Home » » Hukum Bertabarruk Dengan Tempat Yang Pernah Disinggahi Orang Shalih

Hukum Bertabarruk Dengan Tempat Yang Pernah Disinggahi Orang Shalih

Written By Fikih Kontemporer on Kamis, 04 Mei 2017 | 08.36.00





Assalamu'alaikum.
Tanya pak. Kami sering berkunjung ke masjid kuno yang dibangun oleh para Waliyullah dan tempat petilasannya, juga pasujudan Sunan Kalijogo untuk ngalap berkah. Tapi, belakangan ini kami bertemu dengan sekelompok orang yang mengatakan bahwa tidak dibenarkan seseorang mencium atau mengusap dinding masjid, mencium maqam Ibrahim atau hijir Ismail, dan tidak boleh bertabarruk dengan gua Hira' atau jabal Nur dan sengaja shalat di sana. Tidak boleh bertabarruk dengan gua Tsur, Jabal Arafah (jabal Rahmah), Jabal Abu Qubais, gunung Tursina dan secara umum tidak boleh bertabarruk dengan pohon-pohon, batu-batu dan gunung gunung yang lainnya. Kamipun bingung, apakah yang kami lakukan memang benar perbuatan yang menyalahi aturan agama? Apa yang harus kami lakukan?

(Dari: Dul Kenyot).

Jawaban:

Wa 'alaikumus salam warahmatullah.
Jangan bimbang dan ragu pak, bertabarruk dengan tempat yang pernah disinggahi oleh orang-orang shalih adalah hal yang dibenarkan dalam agama dengan dalil yang shahih. Perbuatan semacam ini banyak dilakukan oleh banyak sahabat Nabi. Bahkan oleh Nabi sendiri sewaktu dalam perjalanan Isra Mi'raj. Diantaranya hadits-hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: أُتِيْتُ بِدَابَّةٍ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُوْنَ الْبَغْلِ، خَطْوُهَا عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهَا، فَرَكِبْتُ وَمَعِيْ جِبْرِيْلُ عليه السلام فَسِرْتُ فَقَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ؟ صَلَّيْتَ بِطَيْبَةَ وَإِلَيْهَا الْمُهَاجَرُ، ثُمَّ قَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ؟ صَلَّيْتَ بِطُوْرِ سِيْنَاءَ حَيْثُ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى عليه السلام، ثُمَّ قَالَ: اِنْزِلْ فَصَلِّ. فَصَلَّيْتُ، فَقَالَ: أَتَدْرِيْ أَيْنَ صَلَّيْتَ. صَلَّيْتَ بِبَيْتِ لَحْمٍ حَيْثُ وُلِدَ عِيْسَى عليه السلام

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Aku didatangkan hewan di atas keledai dan di bawah bagal. Langkahnya sejauh pandangannya. Lalu aku menaikinya dan Jibril menyertaiku. Aku berangkat lalu Jibril berkata: “Turunlah, lakukan shalat". Lalu aku melakukannya. Ia berkata: “Tahukan kamu di mana kamu menunaikan shalat? Kamu shalat di Thaibah, tempatmu berhijrah". Lalu ia berkata: “Turunlah, lakukanlah shalat". Lalu aku melakukannya. Ia berkata: “Tahukah kamu di mana kamu menunaikan shalat? Kamu shalat di Thur Sina, tempat Allah berbicara kepada Musa 'alaihis salam”. Lalu ia berkata: “Turunlah, lakukanlah shalat”. Lalu aku turun dan melakukan shalat. Ia berkata: “Tahukah kamu di mana kamu shalat? Kamu shalat di Betlehem, tempat Isa 'alaihis salam dilahirkan". (Sunan an Nasai juz 1 hal. 221 no. 450 dan dinyatakan shahih oleh Imam al Baihaqi).

Sahabat 'Itban bin Malik bertabarruk dengan membuat musholla di rumahnya yang pernah digunakan shalat oleh Rasulullah dan Abu Bakar.

أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ وَهو مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَنْكَرْتُ بَصَرِي، وَأَنَا أُصَلِّي لِقَوْمِي فَإِذَا كَانَتْ الْأَمْطَارُ سَالَ الْوَادِي الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ آتِيَ مَسْجِدَهُمْ فَأُصَلِّيَ لَهُمْ، فَوَدِدْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَّكَ تَأْتِي فَتُصَلِّي فِي بَيْتِي فَأَتَّخِذُهُ مُصَلًّى، فَقَالَ: سَأَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ حِينَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ، فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبَيْتَ. ثُمَّ قَالَ لِي: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ؟ فَأَشَرْتُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ الْبَيْتِ. فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ فَصَفَفْنَا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ

Bahwa 'Itban bin Malik seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang pernah ikut perang Badar dari kalangan Anshar, dia pernah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, pandanganku sudah buruk sedang aku sering memimpin shalat kaumku. Apabila turun hujan maka air menggenangi lembah yang ada antara aku dan mereka sehingga aku tidak bisa pergi ke masjid untuk memimpin shalat. Aku menginginkan Anda wahai Rasulullah agar dapat mengunjungiku lalu shalat di rumahku yang akan aku jadikan sebagai musholla". Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku akan lakukan insya Allah". 'Itban berkata: "Maka berangkatlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar ketika siang hari, beliau lalu meminta izin dan aku mengizinkannya, beliau tidak duduk hingga beliau masuk ke dalam rumah. Kemudian beliau bersabda: "Mana tempat di rumahmu yang kau sukai untuk aku shalat?" Maka aku tunjukkan tempat di satu sisi rumah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri lalu takbir. Sementara kami berdiri membuat shaf, beliau shalat dua rakaat kemudian salam". (Shahih al Bukhari juz 1 hal. 92 no. 425).

Juga sahabat Salim bin Abdullah, ayahnya dan Abdullah bin Umar, mereka berhenti untuk shalat di beberapa tempat di tepi jalan karena Rasulullah pernah shalat di tempat tersebut.

عَنْ مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ قَالَ: رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنْ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا، وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصَلِّي فِيهَا، وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ. وَحَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الامْكِنَة

Dari Musa bin Uqbah ia berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah selalu menuju beberapa tempat di jalan, lalu shalat di sana. Ia bercerita bahwa ayahnya shalat di sana, dan ia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di tempat-tempat tersebut. Nafi’ bercerita kepadaku dari Ibnu Umar bahwa ia shalat di tempat-tempat tersebut". (Shahih al Bukhari juz 1 hal. 104 no. 483).

Dan pada keterangan hadits tersebut Al Hafidz imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits tersebut merupakan hujjah kebolehan bertabarruk dengan atsar (bekas) atau tempat yang pernah disinggahi orang-orang shalih. Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh Al Murtadho).

Referensi:

Fathul Bari li Ibni Hajar juz 1 hal. 569

ومحصل ذلك أن ابن عمر كان يتبرك بتلك الأماكن، وتشدده في الاتباع مشهور، ولا يعارض ذلك ما ثبت عن أبيه أنه رأى الناس في سفر يتبادرون إلى مكان فسأل عن ذلك فقالوا: قد صلى فيه النبي صلى الله عليه وسلم فقال: من عرضت له الصلاة فليصل وإلا فليمض، فإنما هلك أهل الكتاب، لأنهم تتبعوا آثار أنبيائهم فاتخذوها كنائس وبيعا، لأن ذلك من عمر محمول على أنه كره زيارتهم لمثل ذلك بغير صلاة أو خشي أن يشكل ذلك على من لا يعرف حقيقة الأمر فيظنه واجبا، وكلا الأمرين مأمون من ابن عمر، وقد تقدم حديث عتبان وسؤاله النبي صلى الله عليه وسلم أن يصلي في بيته ليتخذه مصلى وإجابة النبي صلى الله عليه وسلم إلى ذلك فهو حجة في التبرك بآثار الصالحين