Home » » Hukum Sembelihan Kemaniken (Terpotong Lidah) Pada Unggas

Hukum Sembelihan Kemaniken (Terpotong Lidah) Pada Unggas

Written By Fikih Kontemporer on Kamis, 30 Juni 2016 | 02.07.00




Pertanyaan:

Assalamualaikum.
Ustadz mau tanya. Di kampung ada istilah kemaniken. Istilah ini untuk penyebutan pemotongan ayam yang terpotong lidahnya, jadi kalau ada kejadian semacam ini ayam tersebut katanya haram dimakan. Apa ini memang ada penjelasannya dalam buku agama atau bagaimana? Mohon pencerahannya.

(Dari: Eny Lathiefa).

Jawaban:

Wa 'alaikumus salam warahmatullah.
Memang betul haram dimakan berdasarkan ketentuan madzhab Syafi'iyah Mbak. Hal itu bisa terjadi pada orang yang belum faham atau kurang berhati-hati dalam masalah penyembelihan secara syar'i.

Kemaniken (terpotong lidah) pada unggas disebabkan karena leher unggas ditarik terlalu kuat sehingga saluran nafas yang menyambung dengan lidah ikut tertarik ke dalam agak ke pertengahan leher. Dan sewaktu disembelih yang terpotong adalah lidah dan bukan saluran nafas unggas. Jadi dalam penyembelihan seperti ini bagian yang terputus adalah saluran makanan dan dua urat nadi.

Baiklah untuk lebih jelasnya akan kami sebutkan aturan pokok penyembelihan:
Dalam madzhab Syafi'iyah ditetapkan bahwa bagian yang wajib terputus dalam penyembelihan adalah saluran makanan dan saluran nafas. Sedangkan memutus dua urat nadi leher hukumnya sunah. Dan untuk kesempurnaan penyembelihan sebaiknya saluran makanan, saluran nafas dan dua urat nadi terputus semua agar proses kematiannya lebih cepat.

Apakah sembelihan yang kemaniken mutlak haram dimakan? Ternyata salah satu madzhab mu'tabar memperbolehkan memakan sembelihan kemaniken pada unggas. Ulama madzhab Hanafiyah menjelaskan:
Tujuan penyembelihan adalah mengeluarkan darah yang dialirkan dan memperbagus daging. Demikian itu bisa tercapai dengan memutuskan semua urat-urat di leher. Urat tersebut ada empat: Saluran nafas, saluran makanan dan dua urat nadi leher. Apabila seseorang memutus semua urat tersebut maka ia telah melakukan penyembelihan dengan kesempurnaan dan kesunahannya. Bila ia memutus sebagiannya saja maka menurut Imam Abu Hanifah: "Jika seseorang memutus sebagian besar yaitu tiga urat leher manapun dan meninggalkan satu urat maka sembelihan itu halal".
Jadi dalam kasus seperti ini bagi yang ingin mengambil hukum kehalalannya silahkan mengikut kepada pada madzhab Imam Hanafi.

Saran saya berdasarkan pengalaman pribadi yang sering menyembelih hewan berkaki dua maupun berkaki empat: Sebaiknya sebelum dilakukan penyembelihan unggas dipastikan terlebih dahulu lidahnya terlihat dari luar paruh, lalu tekan (tanpa mencekik) bagian bawah tenggorokan agar sewaktu leher diluruskan lidah dan saluran nafasnya tidak ikut tertarik kedalam dan bagian yang wajib dalam penyembelihan terputus semua.
Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Al Murtadho).

Referensi:

Nihayah al Muhtaj juz 8 hal. 116



وذكاة كل حيوان) بري وحشيا كان أو إنسيا (قدر عليه بقطع كل الحلقوم وهو مخرج النفس) يعني مجراه دخولا وخروجا (والمريء) بالهمز (وهو مجرى الطعام) والشراب إذ الحياة توجد بهما وتفقد بفقدهما، وخرج بقطع ما لو اختطف رأس عصفور أو غيره بيده أو ببندقة فإنه ميتة، وبقوله قدر عليه ما لو لم يقدر عليه وقد مر، وبقوله كل الحلقوم ما لو قطع البعض وانتهى إلى حركة المذبوح ثم قطع الباقي فلا يحل، ولا بد من كون التذفيف متمحضا لذلك، فلو أخذ في قطعها وآخر في نزع الحشوة أو نخس الخاصرة لم يحل، ولو انهدم سقف على شاة أو جرحها سبع فذبحت وفيها حياة مستقرة حلت، وإن تيقن موتها بعد يوم أو يومين وإن لم يكن فيها حياة مستقرة لم تحل (ويستحب قطع الودجين) لأنه أوحى وأسهل لخروج الروح فهو من الإحسان في الذبح

Badai' ash Shanai' juz 5 hal. 41

وقوله - عليه الصلاة والسلام - «الذكاة في الحلق واللبة» من غير فصل؛ ولأن المقصود إخراج الدم المسفوح وتطييب اللحم، وذلك يحصل بقطع الأوداج في الحلق كله. ثم الأوداج أربعة: الحلقوم، والمريء، والعرقان اللذان بينهما الحلقوم والمريء، فإذا فرى ذلك كله فقد أتى بالذكاة بكمالها وسننها وإن فرى البعض دون البعض فعند أبي حنيفة - رضي الله عنه - إذا قطع أكثر الأوداج وهو ثلاثة منها أي ثلاثة كانت وترك واحدا يحل