Home » » Dalil Menghajikan Orang Yang Telah Meninggal

Dalil Menghajikan Orang Yang Telah Meninggal

Written By siroj munir on Minggu, 10 Mei 2015 | 01.24.00




Assalamu’alaikum. 
Mas mau tanya njenengan ada sumber/ dalil membadali (menggantikan) umrah atau haji orang yang sudah meninggal dunia? Kalau ada mohon saya diberitahu. Matur nuwun.

(Dari Anisa Hidayati).

Jawaban:

Wa ‘alaikum salam. 
Dalil pertama, hadits Nabi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ: إِنَّ أُخْتِي قَدْ نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ، وَإِنَّهَا مَاتَتْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَاقْضِ اللَّهَ، فَهُوَ أَحَقُّ بِالقَضَاءِ

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata kepada beliau: “Sesungguhnya saudara perempuanku nadzar untuk berhaji, tetapi ia meninggal dunia”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Andaikata ia mempunyai hutang, bukankah engkau akan membayarnya?”. Ia menjawab: “Ya”. Beliau kemudian bersabda: ”Maka bayarlah hutang haji itu kepada Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dibayar”. (Shahih Bukhari juz 8 hal. 142 no. 6699).

Dalil kedua, hadits Nabi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ : إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ فَقَالَ : وَجَبَ أَجْرُكِ ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ ، قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا ؟ قَالَ : صُومِي عَنْهَا ، قَالَتْ : إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ : حُجِّي عَنْهَا 

Dari Abdullah bin Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Ketika kami duduk di sisi Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seorang wanita datang dan bertanya: "Sesungguhnya saya bersedekah budak untuk ibuku yang telah meninggal". Beliau bersabda: "Engkau mendapatkan pahalanya dan dikembalikan kepada engkau warisannya". Dia bertanya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya beliau mempunyai (tanggungan) puasa sebulan, apakah saya puasakan untuknya?" Beliau menjawab: "Puasakan untuknya". Dia bertanya lagi: "Sesungguhnya beliau belum pernah haji sama sekali, apakah (boleh) saya hajikan untuknya?" Beliau menjawab: "Hajikan untuknya". (Shahih Muslim juz 2 hal. 805 no. 1149).

Dalil ketiga, penjelasan Imam Ibnu Hajar rahimahullah: Ulama yang memperbolehkan menggantikan haji orang lain bersepakat, bahwa tidak diterima haji wajib kecuali untuk orang meninggal dunia atau lumpuh. Maka orang sakit tidak termasuk yang dibolehkan, karena ada harapan kesembuhannya. Tidak juga orang gila, karena ada harapan normal. Tidak juga orang yang dipenjara, karena ada harapan bebas. Tidak juga orang fakir karena mungkin dia akan menjadi kaya.

Dalil keempat, penjelasan Imam Nawawi rahimahullah: Mayoritas ulama mengatakan bahwa menghajikan orang lain itu dibolehkan untuk orang yang telah meninggal dunia dan orang lemah (sakit) yang tidak ada harapan sembuh.
Qadhi Iyadh berpendapat berbeda dengan madzhabnya (Malikiyah) dengan tidak menganggap hadits (yang membolehkan) menggantikan puasa bagi orang meninggal dan menghajikannya. Dia berkesimpulan bahwa haditsnya mudhtharib (tidak tetap). Alasan ini batil, karena haditsnya tidak mudhtharib. Cukuplah bukti kesahihan hadits ini manakala  Imam Muslim menjadikannya sebagai hujah dalam kitab shahihnya. Dan masih banyak lagi dalil lainnya yang tidak dapat kami tampilkan seluruhnya di sini.

Sedangkan pandangan kebanyakan para ulama pemuka madzhab (Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah) menyatakan bahwa boleh menghajikan orang yang telah meninggal, sedangkan menurut qaul mu’tamad madzhab Malikiyah menyatakan bahwa tidak boleh ada perwakilan dalam haji, baik untuk yang masih hidup ataupun telah meninggal, dengan udzur ataupun tanpa udzur. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh Al Murtadho). 

Referensi:

Fathul Bari li Ibni Hajar juz 4 hal. 70

واتفق من أجاز النيابة في الحج على أنها لا تجزى في الفرض إلا عن موت أو عضَب – أي : شلل - ، فلا يدخل المريض ؛ لأنه يرجى برؤه ، ولا المجنون ؛ لأنه ترجى إفاقته ، ولا المحبوس ؛ لأنه يرجى خلاصه ، ولا الفقير ؛ لأنه يمكن استغناؤه

Syarh an Nawawiy 'ala Muslim juz 8 hal. 27

والجمهور على أن النيابة في الحج جائزة عن الميت والعاجز الميئوس من برئه ، واعتذر القاضي عياض عن مخالفة مذهبهم – أي : المالكية - لهذه الأحاديث في الصوم عن الميت والحج عنه بأنه مضطرب ، وهذا عذر باطل ، وليس في الحديث اضطراب ، ويكفى في صحته احتجاج مسلم به في صحيحه

Al Mausu’ah al Fiqhiyyah juz 17 hal. 72

ذهب الجمهور ( الحنفية والشافعية والحنابلة ) إلى مشروعية الحج عن الغير  وقابليته للنيابة ، وذهب مالك على المعتمد في مذهبه إلى أن الحج لا يقبل النيابة لا عن الحي ولا عن الميت ، معذورا أو غير معذور