملة وفيه إثبات كرامات الأولياء وهو مذهب أهل الحق